Sahabat Sehat, ngga dapat dipungkiri bahwa pemalsuan pangan merupakan hal yang wajib diwaspadai. Pasalnya, pemalsuan pangan masih sering ditemukan akibat perilaku produsen yang ngga bertanggungjawab. Hal ini dapat menjadi ancaman terhadap keamanan pangan dan konsumen.
Sebelum itu, apakah kamu sudah tahu jenis pemalsuan pangan yang termasuk dalam kategori food fraud? Yuk, simak informasinya!

Mengenal food fraud
Nah, food fraud merupakan tindakan kecurangan pangan yang dilakukan dengan tujuan spesifik, yaitu memeroleh keuntungan ekonomi. Menurut SSAFE (Safe and Secure Approaches in Field Environments), terdapat tiga faktor utama yang menjadi penyebab adanya kecurangan pangan (food fraud).
Faktor tersebut, antara lain adanya kesempatan, motivasi ekonomi, dan pengawasan. Pada faktor kesempatan, hal ini berkaitan dengan adanya kemudahan dari segi waktu dan tempat untuk melakukan kecurangan pangan. Pada faktor motivasi ekonomi, berkaitan dengan tujuan melakukan kecurangan pangan yaitu untuk memperoleh keuntungan ekonomi. Sementara pada faktor pengawasan, berkaitan dengan sistem pengendalian kecurangan pangan yang dilakukan oleh produsen maupun pemerintah.
Di sisi lain, kecurangan pangan ini bisa memberikan risiko terhadap keamanan pangan, kerugian ekonomi, rusaknya reputasi perusahaan, dan bahaya terhadap konsumen yang mengonsumsi pangan tersebut. Supaya dapat lebih mengetahui mengenai kecurangan pangan, yuk kenali beberapa jenisnya!
Jenis food fraud
Sahabat Sehat, menurut FAO (Food and Agriculture Organization), terdapat beberapa jenis food fraud, yaitu sebagai berikut:
Pemalsuan (adulteration): Pada jenis ini, kecurangan dilakukan dengan menambahkan bahan yang ngga diperbolehkan ke produk akhir. Contohnya adalah penambahan melamin pada produk susu.
Kesalahan memberi label (mislabelling): Kecurangan dilakukan dengan memberikan informasi produk yang salah pada kemasan. Contohnya adalah kesalahan informasi tanggal kedaluwarsa, metode yang digunakan, dan asal produk.
Over-run: Pada jenis ini, produk yang dijual mengalami proses yang melebihi batasan atau aturan yang berlaku.
Pencurian (theft): Kalau yang satu ini artinya produk yang dijual merupakan produk curian yang dicampur dengan produk legal.
Pengalihan (diveresion): Pada jenis pengalihan, distribusi dan penjualan produk dilakukan di luar pasar yang seharusnya.
Tiruan (simulation): Nah, kalau jenis yang ini berarti produk yang dijual dibuat menyerupai suatu barang atau disebut produk tiruan.
Pemalsuan (counterfeit): Membuat produk replika atau imitasi, baik produk jadi maupun kemasan.
Wah, ternyata banyak sekali ya jenis kecurangan pangan yang mungkin terjadi. Kalau begitu, bagaimana langkah yang bisa kamu ambil untuk mengurangi risiko kecurangan pangan? Check it out!

Bagaimana cara mencegah kecurangan pangan?
Sahabat Sehat, kecurangan pangan merupakan hal yang berbahaya, namun kamu ngga perlu khawatir karena terdapat beberapa hal yang dapat kamu lakukan. Pertama, ketahui apa saja bahan yang digunakan pada proses produksi, misalnya dengan teliti melihat keterangan dan label pada dikemasan. Kedua, identifikasi potensi kecurangan pangan dari bahan baku yang digunakan., misalnya saat harga minyak goreng sedang naik, maka kemungkinan pemalsuan minyak goreng juga semakin tinggi
Ketiga, cek reputasi perusahaan terhadap kasus kecurangan pangan. Kamu mencari tahu melalui berita atau media lainnya untuk mengetahui apakah perusahaan tersebut pernah mengalami kejadian pemalsuan pangan sebelumnya. Kemudian, jika memang sebelumnya pernah terjadi, kamu perlu lebih waspada.
Nah, bagaimana Sahabat Sehat, apakah kamu sekarang sudah ngga bingung lagi tentang kecurangan pangan (food fraud)? Jangan lupa sebarkan informasi ini, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
