Teman Sehat, pernahkah kamu merasa kesal saat melihat tumpukan kemasan plastik di tempat sampah? Bahkan pernah berpikir untuk menghabiskan kopi dengan wadahnya? Memangnya bisa? Ternyata para peneliti dan ahli di industri pangan sedang berupaya membuat inovasinya. Salah satunya yaitu penggunaan edible packaging atau kemasan yang bisa dimakan. Yuk, simak beberapa faktanya di sini!
Asal mulanya
Mobilitas konsumen yang semakin tinggi, memaksa produsen untuk terus meningkatkan efisiensi dari setiap produknya agar tetap bisa dinikmati. Salah satunya dengan menggunakan kemasan. Sebanyak 78 juta ton kemasan plastik diproduksi setiap tahunnya, namun hanya sekitar 14% yang bisa di daur ulang.

Apa kalian bisa bayangkan ke mana sisa 86% lainnya? Penggunaan plastik sebagai bahan kemasan pangan akan terus meningkat seiring dengan tingginya permintaan untuk melakukan take-out. Oleh karena itu, mulai banyak dilakukan penelitian untuk mengembangkan kemasan ramah lingkungan, salah satunya dengan membuat edible packaging.
Perkembangannya
Edible packaging terbuat dari bahan-bahan seperti gula, agar, pati tanaman (kentang, jagung), bahkan hingga jamur. Beberapa perusahaan besar sudah mulai menerapkan penggunaannya. Mulai dari pembungkus permen, cup cake hingga gelas.

Jika dibandingkan dengan plastik, tentu saja kemasan ini, lebih mudah terurai, sehingga ngga membentuk timbunan sampah. Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan edible packaging juga cukup menarik perhatian masyarakat. Salah satu perusahaan Indonesia, Evoware juga telah membuat kemasan sachet untuk bumbu mi instan, pouch untuk kopi dan pembungkus burger yang bisa dimakan, loh. Keren kan!
Pro dan kontra
Bagaimanapun juga, pasti terdapat pro dan kontra dalam perkembangan suatu inovasi. Pembuatan kemasan ini, membutuhkan teknologi dan biaya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kemasan plastik. Supaya berfungsi dengan baik, kemasan harus bisa menjaga kelembaban, panas, dan masa simpan makanan, serta memiliki daya tahan yang baik. Mungkin penggunaan jenis kemasan ini belum bisa maksimal.

Dalam beberapa kasus, penggunaan jenis kemasan ini tetap harus dilapisi dengan plastik atau kertas wax pada bagian luarnya. Belum lagi pandangan masyarakat yang masih enggan memakan sesuatu yang seharusnya dibuang. Bruce Welt, seorang peneliti chemical engineer and food packaging dari University of Florida pernah berkata “Menggunakan kemasan untuk melindungi makanan. Bukan menggunakan makanan untuk melindungi makanan lainnya”.
Jadi bagaimana menurut kalian untuk penggunaan edible packaging? Sebenarnya masih banyak jenis kemasan lain yang juga ramah untuk lingkungan. Misalnya seperti penggunaan kemasan yang reuseable. Apapun itu sudah jadi kewajiban Teman Sehat, untuk terus menjaga kelestarian lingkungan. Yuk, jaga keseimbangan ekosistem alam dengan meminimalisir penggunaan plastik dan menggunakan prinsip reuseable!
Editor & Proofreader: Firda Shabrina, STP
