Stunting Bisa Sebabkan Obesitas loh!

Sahabat Sehat, saat ini Indonesia mengalami triple beban malnutrisi. Masalah kekurangan gizi, seperti wasting dan stunting masih banyak terjadi, serta masalah kekurangan zat gizi mikro seperti anemia juga tinggi. Di sisi lain, ngga sedikit pula yang mengalami kelebihan gizi, seperti obesitas.

Idealnya seorang anak balita yang sedang dalam masa pertumbuhan akan mengalami penambahan tinggi dan berat badan proporsional sesuai usianya. Tapi, anak stunting atau pendek selain mengalami masalah pertumbuhan tinggi badan terhambat, ternyata berisiko mengalami masalah kelebihan berat badan sehingga anak cenderung menjadi pendek dan gemuk. Benarkah demikian?

anak stunting berisiko obeistas

Mengapa jadi pendek dan gemuk?

Stunting merupakan kondisi ketika seseorang mengalami kekurangan gizi kronis, biasanya ditandai dengan tinggi badan kurang dari teman seusianya menurut standar WHO.

Anak stunting berisiko mengalami masalah kelebihan berat badan jika penanganannya ngga tepat. Hasil analisis Riskesdas tahun 2007-2013 menunjukkan bahwa anak pendek di Indonesia memiliki risiko 2,54 kali untuk menjadi gemuk dibandingkan anak dengan tinggi badan normal. Hasil ini diperoleh setelah dikoreksi oleh faktor sosial ekonomi, jenis kelamin anak, pendidikan ayah dan status gizi ayah.

Begitupula hasil survei di negara-negara Arab yang menemukan bahwa risiko terjadinya kegemukan pada anak pendek berkisar 2.14 sampai 3.85 kali. Besarnya kemungkinan anak pendek untuk menjadi gemuk bila dibandingkan dengan anak yang memiliki tinggi badan normal mengakibatkan anak cenderung pendek dan gemuk.

Penyebab obesitas pada anak stunting

Penyebab terjadinya peningkatan kelebihan berat badan yang dihubungkan dengan stunting di negara berkembang, biasanya merupakan akibat kurangnya aktifitas fisik dan peningkatan asupan tinggi lemak. Selain itu, bisa juga karena kekurangan gizi kronis di awal kehidupan. Jika seperti itu, efek buruk dari anak pendek dan gemuk terjadi sejak dalam kandungan dan kemungkinan  akan terus terjadi setelah lahir. Hal ini terkait dengan metode pemberian makan dan penyapihan yang membentuk daya terima makanan dan kebiasaan makan anak hingga dewasa.

Beberapa penelitian menyebutkan adanya perubahan metabolik pada anak yang mengalami kekurangan gizi pada semua jaringan dan sistem tubuh. Perubahan ini dikaitkan dengan penghematan energi dan upaya mempertahankan laju metabolisme yang menyebabkan terjadi gangguan regulasi asupan makanan. Dengan begitu, anak rentan menjadi gemar mengonsumsi diet tinggi lemak. Akibatnya energi dari makanan ini lama kelamaan menyebabkan terjadinya timbunan lemak terutama di bagian perut.

risiko dari stunting dan obesitas
Foto: Pexels.com

Bagaimana dampakanya?

Kebiasaan mengonsumsi diet tinggi lemak bisa saja terbawa hingga anak menjadi dewasa. Sahabat Sehat mungkin juga sudah mengetahui bahwa kegemukan berisiko menyebabkan diabetes tipe 2, penyakit hati, hipertensi, gangguan pernapasan saat tidur, penurunan kinerja sosial, dan ekonomi dalam kehidupan dewasa.

Pencegahan dan penanganannya

Cara pencegahan yang dilakukan supaya balita stunting ngga berisiko menjadi gemuk, yaitu dengan melakukan pemantauan pertumbuhan secara rutin di posyandu maupun puskesmas. Melalui Kartu Menuju Sehat (KMS), dapat dideteksi jika balita mengalami gangguan pertumbuhan.

Pemeriksaan ke dokter anak juga penting untuk memastikan penyebab pendek dikarenakan gangguan hormon pertumbuhan, keturunan atau malnutrisi kronis sehingga penanganannya juga berbeda.

Intervensi untuk anak pendek karena malnutrisi adalah memperbaiki status gizinya dengan penatalaksanaan gizi yang tepat, pemberian makanan tinggi protein, cukup tidur dan istirahat. Penanganannya pun sebaiknya dilakukan sebelum anak berusia dua tahun.

Sahabat Sehat, diperlukan upaya percepatan perbaikan gizi balita yang menyeluruh dengan koordinasi dan sinergi antara setiap program dan sektor terkait, dengan begitu malnutrisi pada anak dapat diatasi.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Utami, Nur H., and Dwi Sisca. “Resiko Terjadinya Kegemukan Pada Anak Usia 3-5 Tahun Dengan Status Gizi Pendek Di Indonesia.” Jurnal Ekologi Kesehatan, vol. 14, no. 3, 2015, pp. 273-283. https://www.neliti.com/id/publications/82080/resiko-terjadinya-kegemukan-pada-anak-usia-3-5-tahun-dengan-status-gizi-pendek-d#cite

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.