Sekarang ini, banyak orang yang dengan mudah melabeli seseorang dengan istilah halu, paranoid, overthinking, hingga narsis. Sebenarnya, hal tersebut merujuk pada gangguan kepribadian. Salah satunya adalah narcissistic personality disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik. Akan tetapi, ketahui dulu yuk gejala gangguan tersebut sebelum melabeli seseorang, Sahabat Sehat!

Gejala Narsistik
Kondisi narsistik ini merupakan gangguan kepribadian yang membuat pengidapnya merasa dirinya jauh lebih baik dan lebih penting dibandingkan orang lain. Kebutuhannya akan pujian dan pengakuan sangatlah tinggi, namun rasa empatinya rendah pada orang lain.
Rasa percaya dirinya yang sangat tinggi juga menjadi salah satu ciri narsistik. Akan tetapi, setiap diberikan kritikan, orang narsistik ini akan merasa sakit hati, hopeless, dan sedih. Gejala ini biasanya terlihat mulai saat usia anak atau remaja.
Orang yang mengalami gangguan narsistik ini bahkan melebih-lebihkan pencapaian atau bakat yang dimiliki. Bahkan, pengidapnya cenderung arogan dan mempunyai preokupasi atau pemikiran yang dipenuhi fantasi mengenai sukses, kepandaian, kekuasaan, kecantikan atau ketampanan, ataupun pasangan yang sempurna.
Dalam kondisi yang parah, terdapat tindakan memanfaatkan orang lain untuk memperoleh apa yang diinginkan. Kondisi ini dapat bertambah buruk jika ngga segera ditangani dan menyebabkan kecemburuan sosial.
Penyebab Narsistik
Inti dari gangguan kepribadian narsistik adalah membuat pengidapnya merasa superior dan ingin selalu dinilai unggul. Hal tersebut dilakukannya karena menganggap bahwa dirinya pantas diperlakukan seperti itu dan merupakan hal yang wajar. Pemikiran tersebut membuat mereka ngga menyadari perilakunya yang berlebihan dan ingin selalu diunggulkan.
Sampai saat ini, belum diketahui apa penyebab pasti seseorang bisa mengidap gangguan kepribadian narsistik. Akan tetapi, kondisi tersebut diduga muncul karena adanya beberapa faktor.
Dilansir dari laman Alodokter, ada tiga faktor penyebab seseorang mengalami sindrom narsistik. Pertama adalah faktor genetik yaitu riwayat yang sama dalam keluarga. Kedua, faktor lingkungan yaitu pola asuh yang terlampau memanjakan, ngga memedulikan anak, menuntut, ataupun adanya penyiksaan dan trauma. Ketiga, faktor neurobiologi yaitu hubungan antara otak, pola pikir, dan perilaku.

Bagaimana Seseorang Bisa Dikatakan Narsistik?
Sebagian besar pemeriksaan pada gangguan kepribadian narsistik baru dapat dilakukan ketika disertai gejala depresi, kecanduan alkohol dan narkoba, ataupun gangguan mental lainnya. Meskipun demikian, diagnosis bisa diawali dengan melakukan tanya jawab mengenai gejala yang dialami disertai pemeriksaan fisik guna memastikan tidak terdapat cedera fisik yang menyebabkannya.
Pada tahap berikutnya, dokter memeriksa kondisi psikis secara menyeluruh. pasien diminta mengisi beberapa kuesioner yang berkaitan dengan kondisi yang memicu gangguan kepribadian narsistik. Dalam rangka memastikan diagnosis, dokter menggunakan kriteria narsistik dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM).
Berdasarkan panduan DSM tersebut, seseorang didiagnosis mengalami gangguan kepribadian narsistik jika mengalami 5-9 gejala dari beberapa kriteria, di antaranya adalah merasa lebih baik dari orang lain, memerlukan banyak pujian dari orang lain, sering mengkhayal mengenai kepandaian, kesuksesan, kekuasaan, kecantikan, pasangan yang sempurna, merasa istimewa dan hanya mau bergaul dengan orang yang dinilai setara, merasa berhak memperoleh perlakuan khusus, memanfaatkan orang lain demi keuntungan diri sendiri, tak mempunyai empati dan rasa peduli, sering merasa iri kepada orang lain atau menilai bahwa orang lain iri kepadanya, serta bersikap sombong.
Itulah ulasan mengenai gangguan narsistik yang bisa Sahabat Sehat ketahui. Semoga informasi ini bermanfaat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
