Simak Rekomedasi MPASI Terbaru WHO 2023

Tahukah Sahabat Sehat jika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tahun 2023 ini merilis panduan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) terbaru? Ya, ternyata rekomendasi terbaru ini dibuat berdasarkan bukti-bukti ilmiah baru. Yuk simak rekomendasi MPASI terbaru WHO 2023 berikut, ya!

Pemberian ASI diberikan hingga usia 2 tahun atau lebih

WHO menyatakan dengan tegas bahwa ASI yang dimulai sejak bayi seharusnya dilanjutkan sampai usia dua tahun bahkan lebih meski sudah diberi makanan pendamping ASI (MPASI). Studi menunjukkan anak yang masih mengonsumsi ASI sampai usia dua tahun atau lebih lebih rendah mengalami diare atau infeksi saluran nafas.

mpasi
Foto: Freepik.com

Anak yang tidak mengonsumsi ASI boleh menggunakan pilihan produk susu tertentu

Produk susu adalah bagian dari keragaman asupan pangan terutama bagi anak yang tidak mengonsumsi ASI saat protein hewan lain tidak tersedia. Syarat produk susu untuk anak usia 6—23 bulan yang tidak mengkonsumsi ASI, di antaranya usia 6—11 bulan dapat diberikan susu formula atau susu hewan murni. Sedangkan, usia 12—23 bulan dapat diberikan susu hewan murni, sedangkan susu formula lanjutan tidak direkomendasikan. 

Jenis susu hewan murni yang dimaksud adalah susu pasteurisasi, susu evaporasi, susu fermentasi atau yoghurt. Pastikan penyimpanan dan penanganan susu hewan dilakukan dengan baik dan aman. Hindari susu dengan perasa dan pemanis tambahan. Selain itu, studi menunjukkan intoleransi laktosa di Asia juga tinggi hingga 80% populasi, untuk itu hati-hati pemberian produk susu yang menyebabkan diare.

Usia pengenalan MPASI mulai usia 6 bulan

Anak usia 6 bulan harus diperkenalkan MPASI dan ASI tetap dilanjutkan. MPASI dini sebelum usia 6 bulan karena kondisi tertentu harus dengan pertimbangan ketat dokter. Ibu yang meragukan kecukupan ASI perlu pendampingan dukungan menyusui dari tenaga ahli kesehatan dan dukungan lingkungan keluarga.

mpasi
Foto: Freepik.com

Mengonsumsi pangan yang beragam

Anak dianjurkan mengonsumsi pangan yang beragam seperti protein hewani setiap harinya juga mengonsumsi buah serta sayur. Hal ini untuk melengkapi kebutuhan gizi yang mendukung perkembangan dan pertumbuhan anak. Apabila ada keterbatasan dengan sumber protein hewani maka pemberian seperti kacang-kacangan atau protein nabati boleh dipertimbangkan tapi yang paling dianjurkan adalah protein hewani.

Sementara makanan pokok yang kaya zat pati karbohidrat seperti nasi, kentang, jagung boleh diberikan tapi perlu dibatasi. Hal ini karena kualitas zat gizi pangan ini sangat kurang dibandingkan protein hewani. Sedangkan, kapasitas perut anak sangat kecil dan mereka membutuhkan makanan kaya zat gizi dalam setiap suapnya. Hal penting lainnya saat memilih pangan yang beragam adalah pilih bahan pangan utuh dan minimalisir yang rafinasi misalnya lebih baik jagung daripada tepung maizena, lebih baik beras daripada tepung beras.

Menghindari pangan yang tinggi gula, garam serta lemak jahat

WHO menekankan untuk menghindari makanan tinggi gula, garam, serta lemak jahat yang banyak terdapat pada makanan olahan yang memicu peradangan pada tubuh si kecil bahkan sampai dewasa. Minuman berpemanis gula tidak boleh dikonsumsi seperti pada susu manis kotak, jus kemasan, teh manis, dan berbagai produk sirup lainnya. Konsumsi 100% jus buah pun harus dibatasi karena risiko diare tinggi karena masalah kebersihan saat pengolahan. Perlu diingat anak harus belajar makan buah bukan minum jus buah.

Suplemen gizi atau produk pangan fortifikasi untuk anak 6—23 bulan boleh diberikan sesuai kebutuhan khusus

Saat kebutuhan gizi tak terpenuhi anak boleh mendapatkan tambahan dari suplemen atau produk pangan terfortifikasi tanpa menggeser pangan sehari-hari. Misalnya saat anak menderita anemia maka suplementasi zat besi boleh diberikan dengan pendampingan dokter. Perlu diingat bahwa tidak ada satu pun produk sebagai pengganti pola makan beragam yang terdiri dari pangan sehat yang diolah sendiri di rumah.

Pemberian makanan untuk anak 6—23 bulan dilakukan secara responsif dan mendorong anak bisa makan secara mandiri

Pemberian makanan secara responsif atau responsive feeding adalah pemberian makanan sesuai sinyal lapar dan kenyang anak. Hal ini dapat mendorong regulasi diri untuk makan dan mendukung perkembangan kognitif, emosi dan sosia anak. Orang tua atau pengasuh perlu menyediakan waktu untuk hadir saat anak makan atau belajar makan sendiri, dengan begitu anak akan makan sesuai porsi.

Ternyata MPASI yang baik perlu tepat waktu, tepat jumlah dan jenis, tepat penyimpanan, serta tepat metodenya. Semoga seluruh orang tua dapat menikmati masa-masa ASI dan MPASI demi generasi masa depan yang sehat dan sejahtera. Jangan lupa ya, share artikel ini supaya semakin banyak orang tua yang teredukasi!

Referensi
WHO. 2023. WHO Guideline for complementary feeding of infants and young age 6 -23 months of age. https://www.who.int/publications-detail-redirect/9789240081864

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.