Begini Upaya Pencegahan Stunting di Daerah

Sahabat Sehat mungkin sudah ngga asing lagi dengan stunting. Permasalahan gizi yang satu ini cukup serius. Hingga saat ini diperkirakan sekitar 30% anak Indonesia masih mengalaminya.

Dalam sambutan Webinar PERGIZI PANGAN Seri 64, Prof Dr Ahmad Sulaeman MS selaku Sekretaris Jenderal PERGIZI PANGAN Indonesia menyatakan pendapatnya mengenai permasalah stunting di Indonesia.

“Jika permasalahan stunting terus terjadi, upaya untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia bisa terganggu. Begitu juga dengan masalah ekonomi. Sekitar 2-3% GMP akan habis unuk masalah stunting dan 11% masalah kesehatan disebabkan oleh masalah gizi buruk. Begitu juga dengan prestasi olahraga yang juga terdampak oleh masalah ini.”

Upaya Pemerintah dalam Menurunkan Stunting

Ir Eppy Lugiarti MP, Plt Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan Kemendes RI, menyampaikan. “Kita sudah punya regulasi yang menjadi acuan dalam merancang strategi penurunan stunting yaitu Perpres No 72 Tahun 2021”

Pemerintah sendiri menargetkan bisa mencapai angka pravelensi stunting sebesar 14% pada tahun 2024. Tentunya ini bukanlah hal yang mudah karena stunting ngga hanya melibatkan sektor gizi, melainkan juga adanya faktor kemiskinan, pola asuh dan kesehatan. Oleh karena itu, diperlukan kerjasama yang baik dari berbagai sektor terkait.

“Diharapkan pada tahun 2024 mendatang 90% masyarakat dari total 74.961 desa yang ada di Indonesia bisa mendapatkan layanan intervensi Spesifik maupun Sensitif.“ jelas Ir Eppy Lugiarti.

Konvergensi berbagai program pencegahan stunting di daerah, webinar pergizi pangan
Foto: Linisehat

Peran Pemerintah Daerah

Kabupaten Karawang menjadi salah satu wilayah yang memiliki progres penurunan angka stunting yang cukup baik. Pada tahun 2018 Kabupaten Karawang memiliki angka pravalensi stunting 12.3%. Kemudian pada tahun 2019 dan 2020 mengalami penurunan mencapai angka 2,8% dan 2,7%.

Selain turut berupaya dalam menyukseskan program penurunan angka stunting nasional di tahun 2024, melalui program penanganan stunting, Kabupaten Karawang menargetkan bisa mencapai Jabar Zero New Stunting dengan angka pravalensi 19,2% pada tahun 2023.  Hal ini dilakukan dengan menjadikan 1000 HPK sebagai sasaran primer, remaja putri usia 12-18 tahun sebagai sasaran sekunder dan masyarakat umum khususnya keluarga sebagai sasaran tersier.

Namun, Dr Endang Suryadi selaku Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, menyampaikan masih adanya kendala dalam pelaksaan program penurunan stunting. “Tantangannya berupa intervensi stunting yang belum terintegrasi, kemudian juga masih banyak kebijakan dan program yang belum diterjemahkan dengan baik dalam pelaksanaannya. Ditambah lagi kapasitas pelaksana yang bisa dibiling masih lemah terutama pada tingkat kecamatan dan desa” jelas Dr Endang.

Peran akademisi

Selain pemerintah, akademisi juga memiliki peran penting dalam upaya penurunan angka stunting di Indonesia. Salah satunya melalui kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM)

“Dosen dan mahasiswa diberikan kesempatan untuk bisa terjun langsung dalam mendampingi masyarakat melalui kebijakan MBKM. Seperti pada program Desa Mandiri/NAGARI “TAGEH” Universitas Andalas yang memasukan upaya pencegahan masalah gizi kronis (stunting) sebagai salah satu ruang lingkup dari MBKM.” Jelas Dr Denas Symond MCN MKes, Dosen Gizi FKM Universitas Andalas.

Dr Denas juga menambahkan, “Kegiatan praktik dan penelitian dosen bisa diterapkan dalam desa melalui fokus-fokus yang telah disepakati bersama.”

Konvergensi berbagai program pencegahan stunting di daerah
Foto: Linisehat

Upaya mengatasi permasalahan stunting memang menjadi tanggung jawab kita bersama. Termasuk Sahabat Sehat yang bisa turut membagikan informasi seputar stunting dan pencegahannya kepada orang-orang terdekat. Jangan lupa nantikan pembahasan topik menarik seputar gizi, pangan dan kesehatan lainnya dalam Webinar Seri PERGIZI PANGAN berikutnya.

Referensi
Webinar PERGIZI PANGAN Seri 64: Konvergensi Berbagai Program Pencegahan Stunting di Daerah. Narasumber:
Ir Eppy Lugiarti MP, Plt Direktur Pengembangan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan Kemendes RI (Program dan Konvergensi Pencegahan Stunting di Tingkat Desa)

Dr Endang Suryadi, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Karawang, Jawa Barat  (Program Percepatan Pencegahan Stunting pada Tingkat Puskesmas dan Posyandu) 
Dr Denas Symond MCN MKes, Dosen Gizi FKM Universitas Andalas & Ketua DPD PERGIZI PANGAN Sumatera Barat (Peran Perguruan Tinggi dalam Pendampingan Pencegahan Stunting di Lapangan)

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.