
Alergi makanan terjadi ketika sistem imun tubuh bereaksi terhadap suatu protein. Reaksi terhadap alergi beragam mulai dari ringan hingga parah dan mengancam jiwa. Demi melindungi konsumen dari alergi makanan dan hipersensitivitas makanan, lembaga terkait mewajibkan produsen untuk mencantumkan ingredien pada produknya. Pelabelan produk dengan kandungan alergen memuat ketentuan lebih spesifik dibanding produk non-alergen.
Sembilan Alergen Pangan Utama
Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang sangat memperhatikan keamanan pangan, melalui FDA semua produk yang beredar dipantau dan dicek kandungan alergen utama serta harus memenuhi aturan pelabelan.
Berdasar FALCPA 2004 (Food Allergen Labeling and Consumer Protection Act) terdapat delapan alergen pangan utama (Big 8), yakni ikan, kacang pohon, kacang tanah, kedelai, ikan, sheellfish (udang, kerang, lobster, kepiting, tiram, dll), susu, dan telur. Wijen bukan ingredien utama dalam makanan khas AS, tetapi seiring naiknya tren konsumsi makanan Asia yang memakai wijen seperti makanan Korea, Jepang, dan Tiongkok, laporan gejala alergi karenanya juga turut meningkat. Tindakan preventif pun diambil, bahkan sejak 2018 FDA sudah mulai melakukan berbagai studi terkait wijen dan efek alerginya.
Di Uni Eropa, Australia, Kanada dan Israel, wijen sudah lama masuk menjadi alergi pangan utama dan pelabelan spesifik wajib ada di kemasan. Hingga pada 23 April 2021 melalui FASTER Act (Food Allergy Safety, Treatment, Education, and Research), wijen masuk sebagai ingredien ke-9 dalam daftar alergen pangan utama di AS. Aturan pelabelan wijen sebagai alergen akan aktif mulai 23 Januari 2023. Berdasarkan regulasi ini, pernyataan pada label harus memuat jenis alergen dan nama ingredien. Meski pelabelan dibuat sedetail mungkin, konsumen juga wajib memperhatikan label tersembunyi dan memastikan alergen ngga terdapat pada flavouring sehingga dipastikan bahwa produk itu aman dikonsumsi.

Gejala dan Penanganan Alergi Wijen
Reaksi alergi pada wijen bisa menyebabkan anaphylaxis. Kondisi ini ditandai dengan shock, penurunan tekanan darah drastis dan hambatan saluran pernafasan, berakibat pada kesulitan bernafas. Beberapa gejala umum alergi wijen, yakni batuk mendadak, denyut nadi melemah, mual, muntah, gatal di area mulut, sakit pada bagian dada, dan wajah terlihat seperti demam.
Pada kasus alergi wijen parah, penderita akan disuntik dengan epinephrine. Hal ini dikarenakan epinephrine (adrenalin) mampu membalikkan respons anaphylaxis. Epinephrine bisa membuat otot-otot saluran pernapasan menjadi lebih lemas dan ketegangan pembuluh darah meningkat. Kamu bisa menggunakan epinephrine sesuai resep dokter, setelah dipastikan bahwa kamu memiliki reaksi serius terhadap suatu alergen.
Risiko Domino Alergi Wijen
Bila kamu memiliki alergi wijen, ada kemungkinan kamu juga memiliki alergi terhadap kacang dan biji-bijian lainnya. Alergi paling umum yang dimiliki penderita alergi wijen, yakni alergi hazelnut dan gandum rye, serta sensitif terhadap kacang pohon seperti almond, pistachio, walnut, dan kacang brazil. Mengingat bahaya kesehatan dari alergen, konsumen perlu lebih bijak untuk memilih produk dan memperhatikan label dengan seksama. Ketika kamu hendak memesan makanan di restoran, pastikan juga ngga ada ingredien yang menjadi alergen pada menu yang dipesan.
Nah, Sahabat Sehat apakah kamu memiliki alergi wijen atau alergi makanan lainnya? Jika iya, lebih berhati-hati dengan pilihan makanan dan ada baiknya konsultasi dengan dokter untuk informasi lebih lanjut terkait hal ini, ya. Be cautious, stay safe, be healthy!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
