Halo Teman Sehat! Seringkah kamu saat sedang mengerjakan tugas atau pekerjaan jadi lebih tertarik memeriksa social media? Kamu sadar betul bahwa menyelesaikan pekerjaan adalah kewajibanmu, tetapi kamu tetap memilih buat menunda pekerjaan tersebut. Benarkah hal tersebut berarti kamu ngga bisa mengatur waktu?

Alasan dibalik menunda
Menurut seorang professor psikologi, Dr. Fuschia Sirois, menunda pekerjaan adalah hal yang irrasional/ngga masuk akal dan orang-orang yang terjebak di siklus menunda secara kronis disebabkan oleh ketidakmampuan untuk mengelola mood negatif dalam mengerjakan tugas. Dr. Tim Pychyl, juga mengatakan bahwa menunda adalah masalah dalam mengelola emosi bukan masalah mengelola waktu.
Keengganan dalam mengerjakan tugas bisa disebabkan oleh hal yang kurang menyenangkan dengan tugas tersebut. Misalnya, kamu harus membaca materi ujian yang banyak dari dosenmu. Bisa juga karena alasan yang lebih dalam tentang tugas tersebut seperti meragukan kemampuan diri, kecemasan, atau perasaan rendah diri. Misalnya kamu berpikir,”Bisa ngga ya aku melakukan tugas ini? Bagaimana kalau hasilnya ngga bagus?” Hal-hal tersebut pada akhirnya bisa mengarahkanmu untuk lebih memilih membuka social media daripada menyelesaikan tugasmu.
Hati-hati terjebak siklus menunda
Setelah menunda, orang-orang cenderung menyalahkan diri sendiri. Dr. Sirois mengatakan bahwa pikiran tentang penundaan tersebut biasanya memperburuk kesulitan dan stres, yang berkontribusi pada penundaan lebih lanjut. Hal yang membuat siklus menunda lebih buruk adalah kelegaan sesaat setelah menunda. Ketika kelegaan tersebut kamu rasakan, seolah-olah dirimu diberi penghargaan oleh dirimu sendiri karena telah menunda. Perilaku dasar manusia jika diberi penghargaan untuk sesuatu, manusia cenderung melakukannya lagi. Hal inilah yang membuat menunda menjadi sebuah siklus dan bisa menjadi kebiasaan. Kebiasaan menunda ini jika diteruskan akan menjadi parah dan bisa menimbulkan beberapa efek, seperti:
- Stress kronis
- Tekanan psikologis umum dan kepuasan hidup yang rendah
- Gejala depresi dan kecemasan
- Perilaku kesehatan yang buruk
- Penyakit kronis
- Hipertensi dan penyakit kardiovaskular
Gimana agar menunda ngga jadi kebiasaan?

Seperti yang dijelaskan bahwa penundaan bukan masalah tentang produktivitas tetapi masalah mengelola emosi, maka solusinya datang dari dirimu. Kamu mungkin bisa mencoba hal-hal ini agar ngga terjebak siklus menunda:
- Memaafkan dirimu ketika kamu menunda pekerjaan: Studi tahun 2010 menunjukkan bahwa murid-murid yang bisa memaafkan dirinya karena menunda belajar pada sebuah ujian menjadi cenderung lebih sedikit menunda belajar pada ujian selanjutnya. Mereka menyimpulkan bahwa memaafkan diri memungkinkan individu untuk fokus pada hal yang akan datang tanpa beban tindakan masa lalu.
- Melatih welas asih: yaitu memperlakukan dirimu sendiri dengan baik dan lebih pengertian terhadap dirimu saat menghadapi kesalahan dan kegagalan. Studi di tahun 2012 mempelajari tentang hubungan antara stres, welas asih dan penundaan. Dr. Sirois menemukan bahwa orang yang suka menunda cenderung memiliki stres yang tinggi dan welas asih yang rendah.
- Mulai saja dahulu! Suatu waktu kamu tergoda untuk menunda, fokuskan pada langkah sederhana apa yang bisa kamu lakukan untuk memulai mengerjakan tugasmu sekarang. Dr. Pychyl mengatakan bahwa penelitian dan pengalaman menunjukkan bahwa begitu kamu memulai, kamu biasanya bisa melanjutkan.
Nah, Teman Sehat yuk mulai sekarang perbaiki kebiasaan menunda-nunda! Memulai kebiasaan baik memang lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tetapi bukan berarti ngga bisa sama sekali ya. Tetap semangat!
Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

