Pertimbangkan 4 Hal Ini, Sebelum Menjadi Flexitarian!

Halo Teman Sehat! Apa kamu pernah mendengar istilah “Flexitarian“? Yap, flexitarian berasal dari kata flexible dan vegetarian yang kalau diartikan adalah kelompok vegetarian yang kadang-kadang juga makan daging, ikan, dan produk hewani lainnya, Teman Sehat!

Menurut data Food and Agriculture Organization (FAO) tahun 2013, tren konsumsi daging masih meningkat dari tahun 1961 hingga 2009. Namun, di beberapa wilayah seperti Amerika Serikat dan Eropa Barat konsumsi daging sedikit menurun pada tahun 1989 hingga 2009. Penurunan ini dipengaruhi oleh beragam faktor yang juga dikaitkan dengan peningkatan jumlah penganut flexitarian.

Berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh YouGov (2013) pernah menyatakan kalau alasan utama masyarakat cenderung mengurangi daging adalah buat melindungi hewan, menghemat uang, menjamin mutu makanan, dan alasan kesehatan.

Berbagai faktor lain seperti faktor lingkungan turut andil loh dalam penerapan pola hidup yang satu ini. Faktor lingkungan seperti keamanan pangan global dan isu carbon footprint juga menyebabkan penurunan konsumsi daging. Tapi, untuk jadi flexitaria ngga semudah itu ya, karena ada banyak hal yang harus Teman Sehat pertimbangkan!

1. Perhatikan kebiasaan makan

Ini faktor yang paling utama ya, Teman Sehat! Bila kamu terbiasa mengonsumsi daging setiap hari tentunya akan merasa aneh bila dalam sehari ngga menemukan daging dalam menu makanan. Namun seiring berjalannya waktu, Teman Sehat akan terbiasa mengganti daging dengan protein nabati atau alternatif lainnya.

2. Faktor budaya

Faktor budaya juga bisa mempengaruhi Teman Sehat untuk menjadi flexitarian. Sebagai contoh, orang-orang di kawasan Mediterania akan cenderung lebih mudah menjadi flexitarian karena lingkungan yang terbiasa menerapkan diet Mediterania. Kalau di Indonesia? Daging masih jadi salah satu menu populer ya!

3. Faktor biaya

Ketika Teman Sehat memutuskan untuk menjadi flexitarian, alokasi biaya bahan makanan tentu akan sedikit berubah. Sebagian uang yang biasa digunakan untuk membeli daging dapat dihemat atau digunakan untuk membeli sayur, buah, dan sereal misalnya. Tentunya untuk menjadi flexitarian Teman Sehat memerlukan informasi lebih tentang alternatif daging. Teman Sehat dapat memenuhi kebutuhan protein dari tahu, tempe atau kacang-kacangan sedangkan lemak dapat diperoleh dari minyak kelapa atau buah alpukat.

4. Isu kesehatan terkait

Isu kesehatan juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Berbagai hasil penelitian tentang risiko kesehatan akibat konsumsi daging menjadi alasan sebagian orang memilih mengurangi konsumsi daging, salah satunya adalah risiko kanker kolorektal dan atherosklerosis. Adanya temuan mikroba pada daging seperti Campylobacter dan E.Coli juga berisiko membahayakan tubuh. Tapi, Teman Sehat juga harus mecari tau apa aja dampak negatif dari gaya hidup yang satu ini.

Jadi, Teman Sehat udah tau kan apa aja yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan menjadi flexitarian? Dampak positif dari flexitarian tentunya belum terlalu tampak saat ini, namun tak bisa dipungkiri bahwa budaya flexitarian dan pengurangan konsumsi daging saat ini sudah ditemukan di beberapa belahan dunia. So, selamat memutuskan dengan bijak ya, Teman Sehat!

REFERENSI

  1. Dibb, S & Fitzpatrick, I. 2014. Let’s Talk about Meat: Changing Dietary Behaviour for The 21st Century. eating-better.org.
  2. Wyness, L, Weichselbaum, E, O’Connor, A, Williams, EB, Benelam, B, Riley, H & Stanner, S. Red Meat in The Diet: An Update. British Nutrition Foundation Nutrition Bulletin, 2011 (36), pp. 34-77.
  3. McAfee, AJ, McSorley, EM, Cuskelly, GJ, Moss, BW, Wallace, JMW, Bonham, MP & Fearon, AM. Red Meat Consumption: An Overview of The Risks and Benefits. Meat Science, 2010 (84), pp. 1-13.
Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *