Teman Sehat, kekurangan zat besi menjadi salah satu kasus kekurangan zat gizi mikro yang paling sering terjadi di dunia dan bisa dialami semua usia. Tahukah kamu apa dampak kekurangan zat besi? Yuk, simak informasinya!
Sering dialami balita
Usia 6-24 bulan menjadi salah satu kelompok usia yang paling berisiko mengalami kekurangan zat besi. Hal ini dikarenakan pada usia tersebut anak sudah lepas dari ASI dan mulai mengonsumsi MPASI.
Kecukupan asupan zat besi tergantung pada variasi makanan yang diberikan pada MPASI. Kebutuhan zat gizi harian berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) 2019 yaitu 0,3 mg pada usia 0-5 bulan, 11 mg pada usia 6-11 bulan, dan 7 mg pada usia 1-3 tahun.

Apa dampak kekurangan zat besi?
Kekurangan zat gizi besi bisa menimbulkan penyakit kekurangan darah yang dikenal sebagai anemia gizi besi. Balita dengan tinggat kecukupan asupan zat besi rendah (<77% AKG), memiliki risiko ADB sebanyak 3 kali lebih besar dibandingkan balita dengan asupan zat besi normal.
Hasil survei kesehatan rumah tangga (SKRT) melaporkan anemia gizi besi pada kelompok usia balita sebanyak 48,1% dan bisa memberikan efek negatif pada pertumbuhan dan perkembangannya, seperti:
- Menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi
- Menyebabkan gangguan pertumbuhan organ akibat kurangnya asupan oksigen ke jaringan berkurang
- Menurunkan daya konsentrasi dan prestasi belajar pada anak
Perlu diketahui bahwa gejala anemia ringan ngga terlihat jelas. Tapi, ada beberapa tanda untuk mengetahui seseorang mengalami kekurangan zat besi, yaitu tidak nafsu makan, kulit pucat, kurang aktif, dan pertumbuhan berat badan yang lambat.
Cara mendeteksinya
Cara yang bisa dilakukan yaitu dengan screening kekurangan zat besi. The American Academy of Pediatrics (AAP) dan World Health Organization (WHO) merekomendasikan untuk cek kadar Hemoglobin (Hb) dan Hematokrit (Ht) dalam darah setiap setahun sekali sejak usia 1 tahun.
Selain itu, juga dianjurkan cek kadar Hb setidaknya satu kali saat usia 9-12 tahun dan diulang 6 bulan kemudian (usia 15-18 bulan). Bisa juga dilakukan pemeriksaan tambahan setiap 1 tahun sekali saat usia 2-5 tahun. Beberapa kelompok anak yang berisiko tinggi terkena anemia gizi besi, yaitu:
- Bayi yang lahir dengan kondisi prematur
- Bayi dengan berat lahir rendah
- Tidak diberikan suplementasi zat besi pada usia 6 bulan pertama
- Riwayat mendapat perawatan lama di unit perinatologi
- Mengalami infeksi kronis, berasal dari etnik tertentu yang sering mengalami anemia
- Anak dengan riwayat pendarahan
Cara mencegah anemia gizi besi
Terdapat berbagai cara untuk mencegah anemia gizi besi, yaitu:
- Mengonsumsi makanan yang banyak mengandung zat besi seperti hati, ikan, dan daging
- Memberikan suplemen zat besi sejak bayi hingga remaja
- Memberikan ASI eksklusif
- Menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi bakteri/parasit sebagai salah satu penyebab kekurangan zat besi
Teman Sehat, itulah dampak kekurangan zat gizi besi pada anak. Yuk, mulai perhatikan asupan zat gizi pada anak supaya bisa tumbuh sehat untuk mencipakan generasi penerus bangsa yang lebih baik.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
