Sahabat Sehat, mungkin kamu sudah ngga asing dengan istilah hypoallergenic. Namun, tahukah kamu apa itu hypoallergenic dan kenapa ini menjadi salah satu faktor yang sering digunakan dalam membeli kosmetik? Apakah benar produk yang memiliki label ini baik dana aman bagi kulit?
Konsep dasar hypoallergenic
Kosmetik hypoallergenic merupakan produk yang diklaim bisa memberikan reaksi alergi yang lebih sedikit daripada jenis produk kosmetik lainnya. Dalam pemasarannya, konsumen cenderung menjatuhkan pilihan pada produk kosmetik yang diklaim aman bagi kulit. Konsumen dengan kulit hipersensitif ataupun pemilik kulit normal, acapkali digiring untuk percaya bahwa produk hypoallergenic lebih lembut untuk kulit mereka dibanding kosmetik non-hypoallergenic.

Pada dasarnya, ingredien produk hypoallergenic yang serupa ngga jauh berbeda satu sama lain. Sejauh ini belum ada penelitian ilmiah yang mendukung bahwa kosmetik atau produk hypoallergenic menghasilkan lebih sedikit reaksi merugikan daripada produk konvensional pesaing. Bahan kosmetik yang digunakan perusahaan kosmetik berlisensi juga masuk daftar aman bahan yang diizinkan.
Perkembangan hypoallergenic di industri kecantikan
Selama bertahun-tahun, perusahaan kosmetik telah memproduksi produk yang diklaim sebagai “hypoallergenic” atau “aman untuk kulit sensitif” atau “teruji terhadap alergi”. Di Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) berusaha untuk menjernihkan klaim ini dengan menetapkan persyaratan pengujian penentuan produk yang diakui hypoallergenic. Konsep kosmetik hypoallergenic sendiri mulai diterapkan tahun 1974 dan diatur dalam regulasi FDA.
Namun pada tahun 2013, Pengadilan Banding di Amerika Serikat untuk Distrik Columbia memutuskan bahwa peraturan FDA yang mendefinisikan hypoallergenic tidak valid. Sehingga, regulasi yang ditetapkan FDA terkait peraturan dan definisi produk hypoallergenic atau klaim serupa menjadi tidak sah. Dengan begitu, bisa dinyatakan bahwa klaim hypoallergenic ngga bisa menjadi acuan mengenai akan ada tidaknya efek alergi penggunaan kosmetik.

Klaim Hypoallergenic bagi konsumen
Dalam memilih produk kosmetik dan skincare, faktor reaksi alergi menjadi salah satu faktor pertimbangan penting. Terkait klaim hypoallergenic yang belum terbukti secara ilmiah, maka konsumen perlu menhami satu fakta dasar, yakni sebuah kosmetik ngga bisa dikatakan “non-alergi”. Jadi, bisa disimpulkan hingga saat ini belum ada jaminan suatu kosmetik 100% ngga menimbulkan reaksi alergi tertentu, karena kasus kejadian alergi pada setiap orang bisa saja berbeda.
Peraturan Pemerintah di banyak negara sudah mewajibkan pencantuman ingredien supaya konsumen bisa mengambil langkah perlindungan bagi diri sendiri. Perusahaan wajib mencantumkan ingredien pada label produk, sehingga konsumen bisa menghindari zat yang menyebabkan alergi.
Ada beberapa ingredien yang layak menjadi perhatian konsumen diantaranya, alkohol, parfum, formaldehid dan turunannya, mentol, PPD, pengawet (semisal paraben atau metilkorosotiazolinon), pewarna, kandungan detergen (semisal sodium lauril sulfat atau TEA-lauril sulfat), lanolin, serta kandungan asam (semisal vitamin C, asam laktat, asma glikolat). Tingkat reaksi alergi individu terhadap suatu bahan bisa berbeda, tetapi jika kamu merasakan keluhan seperti kulit terasa panas, melepuh, atau perubahan kulit yang negatif setelah memakai produk segera hentikan pemakaian dan cari pertolongan ahli.
Sahabat Sehat, meski klaim hypoallergenic ngga bisa bisa jadikan acuan, kamu bisa tetap menjadi konsumen cerdas. Mulai sekarang cobalah untuk selalu memperhatikan ingredien sebelum membeli produk. Kamu juga bisa berkonsultasi ke dokter kulit, mengenai bahan apa saja yang cocok dan ngga cocok untuk kulitmu.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
