Pola makan dan konsumsi berkaitan erat dengan dengan kesehatan tubuh dan status gizi seseorang. Hal tersebut juga sering dikaitkan dengan kebiasan dan kondisi keseharian masyarakat. Lantas, apakah pola makan dan konsumsi pangan saat ini telah mengalami perubahan? Jika iya, apkah menjadi lebih baik atau justru sebaliknya? Yuk, simak ulasan para ahli mengenai perubahan pola konsumsi di Indonesia dalam kegiatan PERGIZI PANGAN Webinar Seri ke-59 “Pola Makan dan Konsumsi Pangan Kita: Apa yang Berubah? Tambah Baikkah?” berikut ini.

Pola makan dan konsumsi di Indonesia saat ini
Sebelum mengulas lebih jauh, Sahabat Sehat perlu tahu dulu mengenai pola makan. Bisa dikatakan bahwa pola makan merupakan perilaku dalam mengonsumsi pangan, baik secara kuantitas maupun kualitasnya untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 41 Tahun 2014 tentang Pedoman Gizi Seimbang, untuk mencapai kondisi kesehatan yang baik, masyarakat dianjurkan untuk meningkatkan penerapan pola konsumsi gizi seimbang.
Pada kesempatan kali ini, Dr Drajat Martianto MSi, Wakil Rektor Bidang Akademik IPB University memaparkan bahwa indeks ketahanan pangan di Indonesia selama tahun 2015-2019 menunjukkan peningkatan. “Penilaian tersebut dilihat dari tiga aspek utama, yaitu affordability, accessibility, serta quality and safety.”
Dr Drajat juga menambahkan, ”Saat ini, dari aspek affordability dan accessability sudah menunjukkan progres yang baik. Tapi, untuk quality and safety (kualitas dan kemanan) selalau menjadi persoalan yang besar bagi kita. Sekarang ini bisa dilihat segi quality kita dinilai masih sangat rendah, terutama dalam hal diversity (keragaman). Indonesia berada diposisi 103 dari 113 negara yang dievaluasi. Oleh karena itu, perlu ada penyegaran tentang arah kebijakan program dan pendekatan, serta gerakan diversifikasi pangan.”
Adanya pengaruh pandemi
Indikator pencapaian ketahanan pangan yang ideal, bisa dilihat dari pola pangan harapan dan pemenuhan angka kecukupan gizi yang dianjurkan. Demi mencapai hal tersebut, perlu dilakukan tindakan sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Prof Dr Suandi MSi, Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Jambi menjelaskan bahwa pandemi Covid-19 juga menjadi salah satu faktor berubahnya pola makan dan konsumsi penduduk.
“Ada beberapa alasan. Pertama, masyarakat ingin mengurangi paparan terhadap keramaian sehingga bisa beralih ke home cooking. Kedua, ingin meningkatkan makanan sehat. Selanjutnya, food safety juga mulai diperhatikan, misalnya menghindari makanan cepat saji. Kemudian yang terakhir, khususnya di daerah pedesaan, terlihat kesadaran untuk lebih memanfaatkan sumber daya lokal” jelas Prof Suandi.
Tingkatkan sumber pangan lokal
Terkait dengan pemanfaatannya, ada tujuh hal yang pada dasarnya mempengaruhi pola makan seseorang terhadap pangan lokal. Hal tersebut dijelaskan oleh Dr Arifasno Napu SSiT MKes, selaku Ketua DPD PERGIZI PANGAN Gorontalo. Faktor-faktor tersebut yaitu, keluarga, peer group, sekolah, iklan, pasar, keragaan dan citra pangan lokal tersebut.
Beliau juga menambahkan, ada tiga faktor yang mempengaruhi perubahan pola makan dan status gizi, yaitu individu, lingkungan dan makanan itu sendiri. “Ketiga hal tersebut, tentunya perlu dilengkapi dengan adanya implementasi kebijakan, seperti pengetahuan tentang ilmu gizi yang bisa diterapkan pada sistem pendidikan. Kemudian juga kebijakan pelestarian dan pengembangan makanan tradisional.” jelas Dr Arifasno Napu.

Nah, banyak sekali bukan informasi yang bisa kamu dapatkan? Oleh karena itu, pastikan kamu hadir di webinar PERGIZI PANGAN seri selanjutnya, ya!
