Waspada Lepra, Infeksi Menular Tak Biasa

Lepra atau biasa dikenal dengan penyakit kusta merupakan infeksi kronik yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae dengan ditandai munculnya tanda dan gejala klinis. Proses rantai penularan penyakit ini melibatkan berbagai faktor, seperti pejamu (host), kuman atau bakteri (agent) dan lingkungan.

Angka kejadian penyakit kusta terbanyak ditemui pada negara tropis, dan Indonesia menempati posisi ketiga sesudah negara India dan Brazil dalam jumlah kasus baru yang diemukan dalam waktu setahun.

Lantas, mengapa kusta disebut penyakit infeksi yang ngga biasa? Yuk, telaah lebih lanjut mengenai penyakit ini.

pengobatan penyakit lepra
Foto: Freepik.com

Lepra dan ragam risikonya pada tubuh manusia

Mycobacterium leprae memiliki masa inkubasi sekitar dua hingga lima tahun, bisa juga bertahun-tahun. Kuman yang berasal dari sekret hidung ini bisa bertahan hingga Sembilan hari di luar tubuh manusia. Sumber penularan utama adalah saluran pernapasan (batuk) karena terbukti kuman ini banyak ditemukan pada mukosa hidung manusia.

Kusta adalah masalah kesehatan yang memiliki risiko timbulnya disabilitas akibat kerusakan saraf pada mata, tangan, atau kaki. Saraf rusak yang terjadi dalam kurun waktu enam bulan dan segera diberikan pengobatan secara tepat, maka ngga akan terjadi kerusakan saraf yang permanen. Sebaliknya, bila disabilitas permanen sudah terjadi, upaya yang bisa dilakukan adalah rehabilitasi medis.

Gejala klinis yang dijumpai pada penyandang lepra adalah bercak putih yang tersebar dalam beberapa bagian tubuh. Bercak ini memang ngga berasa sehingga seringkali dianggap biasa saja oleh banyak orang. Namun, setiap orang ditemukan mengalami gejala yang berbeda, seperti bercak merah, terdapat benjolan di lengan, wajah, badan dan telinga.

Bila kusta terlambat ditangani, maka dapat menjadi sumber penularan. Meski menular, lepra sebenarnya ngga mudah menular. Hal ini didasari oleh faktor kontak antara penderita dan orang lain yang membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa tertular.

penyakit lepra
Foto: aho.org

Mengenal jenis pengobatan kusta

Tujuan pengobatan kusta adalah memutus rantai penularan, mencegah terjadinya kecacatan atau meminimalisir keparahan kecacatan, menangani komplikasi hingga meningkatkan kualitas hidup pasien. Obat kusta secara efektif bisa diberikan melalui regimentasi multi drug treatment (MDT) yang diminum selama enam bulan untuk tipe pausibasiler (PB) dan dua belas bulan untuk multibasiler (MB) sesuai kelompok usia pasien.

MDT dapat diperoleh di fasilitas kesehatan milik pemerintah, seperti puskesmas secara gratis. Jenis obatnya yaitu rifampisin yang bersifat bakteriosidal yang kuat, sedangkan anti kusta lainnya, Dapson sebagai bakteriostatik.

Sahabat Sehat, penemuan kusta lebih awal akan membantu menekan angka penularan dan komplikasi lebih lanjut. Pengobatan yang berjalan secara maksimal pun tentunya tak lepas dari munculnya efek samping yang perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi serta penanganannya. Konsultasikan segera pada dokter yang merawat, ya. Salam sehat!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Permenkes No. 11. 2019. Penanggulangan Kusta. Kemenkes RI

Kemkes. 2019. Waspada Kusta, Kenali Cirinya. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20190207/4829334/waspada-kusta-kenali-cirinya/ . Diakses 27 Januari 2022

FKUI. 2019. Mengenal Kusta, Penyakit Menular yang Sering Dianggap Hasill Guna-Guna. https://fk.ui.ac.id/infosehat/mengenal-kusta-penyakit-menular-yang-sering-dianggap-hasil-guna-guna/. Diakses 27 Januari 2022

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.