Bukan Cuma Kematian, Inilah Risiko Kesehatan Anak di Wilayah Konflik

Teman Sehat, pernahkah kamu membayangkan bagaimana rasanya menjadi seorang anak di wilayah konflik? Menjadi anak yang setiap hari menyaksikan hujan peluru, kekerasan, atau bahkan bom?

Taukah kamu? Syria, Sudan Selatan, Irak, Afganistan, Somalia, Yamen, Central African Republic, Ukraina, Sudan, dan Libya adalah sepuluh negara paling ngga damai menurut Global Peace Index 2016.

“14 juta anak terkena dampak konflik Syria dan Irak” – UNICEF, 2015

Tentang perang, konflik, dan krisis

Perang punya dampak yang ‘ngga banget’ buat kesehatan dan kemakmuran suatu negara. Studi-studi menemukan bahwa situasi konflik menyebabkan lebih banyak kematian dan kesakitan dibandingkan dengan penyakit-penyakit pada umumnya.

Perang merusak masyarakat dan keluarga, juga menghancurkan susunan sosial dan ekonomi suatu negara.

“Bagi anak yang baru lahir, konflik ini adalah semua yang pernah mereka ketahui. Bagi remaja, kekerasan dan penderitaan bukan hanya merusak masa lalu, tetapi juga membentuk masa depan mereka” – Direktur Eksekutif UNICEF, Anthony Lake.

Sedih banget kan?

Gimana kabar orang-orang, khususnya anak-anak, yang tinggal di wilayah konflik seperti itu?

Anak-anak di wilayah konflik bisa meninggal karena trauma secara langsung, tetapi lebih banyak karena penyebab ngga langsung seperti kelaparan, penyakit infeksi, atau kombinasi keduanya, ditambah dengan beban kehilangan orang tuanya.

Selain kematian, perang mengakibatkan kemiskinan, kurang gizi, disabilitas, dan gangguan psikologis.

“Jutaan anak Syria kini harus hidup dalam kondisi ‘toxic stress’ akibat menyaksikan dan mengalami kekejaman selama perang”, menurut organisasi nonpemerintah Save the Children.

‘Toxic stress’

Toxic stress’, atau dalam bahasa awam adalah stres yang sangat berat dan bersifat merusak, terjadi ketika anak-anak mengalami kesulitan yang amat sangat, berlangsung lama, dan terjadi secara berulang, seperti kekerasan ekstrem yang terjadi di negara-negara konflik.

Toxic stress‘ yang terjadi terus-menerus akan menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan mental dan fisik anak. Hal ini akan mengganggu perkembangan otak dan organ lain, sehingga bisa menimbulkan penyakit akibat stres dan gangguan kognitif ketika dewasa.

Dampak yang ditimbulkan bersifat menetap seumur hidup. Semakin parah trauma yang dialami ketika masa kecil, maka gangguan perkembangan dan munculnya berbagai masalah kesehatan di masa mendatang akan semakin besar, seperti peyakit jantung, diabetes, penyalahgunaan obat-obatan, dan depresi.

Inilah tanda dan gejala ‘toxic stress’ yang ditemukan Save the Children pada anak-anak Syria:

  • 89% dewasa menyatakan bahwa perilaku anak telah berubah menjadi lebih takut dan gugup
  • 50% anak merasa ngga aman ketika berada di sekolah dan 40% anak merasa ngga aman bermain di luar, walaupun tepat di luar rumahnya sendiri
  • 78% anak merasa sangat sedih dan murung secara terus-menerus
  • 71% dewasa menyatakan semakin banyak anak yang mengompol dan buang air kecil secara ngga sadar
  • 84% dewasa dan hampir semua anak meyakini bahwa peristiwa pengeboman dan penembakan yang terjadi saat ini adalah penyebab utama terjadinya stres anak dalam kehidupan sehari-hari

Para pakar menyebutkan bahwa ini telah mencapai titik paling krisis. Apabila perang ngga segera dihentikan dan anak-anak ngga mendapatkan dukungan psikologis yang dibutuhkan, akan menjadi lebih sulit untuk memperbaiki kerusakan ini ketika mereka dewasa.

Itulah yang harus dihadapi anak di wilayah konflik. Berat banget. Apakah kamu punya saran buat memperbaiki ini? Yuk, tulis saranmu di kolom komentar.

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *