Mengenal Self-Heating Meals

Hai, Sahabat Sehat! Pernah mendengar self-heating meals? Saat ini, self-heating meals menjadi trend dalam penyiapan makanan ekstra cepat di beberapa negara. Seperti namanya penyiapan makanan ini ngga memerlukan sumber panas eksternal. Penasaran bagaimana kerjanya? Let’s check this out!

Apa itu self-heating meals?

Mungkin beberapa dari kamu sudah familiar dengan konsep MREs (Meals Ready to Eat) yang dikembangkan militer AS dan Korea Selatan, self-heating meals sendiri memang dikembangkan pertama kali oleh militer. Melalui teknologi ini diharapkan personel militer bisa tetap bisa menikmati makanan panas dan hangat dimanapun dan kapanpun. Lalu darimana panas diperoleh?

Makanan dikemas ganda dan dilingkupi dengan pouch pemanas. Pouch ini berisi air garam, bubuk aluminium serta dilengkapi tali penarik yang ketika ditarik memicu reaksi eksotermik dan mampu memanaskan air hingga sekitar 88 oC dalam beberapa menit. Lamanya makanan siap bergantung pada jenis makanan.

Beberapa makanan harus ditaruh di atas wadah pemanas khusus, lainnya cukup dengan menarik tali penarik pada pouch. Tipe lain seperti contohnya pada minuman kaleng, buka penutup kaleng dan tekan bagian bawah sehingga membran penghalang air pada outer chamber dan bahan pemanas pada inner chamber untuk memicu reaksi eksotermik yang mampu mencapai suhu 130 oC dalam hitungan menit (bergantung merk). Voila makanan dan minuman panas siap dinikmati.

Macam Produk Self-Heating

Di Tiongkok, restoran-restoran hotpot menawarkan produk self-heating supaya bisa menjangkau konsumen lebih luas. Pandemi COVID-19 membuat teknik self-heating menjadi lebih relevan. Konsumen bisa menikmati hotpot di rumah tanpa perlu ke restoran sehingga meminimalisir bahaya penyebaran virus.

Di Italia, self-hot chocola, self-hot kopi, self-cold kopi dijual secara komersial dan bisa ditemukan hampir di seluruh wilayah. Produk self-heating beredar luas di Jepang sejak 1980 diantaranya lunch box, kari, mie, sake, kopi, teh, dan olahan daging. Tapi, dikarenakan isu global warming dan resesi 1990, penjualan produk self-heating menurun, tetapi self-heating sake masih menjadi item favorit hingga sekarang.

Militer AS dan Korea Selatan memasukkan self-heating meals sebagai bagian military rations. Diantaranya bubur, kari, sup, daging masak, nasi lengkap dengan lauk, dan menu lainnya. Di Korea Selatan self-heating food tools juga dijual bebas di pasaran.

Keuntungan self-heating meals

Mengenal self-heating meals
Foto: foodhunter915.wordpress.com

Beberapa keuntungan dari self-heating meals, diataranya praktis dan mudah dibawa terutama saat naik gunung, camping atau situasi mendesak seperti bencana alam dimana sulit mendapatkan akses sumber pemanas. Daya simpan hingga 5 tahun sehingga perlu disimpan pada suhu dingin, pilihan menu yang beragam dan utamanya bisa mendapatkan sensasi menikmati makanan restoran atau fresh from the oven.

Sealin itu juga menjaga makanan tetap hangat dan siap makan. Panas bisa bertahan dari 45 menit hingga beberapa jam bergantung produk dan merk. Tentunya, produk ini aman dan siap pakai, ngga ada bahaya dari gas yang dilepas saat terjadi reaksi eksotermis dan ngga menimbulkan api, temperatur tiap produk juga diatur sesuai limit. Menariknya lagi, kemasan bisa didaurulang bahkan beberapa dirancang eco-friendly.

Nah, Sahabat Sehat! Tertarik untuk mencoba self-heating meals? Cocok loh, untuk dibawa saat camping atau naik gunung.

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Christensen, T. 2015. What is a Self-Heating Meal?. https://www.wise-geek.com/what-is-a-self-heating-meal.htm. Diakses pada 29 Juli 2021.

Li, D. 2020. Self-Heating Fuels Instant Food Innovation in China. https://www.mintel.com/blog/food-market-news/self-heating-fuels-instant-food-innovation-in-china. Diakses pada 29 Juli 2021.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.