Antibodi Vaksin Sinovac Menurun Setelah 6 Bulan? Jangan Khawatir!

Halo, Sahabat Sehat! Pandemi belum terlihat akan berakhir dalam waktu dekat, jadi protokol kesehatan pun akan tetap menjadi hal yang wajib beriringan di kehidupan sehari-hari. Salah satunya dengan melakukan vaksinasi, selain untuk menjaga diri sendiri juga tentunya berusaha untuk menjaga lingkungan sekitar, bukan?

Nah, beberapa waktu yang lalu ramai dibicarakan tentang vaksin Sinovac yang banyak digunakan di Indonesia, kabarnya kekebalan tubuh yang terbentuk setelah vaksin hanya bertahan 6 bulan. Wah, jadi harus dibooster, nih? Atau malah vaksin jadi percuma padahal nanti juga tubuh kita bisa terinfeksi juga? Eits, jangan khawatir, vaksin dan respon tubuh ternyata lebih hebat loh, cek faktanya yuk!

vaksinasi sinovac
Foto: Unsplash.com

Mekanisme Kerja Vaksin Sinovac

Teman Sehat, vaksin Sinovac ini diproduksi di China dengan merk CoronaVac berbahan dasar virus Corona (SARS-CoV-2) yang telah dimatikan atau inactivated virus. Vaksin ini telah mendapat izin penggunaan darurat atau emergency use of authorization (EUA) dari BPOM, serta sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), sedangkan cara kerjanya kurang lebih hampir sama dengan vaksin lain yakni dengan menyuntikkan ke tubuh supaya dikenali oleh limfosit atau sel T dan B dan membentuk kekebalan terhadap virus.

FYI, tubuh juga perlu waktu untuk mengenali dan mempersiapkan ‘senjata’ supaya ketika virus datang, tubuh sudah siap untuk berperang melalui kerja sel T. Selain itu, vaksin juga memiliki ciri khas khusus rentang waktu untuk dilakukan penyuntikan kedua agar kekebalan dapat terbentuk secara maksimal dan untuk Sinovac di Indonesia umumnya adalah 4 minggu, Sahabat Sehat.

Kadar Antibodi Bukan Satu-satunya Penentu

Nah setelah dilakukan vaksinasi, tubuh akan membentuk kekebalan atau antibodi. Beberapa penelitian memang menyatakan terjadi penurunan antibodi setelah 6 bulan pemberian vaksin Sinovac dosis kedua hingga level ambang batas tertentu, hal ini merupakan hal yang normal pada vaksin jenis apapun. Tapi, ternyata kadar antibodi dalam tubuh juga bukan yang paling menentukan kamu akan kebal dari Covid-19.

Selain antibodi tubuh juga mempunyai sel T memori yang akan mengingat pernah adanya ‘tamu’ berupa vaksin Covid-19 yang masuk ke tubuh dan jika sewaktu-waktu ada Covid-19 ‘asli’ yang datang, maka tubuh akan merespon dengan cepat melalui sel T yang bertugas untuk berperang, serta tubuh pun kembali akan segera membentuk antibodi melawan Covid-19.

antibodi dari vaksin sinovac
Foto; Unsplash.com

Ingat, Vaksinasi sebagai Salah Satu Prokes

Jika ada pertanyaan berarti divaksin bukan berarti 100% aman dari Covid-19, ya? Jawabannya tentu vaksin mempunyai efikasi yang berbeda, juga akan bervariasi sebab adanya mutasi virus. Namun bukan berarti vaksin menjadi tak berguna, sebab selain mencegah dari infeksi juga tubuh dapat merespon cepat dengan membentuk antibodi sebab sudah pernah ‘bertemu’ dengan virus yang dilemahkan.

Selain itu, ingat bahwa vaksin merupakan salah satu protokol kesehatan. Ibarat teori kerupuk warung yang banyak lubang kecil, satu protokol saja tentu ngga mampu melawan virus yang akan masuk. Jadi kombinasi mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan juga tetap harus dilakukan meski sudah divaksin, ya

Bagaimana, Sahabat Sehat? Jadi, jangan khawatir dengan vaksin karena vaksin aman, halal dan berkualitas Kamu bisa vaksinasi jenis dan merk apapun yang tersedia, semakin banyak cakupan vaksinasi maka kamu turut membantu melindungi yang lain. Yuk, vaksin!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Jeewandara, C., et al. 2021. Antibody and T cell responses to Sinopharm/BBIBP-CorV in naïve and previously infected individuals in Sri Lanka. medRxiv 2021.07.15.21260621. https://www.medrxiv.org/content/10.1101/2021.07.15.21260621v1.full

World Health Organization. 2020. Update on COVID-19 vaccines & immune response. https://www.who.int/docs/default-source/coronaviruse/risk-comms-updates/update52_vaccines.pdf

Zhang, Y. et al. 2020. Safety, tolerability, and immunogenicity of an inactivated SARS-CoV-2 vaccine in healthy adults aged 18-59 years: a randomised, double-blind, placebo-controlled, phase 1/2 clinical trial. Lancet Infect. Dis. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(20)30843-4 (2020). https://www.thelancet.com/article/S1473-3099(20)30843-4/fulltext

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.