Tuberkulosis atau TBC adalah salah satu penyakit menular yang timbul karena bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini utamanya menyerang paru, tetapi ngga menutup kemungkinan untuk menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, kelenjar getah bening, kulit, selaput otak, tulang, dan usus.
Sahabat Sehat, TBC ngga hanya ditemukan pada usia dewasa, loh! Anak juga berisiko atas penyakit ini. Oleh itu, apabila anak didiagnosis menderita penyakit TBC, maka sangatlah diperlukan peran orang tua dalam mendukung suksesnya perawatan anak dengan TBC. Nah sebelum itu, orang tua juga disarankan untuk mencermati gejala khas TBC pada anak yang agak sulit dikenali dan berbeda dengan gejala TBC pada orang dewasa.

Gejala khas TBC pada anak
Gejala khas yang didapati pada anak penderita TBC, diantaranya anak lesu dan kurang aktif bermain, demam lama lebih dari 2 minggu atau berulang tanpa sebab yang jelas. Biasanya suhu demam pada gejala TBC anak ngga tinggi, anak mengalami batuk terus-menerus dalam waktu yang lama (lebih dari 3 minggu) yang ngga membaik dengan pemberian antibiotik atau obat lain, serta berat badan anak turun atau ngga naik dalam 2 bulan terakhir yang ngga membaik dengan asupan gizi yang baik.
Sahabat Sehat, jika kedapatan satu atau lebih gejala TBC pada anak, segeralah periksakan anak ke dokter di puskesmas terdekat. Penentukan anak mengidap TBC harus melalui beberapa pemeriksaan tambahan berikut pada anak, seperti foto rontgen dada, uji tuberkulin atau tes Mantoux, dan pemeriksaan dahak menggunakan Mikroskopis atau Tes Cepat Molekuler (TCM).
Apa yang harus dilakukan orang tua?
Setiap orang tua pastinya menginginkan anaknya senantiasa sehat. Tapi, saat anak dinyatakan menderita penyakit TBC diharapkan orang tua menerima keadaan sang anak dan mendukung pengobatan yang diperlukan.
Orang tua perlu mendampingi anak untuk minum obat secara rutin. Bila anak sudah bisa minum obat sendiri, tetap awasi supaya anak ngga melewatkan jadwal minum obat dengan dosis yang tepat sesuai anjuran dokter.
Selain mengawasi saat memberikan obat, orang tua juga perlu memperhatikan efek samping obat yang diberikan pada anak, seperti mual muntah, ngga nafsu makan, kesemutan, kulit dan mata kuning tanpa sebab lain, gatal, serta kemerahan kulit. Periksakan anak ke puskesmas setiap 2 minggu sekali pada fase intensif dan sebulan sekali selama fase lanjutan untuk mengetahui kemajuan pengobatannya oleh petugas.

Tips mendampingi anak minum obat
Orang tua perlu bersabar dan telaten dalam mendampingi anak minum obat secara teratur, mengingat pengobatan TBC berlangsung selama 6 bulan. Supaya anak mau minum obat, pemberiannya bisa dilakukan bersamaan dengan buah atau kue yang disukai anak. Bisa juga dengan menggunakan kalender dan reward chart untuk mengatur dan memotivasi anak minum obat. Selain obat, perhatikan pula pola makan anak, supaya mendapatkan asupan yang bergizi seimbang. Ngga lupa ingatkan anak untuk pakai masker.
Sahabat Sehat, peran orang tua dalam mendorong anak dengan TBC untuk melakukan pengobatan dan perawatan TBC yang tepat juga sampai tuntas sangatlah krusial. Kalau ngga sampai tuntas, bakteri penyakit ini akan kebal terhadap obat dan sulit untuk disembukan.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
