Teman Sehat, tahu ngga sih sebanyak 40% anak di dunia sudah menjadi perokok pasif? Seiring peningkatan konsumsi rokok, ternyata efek paparan asap rokok ini sangat berhubungan dengan kejadian stunting, loh. Penelitian menyebutkan bahwa anak dengan orang tua perokok kronis mempunyai risiko stunting 5,5% lebih tinggi, diikuti dengan risiko penurunan kecerdasan dan tentunya akan mengganggu pertumbuhan, perkembangan, kualitas hidup, termasuk risiko penyakit saat dewasa nanti. Wah, bagaimana bisa? Yuk, simak penjelasan berikut ini!
Paparan asap rokok dan anemia
Teman Sehat, peningkatan risiko stunting akibat paparan rokok bisa terjadi secara langsung yakni melalui efek asap rokok itu sendiri. Kamu harus tahu, pengaruh paparan ini sebenarnya sudah terjadi sejak 1000 hari pertama kehidupan atau sejak janin dalam kandungan.

Ibu hamil yang merokok atau menjadi perokok pasif sangat rentan terhadap anemia. Kondisi ini memengaruhi status hemoglobin sel darah merah dan cadangan zat besi anak yang dilahirkan serta tumbuh kembangnya nanti. Faktanya, hemoglobin sebagai pembawa oksigen untuk tubuh juga memiliki kemampuan berikatan dengan karbon monoksida pada rokok. Bahkan ikatan ini lebih kuat dibanding dengan ikatan oksigen dan hemoglobin.
Selanjutnya hemoglobin pun ngga bisa melepas dan mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Proses penyerapan gizi menjadi terganggu sebab sel darah merah juga berfungsi mengirimkan gizi yang berperan untuk tumbuh kembang anak. Akibatnya, pertumbuhan anak menjadi terhambat dan jika ngga segera diatasi akan berisiko stunting.
Selain itu, asap rokok juga menyebabkan infeksi pernapasan seperti bronkitis, pneumonia, asma, dan batuk kronis akibat iritasi. Penyakit-penyakit tersebut akan mengganggu tumbuh kembang anak, bahkan sindroma kematian bayi mendadak atau SIDS (Sudden Infant Death Syndrome). Ternyata, efeknya cukup serius juga ya, Teman Sehat?
Konsumsi rokok dengan indeks belanja keluarga
Nah, pengaruh yang kedua adalah secara ngga langsung yakni dari segi pengaturan keuangan keluarga. Penelitian menyebutkan bahwa pengaruh biaya belanja rokok, membuat orang tua mengurangi “jatah” biaya lainnya, seperti biaya makanan bergizi, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya.

Padahal, telah diketahui bahwa konsumsi rokok semakin meningkat per tahunnya. Ternyata hal ini pun diikuti dengan menurunnya pengeluaran harian lainnya secara signifikan diantaranya beras, protein seperti daging dan ikan, sumber lemak, serta dana pendidikan. Teman sehat tentu memahami bahwa jenis belanja pengeluaran ini akan sangat memengaruhi perkembangan masa depan anak-anak baik secara fisik maupun kognitif.
Teman Sehat, ternyata pencegahan stunting ngga terlepas dari semua aspek kehidupan sehari-hari, bukan? Pencegahan dari paparan polutan lainnya seperti asap kendaraan, biomassa, serta pengaruh dari kebakaran hutan juga ngga kalah penting.
Ingat, gizi seimbang menjadi kunci hidup berkualitas. Dengan ngga merokok maka paparan asap pun berkurang, biaya belanja bahan makanan bergizi pun menjadi lebih tinggi. Jangan lupa share artikel ini ke orang-orang di sekitar kamu, ya!
Editor & Proofreader: Mega Kurniawati, SGz

