Mengenal Susu Pasteurisasi, UHT, dan Sterilisasi

Sahabat Sehat, pernahkah kamu memerhatikan kenapa susu pasteurisasi selalu disimpan di kulkas sedangkan susu UHT dan susu sterilisasi ngga? Tahukah kamu, sebenarnya pada susu murni yang dihasilkan oleh sapi atau hewan mamalia lainnya terdapat banyak bakteri, sehingga perlu dilakukan pengolahan untuk menjamin susu yang sampai ke konsumen aman. Yuk, kenali beberapa cara pengolahan susu!

mengenal proses pengolahan susu
Foto: Pixabay.com

Susu Pasteurisasi

Pasteurisasi merupakan metode pengolahan dengan tujuan mengurangi jumlah bakteri patogen pada susu sampai pada taraf aman. Pasteurisasi dilakukan dengan memanaskan susu pada suhu 63°C selama 30 menit atau pada suhu 72-75°C selama 15-20 detik. Proses pemanasan bisa mengurangi zat gizi tertentu terutama vitamin B1 dalam susu, makanya pasteurisasi menggunakan suhu yang ngga terlalu tinggi atau waktu yang singkat untuk mencegah hilangnya protein, vitamin, dan mineral dalam susu.

Pasteurisasi terbukti bisa membunuh bakteri seperti E. coli, L. monocytogenes, Campylobacter jejuni, Salmonella, dan lain-lain. Pasteurisasi mampu membunuh sebagian besar bakteri dalam susu, tapi bukan semua bakteri yang ada. Makanya, susu pasteurisasi perlu disimpan pada suhu rendah seperti di kulkas (4°C) untuk mencegah pertumbuhan bakteri yang masih ada dalam susu.

Susu Sterilisasi

Proses ini dilakukan dengan pemanasan suhu tinggi pada susu dalam kemasan. Pemanasan dalam proses sterilisasi menggunakan suhu 115-120°C selama 20-30 menit dan biasanya diterapkan pada susu dengan kemasan kaleng.

Jika kemasannya belum dibuka susu sterilisasi bisa memiliki umur simpan yang cukup lama meskipun ngga disimpan dalam kulkas, karena bakteri dan spora dalam susu sterilisasi sudah mati akibat proses pemanasan dengan suhu yang sangat tinggi. Tapi, bila kemasan sudah dibuka sebaiknya susu langsung dihabiskan.

Susu UHT

UHT (Ultra High Temperature) merupakan salah satu cara untuk mensterilisasi susu. Pada metode ini, susu dipanaskan pada suhu 130-140°C dengan waktu yang sangat singkat sekitar 2-4 detik, cuma beberapa detik saja. Pemanasan dengan suhu yang tinggi ini membuat susu UHT tergolong steril dan tahan lebih lama dibanding susu pasteurisasi. Pada proses ini, kandungan vitamin tertentu juga bisa berkurang terutama vitamin B1, B6 dan B12. Dalam banyak jenis susu UHT, produsen menambahkan zat gizi (fortifikasi) yang rentan panas segera setelah proses UHT, sehingga kandungan vitaminnya tetap memenuhi standar minimal bahkan bisa lebih tinggi. Oleh karena itu, sangat penting bagi konsumen untuk membaca label pada kemasan sebelum membelinya.

Susu UHT biasa dikemas dalam kemasan berlapis yang terdiri atas beberapa bahan seperti kardus, alumunium foil, dan polietilena. Kemasan tersebut bisa menjaga susu tetap steril sehingga aman walaupun ngga disimpan di kulkas. Susu UHT biasanya bisa bertahan hingga 1 tahun bila disimpan dalam kulkas dan bertahan hingga 6-9 bulan kalau disimpan di suhu 20˚C. Tapi, pastikan kamu menyimpan susu UHT yang sudah dibuka dalam kulkas dengan tertutup rapat dan jangan disimpan terlalu lama, ya.

susu yang diolah dengan cara UHT
Foto: Freepik.com

Nah, jadi itulah tiga metode pengolahan susu yang paling banyak digunakan. Pastikan kamu menyimpan susu di tempat yang benar ya, Sahabat Sehat! 

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti STP

Referensi

Barraquio, V. I. 2014. Which Milk is Fresh? International Journal of Dairy Processing & Research. https://scidoc.org/articlepdfs/IJDPR/IJDPR-01-201.pdf Diakses pada 28 Juni 2021. 

Cifelli, C. J., Maples, I. S., dan Miller, G. D. 2010. Pasteurization: Implications for Food Safety and Nutrition. Nutrition Today. https://www.researchgate.net/publication/232131444_Pasteurization_Implications_for_Food_Safety_and_Nutrition Diakses pada 28 Juni 2021.

Voicu, G., Constantin, G. A., Stefan, E. M., Tudor, P., Munteanu, M. G., dan Zelanski, T. 2019. Aspects Regarding The Aseptic Packaging of Food Products. Acta Technica Corvinensis-Bulletin of Engineering. https://www.researchgate.net/publication/331327261_ASPECTS_REGARDING_THE_ASEPTIC_PACKAGING_OF_FOOD_PRODUCTS Diakses pada 28 Juni 2021

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.