Sahabat Sehat, antivirus Covid-19 terus diuji untuk menemukan obat mana yang paling efektif. Kali ini panel FDA sedang melakukan voting untuk menentukan penggunaan pil antivirus Covid-19 bernama molnupiravir yang diproduksi oleh perusahaan farmasi Merck. Lalu bagaimana hasilnya? Yuk, simak penjelasannya di sini!
Bagaimana menurut FDA?
Panel penasehat Food and Drug Administration (FDA) merekomendasikan pil antivirus molnupiravir yang dibuat oleh Merck dan Ridgeback Biotherapeutics agar disahkan untuk pasien Covid-19. Rekomendasi obat diberikan kepada pasien dengan gejala ringan atau sedang yang berisiko tinggi menjadi parah. Keputusan ini diambil pada pertemuan yang dilakukan oleh Antimicrobial Drugs Advisory Committee pada 30 November 2021.

Berdasarkan data uji klinis terbukti bahwa molnupiravir mengurangi risiko rawat inap atau kematian pada pasien yang ngga divaksin yaitu sekitar 30%.
Pada dasarnya, ngga semua rekomendasi panel harus diikuti oleh FDA, tapi biasanya keputusan FDA diambil sesuai dengan rekomendasi panel. Pemungutan suara oleh panel dilakukan beberapa hari setelah munculnya varian Omicron. Varian ini membuat para ahli khawatir akan gelombang kasus yang mungkin akan terjadi kedepannya.
Jika FDA menyetujui molnupiravir maka obat ini akan menjadi pengobatan oral antivirus pertama untuk Covid-19 di Amerika Serikat, tentunya harus menggunakan resep dari dokter. Selama ini obat Covid-19 yang disahkan oleh FDA masih berupa suntikan atau infus yang hanya bisa dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional.
Meskipun demikian, FDA masih menunggu rekomendasi atau masukan dari ilmuwan atau pakar lainnya terkait penggunaan molnupiravir dari Merck ini.
Molnupiravir bagi ibu hamil
Inggris telah mengesahkan obat ini sejak awal November, namun ngga direkomendasikan bagi ibu hamil atau menyusui. Bahkan, perempuan yang berpotensi untuk hamil disarankan untuk menggunakan kontrasepsi selama 4 hari setelah mengonsumsi molnupiravir. Beberapa anggota FDA juga menyarankan supaya perempuan melakukan tes kehamilan sebelum diberi resep oleh dokter.
Pasalnya, obat ini bekerja dengan cara membuat mutasi kecil pada kode genetik virus corona sehingga menyababkan virus ngga bisa lagi memproduksi dirinya sendiri dalam jumlah banyak. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa mutasi juga bisa terjadi pada materi genetik manusia yang berpengaruh pada janin. Perubahan DNA tersebut berpotensi menyebabkan cacat lahir, kerusakan sperma, atau risiko kanker jangka panjang.
Izin molnupiravir di Indonesia
Sebelum pil molnupiravir dijual belikan di Indonesia, perlu ada izin yang dikeluarkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Saat ini tahap uji klinis dan registrasi sedang dilakukan. Beberapa obat Covid-19 yang telah mendapatkan izin edar BPOM diantaranya favipiravir tablet 200 mg, remdesivir 100 mg, regdanvimab 60 mg. BPOM juga telah menerbitkan informatorium obat Covid-19 yang berisi keterangan perkembangan uji klinis dan terapi obat-obatan Covid-19.

Sahabat Sehat, munculnya varian baru Covid-19 membuat ilmuwan cukup khawatir akan lonjakan kasus yang bersiko terjadi. Selain pembaruan ilmu pengetahuan melalui obat-obatan, kamu juga tetap perlu mematuhi protokol kesehatan secara disiplin ya! Jangan lupa bagikan informasi ini ke orang-orang sekitar kamu!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

