
Zat besi merupakan salah satu mineral penting yang diperlukan oleh tubuh, terutama dalam pembentukan hemoglobin yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Tubuh yang mengalami kekurangan zat besi bisa menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi. Teman Sehat, tahukah kamu? Zat besi dalam makanan bisa dijumpai dalam dua bentuk, yaitu heme dan nonheme. Apa bedanya? Yuk cari tahu di sini!
Zat Besi Heme dan Nonheme
Terdapat dua bentuk zat besi yang ada dalam makanan, yaitu heme dan nonheme. Zat besi heme (heme iron) biasa dijumpai pada makanan hewani, seperti daging sapi, unggas, dan ikan.
Makanan tersebut bisa mengandung sekitar 55-70% total kandungan zat besi dalam bentuk hemoglobin dan mioglobin. Ternyata, lebih dari 95% zat besi fungsional yang ada dalam tubuh manusia adalah jenis heme.
Sedangkan zat besi nonheme (nonheme iron) bersumber dari bahan makanan nonhewani atau dari tanaman, seperti kacang-kacangan, sereal, dan roti. Zat besi pada makanan fortifikasi dan suplemen biasanya juga merupakan zat besi nonheme.
Berikut ini beberapa bahan makanan sumber zat besi heme dan nonheme:
Sumber zat besi heme:
- daging sapi
- daging unggas
- ikan
- hati sapi/hati ayam
- seafood (tiram, kerang, dll)
Sumber zat besi nonheme:
- kacang-kacangan, seperti kacang kedelai, kacang polong, kacang hijau
- bayam
- sawi
- brokoli
- biji-bijian
- kentang dengan kulit
- sereal terfortifikasi
Bagaimana penyerapannya?
Proses penyerapan zat besi banyak terjadi di usus halus, tepatnya di bagian usus dua belas jari (duodenum) dan usus kosong (jejunum proksimal). Selain sumber makanan, zat besi heme dan nonheme juga memiliki perbedaan dalam penyerapannya di dalam tubuh loh!
Zat besi heme lebih mudah diserap tubuh dibanding nonheme. Hal ini terjadi karena terdapat transporter (pengangkut) spesifik heme yang ngga bisa digunakan zat besi nonheme. Transporter ini memungkinkan zat besi heme untuk bisa langsung melewati membran sel dan masuk ke aliran darah.

Hanya sekitar 2-20% zat besi nonheme yang bisa diserap oleh tubuh, sedangkan zat besi heme yang terserap bisa mencapai 15-35%. Daya serapnya yang tinggi, membuat zat besi heme bisa berkontribusi hingga 40% terhadap total zat besi yang diserap oleh tubuh.
Meskipun kandungan zat besi kacang kedelai lebih besar daripada daging sapi, zat besi yang bisa diserap dari daging sapi lebih besar. Tapi ada banyak faktor lainnya yang juga memeprngaruhi penyerapan zat besi loh!
Kandungan lain dalam makanan yang dikonsumsi ternyata juga berpengaruh dalam penyerapan zat besi, seperti misalnya asam organik, asam fitat, tanin, dan lainnya
Mana yang Lebih Baik?
Pada penderita anemia defisiensi besi, lebih disarankan untuk banyak mengonsumsi sumber makanan zat besi heme, tentu saja karena penyerapannya yang lebih baik. Tapi bukan berarti zat besi nonheme ngga diperlukan tubuh ya!
Pada dasarnya zat besi merupakan mikronutrien yang diperlukan oleh tubuh, terlebih bagi mereka yang mengalami anemia. Oleh karena itu, baik zat besi yang berasal dari hewani atau nabati tetap perlu dipenuhi ya!
Nah, itu dia perbedaan dari zat besi heme dan nonheme. Jangan lupa untuk selalu mengonsumsi makanan bergizi seimbang ya, Teman Sehat. Semoga artikel ini bermanfaat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
