Marasmus, Kondisi Kekuarangan Gizi pada Si Kecil

Halo Sahabat Sehat! Sekarang banyak sekali program serta ide yang menggalakkan pencegahan dan penanganan stunting yang merupakan akibat dari kekurangan gizi kronis. Hal ini mengingat stunting masih menjadi masalah kesehatan dengan jumlah yang cukup banyak di Indonesia.

Tapi, tahukah kamu bahwasannya ada permasalahan lainnya yang juga berkaitan dengan kecukupan gizi sang buah hati, khususnya pada balita? Yap, masalah gizi ini dikenal sebagai marasmus. Penting bagi Sahabat Sehat, utamanya yang sudah menjadi orang tua untuk mengetahui apa itu marasmus. Oleh karena itu, yuk bahas bersama-sama di sini!

marasmus, kondisi kekurangan gizi
Foto: Pixabay.com

Marasmus

Marasmus merupakan salah satu bentuk kekurangan gizi dan termasuk ke dalam tipe Kurang Energi Protein (KEP). Pada keadaaan ini umumnya ditemukan asupan protein si kecil yang berada di bawah angka kecukupan gizinya. Di samping itu, kondisi ini sering ditemui pada balita berusia 0-2 tahun yang ngga mendapatkan Air Susu Ibu (ASI) secara cukup.

Kok bisa terkena marasmus? Nah, penyebab terjadinya marasmus itu, antara lain karena asupan makanan yang sangat kurang, prematuritas dan pembawaan lahir, infeksi, penyakit pada masa bayi, serta adanya pengaruh dari kesehatan lingkungan.

Tanda dan Gejala Marasmus

Bila mengalami marasmus, biasanya berat badan si kecil sangatlah rendah atau kurang dari 60% berat badan balita lain yang seusinya. Di tambah, ukuran kepala yang ngga sebanding dengan ukuran tubuh, mudah terinfeksi penyakit, rambut tipis dan mudah rontok, berwajah lonjong juga tampak lebih tua (old man face), kulit kering dan berlipat sejalan dengan hilangnya lemak yang berada di bawah kulit, tingkat kesadaran menurun, bentuk perut menjadi cekung, dan sering disertai diare kronik (terus menerus) atau susah buang air kecil.

mengenal marasmus dan pencegahannya
Foto: Pixabay.com

Pencegahan Marasmus

Sahabat Sehat, marasmus bisa dicegah dengan langkah-langkah, seperti memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai umur anak 6 bulan. Setelah 6 bulan, anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI atau MPASI yang sesuai dengan tingkatan umur, lalu disapih setelah si kecil berumur 2 tahun.

Anak diberikan variasi makanan yang seimbang antara kandungan lemak, protein, vitamin dan mineralnya. Perbandingan komposisinya, yaitu lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan, protein 12%, dan sisanya karbohidrat. Rajin menimbang juga mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. Jangan lupa untuk mengatur pola makan balita, seperti konsumsi vitamin A seperti ikan, susu, sayur hijau, dan kuning, serta konsumsi vitamin B 12 seperti telur, keju, kedelai, tempe dan daging.

Kecukupan gizi bagi si kecil yang sedang berada pada masa pertumbuhan menjadi satu hal yang teramat penting karena jika ngga terpenuhi bisa menimbulkan gangguan tumbuh kembang anak. Sahabat Sehat, itulah tadi seputar informasi terkait marasmus dan langkah pencegahan yang bisa kamu ikuti. Jangan lupa bagikan informasi ini ke keluarga, teman, dan orang-orang di sekitarmu, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Owuraku A. Titi-Lartey & Vikas Gupta. (2021). Marasmus. NCBI Bookshelf. A service of the National Library of Medicine, National Institutes of Health. Doi: 10.5281/zenodo.4650808.

Kemenkes RI. 2015. Situasi Kesehatan Anak Balita di Indonesia. Jakarta Pusat: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes RI. 2020. Buku Saku Pencegahan dan tata Laksana Gizi Buruk pada Balita di Layanan Rawat Jalan bagi tenaga Kesehatan. Jakarta: Kemenkes RI.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.