Cuaca panas dalam beberapa bulan terakhir ini cukup mengganggu kenyamanan. Di malam hari pun, suhu panas masih terasa hingga membuat kualitas tidur menurun. Selain menggunakan AC, banyak orang mencari kesejukan dengan menghidupkan kipas angin saat tidur. Dengan demikian, tidur dengan kipas angin sudah menjadi kebiasaan.

Risiko Tidur Menggunakan Kipas Angin
Tidur dengan kipas angin menyala memang mendatangkan kesejukan dan meningkatkan kenyamanan. Akan tetapi, kipas angin yang menyala sepanjang malam tentu berisiko untuk kesehatan. Sahabat Sehat harus waspada, terlebih jika memiliki alergi dan asma. Pasalnya, kipas angin mengedarkan partikel debu dan alergen lainnya yang menyebabkan iritasi. Berikut ini lima risiko yang mengancam jika tidur dengan kipas angin.
Membuat Mata dan Kulit Kering
Tidur dengan menyalakan kipas angin membuat mata dan kulit kering. Mata kering mudah mengalami iritasi, sedangkan kulit kering rentan terinfeksi kuman dan patogen penyebab penyakit lainnya. Garis kulitmu jadi lebih terlihat, sehingga tampak lebih tua. Gunakanlah pelembab atau losion agar kulit lembap.
Menimbulkan Nyeri Otot dan Pegal Linu
Paparan udara dari kipas berisiko menyebabkan otot tegang dan kram. Alih-alih membuat badan segar karena sejuk, mengarahkan kipas ke area wajah dan leher menyebabkan leher kaku dan badan pegal linu.
Memicu Reaksi Alergi
Kipas angin berpotensi mengedarkan debu, tungau, dan alergen lainnya di dalam kamar. Alergen memicu reaksi alergi, seperti hidung dan berair, bersin, tenggorokan gatal, maupun gangguan pernapasan. Alergen juga memperburuk asma ataupun alergi yang diderita, seperti alergi debu atau alergi dingin.
Merangsang Produksi Lendir Berlebih
Jika kipas mengarah ke wajah, maka menyebabkan wajah kering. Tubuh meresponnya dengan memproduksi lendir di jaringan mukosa, namun berlebihan. Kelebihan lendir menyebabkan hidung tersumbat, gatal pada hidung, tenggorokan sakit, dan muncul sensasi terbakar.
Berisiko Terkena Bell’s Palsy
Udara dingin dari kipas angin dapat memicu Bell’s Palsy yaitu penyakit yang melumpuhkan sistem saraf wajah. Gejalanya adalah pembengkakan wajah di area tertentu, sehingga tidak leluasa berekspresi, seperti tersenyum atau tertawa.

Tips Aman Tidur dengan Kipas Angin
Mengingat berbagai risiko tersebut, Sahabat Sehat perlu mengurangi tidur dengan kipas angin. Kadangkala, kamu bisa tidur tanpa kipas. Sebelum tidur, kamu bisa mengurangi suhu panas di malam hari dengan mandi pakai air dingin atau memercikkan air dingin ke leher dan wajah. Penuhi kebutuhan cairan agar tidak dehidrasi. Akan tetapi, jika suhu panas tidak tertahankan di malam hari, maka perlu memperhatikan beberapa hal.
Pertama, hindari mengarahkan kipas angin ke bagian wajah dan dada agar kulit tidak kering ataupun mengganggu pernapasan. Kedua, atur kecepatannya agar tidak terlalu kencang. Ketiga, nyalakan fitur osilasi agar embusan angin berputar ke kanan dan kiri.
Sahabat Sehat juga bisa menggunakan air purifier dan humidifier di dalam kamar guna membersihkan partikel debu dan kotoran. Jangan lupa, rutin bersihkan kipas agar tidak mengedarkan debu. Nah, supaya kipas tidak menyala sepanjang malam, gunakan pengatur waktu.
Sahabat Sehat tetap bisa tidur dengan menyalakan kipas angin dan merapkan tips di atas untuk meminimalisasi terjadinya risiko kesehatan. Mekipun demikian, penderita asma dan alergi disarankan menggunakan AC dengan suhu yang sesuai karena kipas angin lebih berpotensi memperparah kondisi.
