Madu sering dijadikan sebagai gula alami yang memiliki manfaat untuk kesehatan. Namun, untuk bayi madu ini tidak disarankan untuk diberikan karena dapat menyebabkan gangguan kesehatan, salah satunya botulism. Belum sempurnanya sistem kekebalan tubuh dan pencernaan menjadi sebabnya.

Infant botulism
Botulism yang terjadi pada bayi dapat disebabkan diberikan madu yang tercemar. Madu sangat mudah tercemar oleh bakteri. Salah satunya, cemaran bakteri penyebab botulisme, yaitu Clostridium botulinum. Bakteri tersebut merupakan bakteri gram positif bersifat anaerob yang umumnya teradapat di dalam tanah dan dapat terbawa oleh udara ke permukaan. Spora Clostridium botulinum dapat ditemukan juga pada madu, suatu hal yang sudah terbukti secara mikrobiologis dan epidemiologis.
Bahaya lain yang dapat terjadi jika bayi diberikan madu, yaitu dapat meningkatkan risiko kerusakan pada gigi yang baru tumbuh. Kalau bayi terbiasa makan makanan manis seperti madu, maka akan terus meminta dan berisiko menjadi kebiasaan dan dapat meningkatkan risiko mengalami gangguan kesehatan seperti obesitas, penyakit jantung, diabetes tipe 2 dan kanker pada anak.
Kasus kematian bayi karena konsumsi madu
Di lansir dari The Japan Times, di daerah Adachi Ward, Tokyo terjadi kasus meninggalnya seorang anak laki-laki berusia 6 bulan pada tahun 2017 akibat botulisme dan pemberian madu menjadi penyebabnya. Gejala diawali dengan batuk dan bayi tersebut langsung dilarikan ke rumah sakit oleh keluarga setelah kejadian, namun menderita gagal napas dan didiagnosa infant botulism.
Keluarga anak tersebut mengatakan telah memberikan madu yang dicampur dalam jus dan dikonsumsi 2 kali sehari selama sekitar sebulan. Bakteri Clostridium botulinum ditemukan dalam wadah madu yang tidak tertutup rapat di rumah keluarga dan di kotoran anak laki-laki tersebut.

Menurut Pemerintah Metropolitan Tokyo, lebih dari 30 kasus botulisme bayi telah dilaporkan secara nasional sejak tahun 1986, namun tidak ada yang fatal. Keracunan botulisme disebabkan oleh madu dalam banyak kasus, tetapi ada kasus yang disebabkan oleh sup sayuran atau air sumur, kata para ahli.
Kapan anak dapat mengonsumsi madu?
Usia anak kurang dari 1 tahun tidak dianjurkan karena berpotensi menyebabkan botulisme atau gangguan kesehatan lainnya akibat madu. Sahabat Sehat dapat menambahkan gula dari sari buah, kacang-kacangan, biji-bijian atau produk susu untuk menambah rasa pada MPASI. Namun, perlu diperhatikan bahwa American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan anak di usia 2 tahun tidak mengonsumsi lebih dari 25 gram atau 6 sendok teh gula tambahan setiap hari.
Nah, Sahabat Sehat kasus botulisme pada bayi memang jarang ditemui, namun bila terjadi akan berakibat serius. Madu bisa digunakan sebagai pengganti gula untuk MPASI anak usia lebih dari 1 tahun asalkan tidak melebihi jumlah konsumsi gula yang disarankan.
