Belakangan ini banyak fenomena pamer di media sosial, baik itu soal harta benda, gaya hidup, kedudukan/jabatan, dan lainnya yang dinilai lebih unggul dibandingkan orang lain. Perilaku tersebut adalah flexing. Perkembangan media sosial dimanfaatkan untuk mempublikasikan diri seseorang secara berlebihan dan hal tersebut memang sengaja dilakukan. Lalu, apa motif pelaku flexing tersebut? Sahaba Sehat, yuk simak dari sisi psikologi.

Kurang Empati
Perilaku memamerkan sesuatu yang mewah dan unggul di media sosial, tentu bukan sesuatu yang nyaman untuk semua orang. Akan tetapi, sebagian besar orang tidak menyadari bahwa banyak orang ngga nyaman dan terganggu akan hal itu.
Pelaku flexing merasa senang dan santai saja dengan apa yang diunggahnya di media sosial karena menurutnya hal tersebut wajar saja dilakukan. Menurut Irene Scopelliti, Professor of Marketing and Behavioral Science, sekaligus peneliti di City University London, mengatakan bahwa rasa kurang empati itulah yang membuat seseorang cuek dan melakukan hal, termasuk mempublikasikan sesuatu yang superior.
Kebutuhan Eksistensi Diri
Salah satu faktor pendorong seseorang melakukan flexing di media sosial adalah karena ingin eksis. Kebutuhan yang besar terhadap eksistensi diri justru mendorong seseorang gemar pamer sesuatu. Media sosial adalah media efektif untuk membuatnya diketahui banyak orang.
Menurut pelaku, jika kemewahan dan keunggulan yang dipublikasikan, maka banyak orang yang bersimpati dan kagum pada pencapaiannya. Dengan demikian, dirinya tetap eksis, bahkan semakin eksis, setelah menjadi perbincangan banyak orang, terlebih jika kontennya viral.

Pencitraan Diri
Citra yang baik pasti diperlukan semua orang. Demi meningkatkan citra diri, banyak orang melakukan flexing. Berdasarkan teori psikologi sosial, memamerkan sesuatu yang dimiliki mampu menunjukkan status sosial seseorang dengan harapan menjadi lebih baik di mata orang lain, sehingga memperluas pergaulan. Semua hal tersebut dilakukan agar bisa dinilai luar biasa dan berkelas.
Akan tetapi, kecenderungan pamer ini tidak dibenarkan karena meningkatkan citra diri ngga semestinya dilakukan dengan cara yang negatif, namun bisa melalui pembuktian prestasi atau pencapaian diri, tanpa perlu dipamerkan berlebihan. Jika ingin mengungah di media sosial, maka sewajarnya saja.
Mengira Orang Lain Terkesan dengan Pencapaiannya
Flexing bisa dikategorikan sebagai aktivitas membual atau bragging. Berdasarkan Australian Institute of Professional Counselors, membual adalah tindakan menyombongkan suatu hal secara berlebihan.
Dengan perilaku pamer tersebut, seorang individu yang gemar flexing tentu merasa senang karena mengira orang lain terkesan dengan harta atau pencapaian yang dipamerkan. Kesenangan tersebut merupakan stimulus efek dopamin yaitu hormon peningkat suasana hati. Akibatnya, orang yang terbiasa pamer akan ketagihan, sehingga terus menerus memamerkan kepemilikannya.
Menutupi Rasa Insecure
Berdasarkan ilmu psikologi klinis, perilaku flexing erat kaitannya dengan perasaan tidak aman dan rendah diri atau yang dikenal dengan istilah insecurity. Faktor terkuat orang merasa insecure adalah terdapat sesuatu yang ngga dimilikinya, sehingga ingin menunjukkan kelebihan dan diketahui orang lain. Cara efektif supaya orang lain mengetahui adalah lewat unggahan di media sosial. Kelebihan yang diunggulkan tersebut diharapkan bisa menutupi kekurangannya.
Sahabat Sehat, itulah berbagai faktor pendorong seseorang memamerkan sesuatu yang terbilang mewah dan unggul secara berlebihan. Nah, supaya ngga terjadi flexing, perlu mengenai kelebihan dan kelemahan diri, menerima kekuatan dan memaafkan kelemahan tersebut, berusaha mengembangkan diri, dan meningkatkan empati dengan meningkatkan kegiatan sosial dan berbagi. Jika kebiasaan ini diteruskan ngga menutup kemungkinan bisa menimbulkan FOMO (Fear of missing out) ataupun NPD (Narcissistic Personality Disorder).
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
