Setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam hal makanan. Akan tetapi, tidak sedikit orang tua yang belum mengetahui daftar makanan yang boleh dan tidak boleh bagi anak yang usianya di bawah 1 tahun. Akibatnya, madu yang dikenal bermanfaat juga ikut diberikan. Ada juga tradisi masyarakat yang memberi madu pada bayi baru lahir agar selalu sehat. Akan tetapi, tahukah Sahabat Sehat bahwa pemberian madu pada bayi berusia kurang dari 12 bulan sangat berisiko?

Alasan Bayi Tak Boleh Minum Madu
Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), keputusan orang tua memberikan madu pada bayi adalah karena manfaatnya. Akan tetapi, pemberian madu sebelum anak berusia 1 tahun memang dilarang. Inilah berbagai risikonya.
Keracunan atau Botulisme
Saluran pencernaan bayi sebelum usia 1 tahun belum berkembang optimal. Intensitas asam dalam sistem pencernaannya belum cukup, sehingga belum mampu menangkal racun yang dihasilkan bakteri Clostridium botulinum di dalam madu. Akibatnya, bayi mengalami keracunan serius yang disebut botulisme. Berbeda dengan anak-anak dan orang dewasa yang sistem pencernaannya sudah sempurna dan kadar asamnya cukup, sehingga bisa mengurangi ancaman botulisme tersebut.
Meskipun jarang terjadi, botulisme berakibat fatal dan mengancam nyawa bayi. Bakteri tersebut bisa menyerang syaraf bayi, membuat otot lemah, bahkan lumpuh, serta mengganggu sistem pernapasan. Beberapa gejala botulisme adalah sulit BAB, lemas, susah bernapas dan menelan, serta menangis tidak sekencang biasanya. Umumnya, gejala tersebut muncul sekitar 8-36 jam setelah mengonsumsi madu. Kondisi ini harus segera ditangani dokter untuk mencegah komplikasi.
Kerusakan Gigi
Madu merupakan pemanis yang sehat dan mempunyai beragam manfaat. Akan tetapi, madu tetap tergolong makanan berkadar gula tinggi. Jika diberikan pada bayi di bawah 1 tahun, maka berisiko menimbulkan kerusakan gigi yang baru tumbuh.
Diare
Dr. Charles R. Santerre, Ahli Toksologi dan Ilmuwan Makanan dan anggota FDA (Food Drugs and Administration), menyatakan bahwa meskipun madu adalah makanan sehat dan alami, namun tetap berbahaya untuk bayi di bawah 1 tahun. Salah satu bahayanya adalah menyebabkan diare. Hal ini karena sistem pencernaan bayi yang belum mampu mencerna madu dengan baik.
Obesitas
Bayi yang terbiasa dengan rasa manis akibat pemberian madu ini menjadikannya terus menerus menginginkan makanan manis dan menolak makanan lainnya yang kurang manis. Kelebihan makanan manis tersebut menyebabkan bayi kelebihan berat badan, sehingga berisiko obesitas dan penyakit jantung.

Kapan Boleh Memberikan Madu untuk Bayi?
Selama usia anak belum 12 bulan, hindari memberikan MPASI yang mengandung madu. Aturan tersebut berlaku untuk madu murni ataupun madu olahan. Makanan lain hasil olahan bersama madu juga tidak boleh diberikan. Lalu, kapan waktu yang tepat untuk memberikan madu?
Berdasarkan ikatan dokter anak di Amerika Serikat, American Academy of Pediatrics (AAP), waktu paling aman untuk memberikan madu pada bayi adalah saat usianya di atas 12 bulan atau 1 tahun. AAP Pediatric Nutrition Handbook mencantumkan bahwa bayi di bawah 12 bulan harus menghindari berbagai sumber madu, sehingga apapun yang mengandung madu harus dihindari.
Setelah bayi berusia 1 tahun atau lebih, Sahabat Sehat dapat memberikan madu dengan berbagai cara. Kamu bisa menambahkan sedikit madu pada makanan atau minuman anak, misalnya mengoleskannya pada roti dan biskuit atau mencampurkannya dalam susu hangat atau smoothie. Berikan sajian tersebut sekali saja, kemudian tunggu setidaknya 4 hari sebelum diberikan lagi. Jeda tersebut berguna untuk mengamati apakah si kecil menyukainya dan apakah ada gejala yang timbul akibat mengonsumsi madu.
Dengan berbagai alasan yang disebutkan di atas, hindarilah pemberian madu saat usia si kecil masih di bawah 1 tahun. Jika ingin mengenalkan rasa manis atau memberikan variasi rasa pada MPASI, Sahabat Sehat bisa menggunakan sari buah sebagai pengganti madu.
su_accordion]
[/su_accordion] Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
