Asma merupakan penyakit kronis yang menyerang saluran pernapasan dan sangat sulit untuk disembuhkan secara sempurna. Penyakit asma ngga memandang usia dan bisa dialami oleh anak-anak hingga dewasa. Tapi umumnya penyakit ini sering menyerang usia anak. Di Indonesia 2,4% anak usia 1-4 tahun dan 2% anak usia 5-14 tahun mengalami asma.
Sahabat Sehat, ada beberapa hal yang menjadi faktor risiko kambuhnya asma pada anak. Berikut ini diantaranya.

Obesitas
Obesitas atau kelebihan berat badan bisa menjadi pencetus kekambuhan asma pada anak. Kondisi ini bisa mempengaruhi peningkatan mediator inflamasi dan gangguan mekanik, termsuk perubahan volume paru-paru. Obesitas juga berisiko menyebabkan adanya gangguan saluran napas berupa inflmasi kronik yang menimbulkan efek seperti mengi (napas berbunyi) berulang, adanya rasa seperti dada tertekan, sesak napas, dan batuk. Biasanya gejala ini sering terjadi di malam hari.
Kontak dengan hewan peliharaan
Hewan peliharaan sering kali menjadi teman yang baik untuk anak. Sayangnya, kontak dengan hewan malah bisa menimbulkan interakasi yang memicu timbulnya gejala pada seseorang dengan asma. Seorang anak yang sering melakukan kontak dengan hewan peliharaan, seperti kucing dan anjing berisiko 6,2 kali untuk mengalami gejala asma dibandingkan dengan yang ngga melakukan kontak.
Asap rokok
Anak terpapar asap rolol dari lingkungan sekitarnya atau dari keluarga yang merupakan perokok aktif. Ternyata, paparan asap rokok ini bisa menimbulkan gejala asma secara berulang. Hal ini terjadi lataran kandungan zat beracun pada rokok bisa menjadi penyebab terjadinya peradangan di saluran napas dan menimbulkan sesak.

Seseorang yang merokok hendaknya lebih berhati-hati lagi saat merokok di area rumah. Tindakan tersebut ngga hanya mengancam kesehatan si perokok, tetapi juga anggota keluarga lainnya terutama yang mengalami asma.
Perubahan cuaca
Perubahan cuaca yang ekstrem menjadi salah satu penyebab kambuhnya gejala asma. Saat anak menghirup udara dingin dan kering, udara tersebut harus dihangatkan serta dijenihkan dengan uap air terlebih dahulu sebelum masuk dalam paru-paru. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan bronkokonstriksi, yaitu kontraksi otot polos dari bronkus yang dapat menimbulkan penyempitan saluran udara dari dan ke paru-paru.
Debu
Salah satu alergen yang paling sering dijumpai anak adalah debu. Kondisi rumah yang ngga dibersihkan dengan rutin menyebabkan debu bisa terlempel di berbagai perabotan, sehingga sangat mudah terhirup oleh anak. Debu yang menempel pada jendela, kipas angin, serta langit-langit rumah dapat menjadi faktor penyebab serangan asma pada anak.
Setiap tanggal 5 Mei diperingati sebagai “World Asthma Day” yang menjadi pengingat bahwa sangat penting untuk menjaga kesehatan pernapasan, termasuk dari asma. Mengetahui apa saja penyebab munculnya gejala, dapat menjadi langkah terdepan untuk melindungi diri dan anak dari serangan asma. Semoga informasi ini bermanfaat, Sahabat Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
