Broken Heart Syndrome, Ada Ngga ya?

Teman Sehat, kamu pernah ngga merasakan pedih dan sesaknya sakit hati karena ditinggal kekasih? Terus, karena terlalu stres dan sesaknya, seseorang yang merasakannya bisa sampai pingsan, loh!

Bahkan dalam kasus terburuknya, patah hati bisa menyebabkan seseorang yang mengalaminya meninggal. Nah, dalam ilmu kesehatan, situasi ini dikenal dengan sindrom patah hati atau broken heart syndrome. Mau tau penjelasannya? Let’s check it out!

Broken Heart Syndrome

Broken heart syndrome atau nama lainnya stress-induced cardiomyopathy atau takotsubo cardiomyopathy, bisa menyerang kapan saja dan siapa saja. Biasanya sindrom ini dirasakan oleh perempuan, dengan usia pertengahan ke atas (>25 th). Sindrom ini bisa muncul meskipun kamu ngga punya riwayat serangan jantung.

Broken heart syndrome terkadang salah dikira sebagai serangan jantung (heart attack) karena gejala yang ditimbulkannya sama. Selain sesak napas dan nyeri dada, gejala lain yang bisa dirasakan yaitu pusing, menurunnya tekanan darah, dan mual.

Penyebab Broken Heart Syndrome

Penyebab seseorang mengalami sindrom ini, bukan cuma karena patah hati, tapi seseorang yang berada dalam tekanan atau situasi yang berat. Contohnya, seseorang yang ditinggal orang terkasih yang meninggal, masalah keuangan, cemas menjalani operasi, sakit keras, penyiksaan, pertengkaran hebat, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya.

Kadang-kadang, broken heart syndrome juga bisa disebabkan oleh sesuatu yang sifatnya terlalu menyenangkan, seperti memenangkan undian atau diberi kejutan ulang tahun. Selain itu, ada beberapa obat yang yang juga bisa meningkatkan gejala broken heart syndrome, di antaranya :

  • Epinephrine (obat yang biasanya digunakan untuk mengobati reaksi alergi atau serangan asma yang parah)
  • Duloxetine (obat yang digunakan untuk mengobati gangguan saraf dari orang yang diabetes atau orang yang depresi)
  • Venlafaxine (obat depresi)
  • Levothyroxine (obat untuk orang yang mengalami kerusakan kelenjar tiroid)

Perbedaan Broken Heart Syndrome dengan Serangan Jantung

Broken heart syndrome dan serangan jantung, adalah dua hal yang berbeda meskipun gejala utamanya sama. Serangan jantung, biasanya disebabkan oleh sumbatan pada  pembuluh darah jantung. Sumbatan ini, bisa disebabkan oleh gumpalan darah dari penumpukan lemak (aterosklerosis) di dinding pembuluh darah.

Sedangkan broken heart syndrome, pembuluh darah arteri jantung ngga tersumbat, walaupun aliran darah di arteri jantung mungkin berkurang. Selain itu, perbedaan lainnya :

  • Hasil tes aktifitas jantung (EKG) sindrom ini, berbeda dengan hasil EKG serangan jantung
  • Hasil tes darah ngga meunjukan tanda kerusakan pada jantung
  • Bagian kiri jantung membesar dan menunjukan pergerakan yang ngga biasa
  • Waktu pemulihan biasanya bersifat cepat, biasanya dalam rentang hari-minggu

Teman Sehat, patah hati merupakan hal yang biasa dirasakan oleh seseorang. Tapi ingat ya, kamu tetap harus mengontrolnya. Jika ngga bisa terkontrol, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan kamu. Lakukanlah kegiatan yang kamu suka, agar bisa melupakan penyebab munculnya sindrom ini.

Tapi, kalau ngga bisa, kamu bisa berkonsultasi dengan dokter dan merekomendasikan seorang terapis yang bisa membantu mengatasi kesedihan atau kecemasan yang dirasakan.

Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *