Entomophagy, Serangga Alternatif Sumber Protein

Sahabat Sehat, pernahkah terlintas di pikiran untuk memasukan serangga dalam menu makan? Atau mungkin kamu sudah pernah mencobanya? Konsumsi serangga telah menjadi tren pangan sejak 2013, ketika FAO menerbitkan dokumen tentang potensi serangga sebagai makanan dan pakan. Tren ini disebut dengan entomophagy.

Entomophagy, serangga alternatif sumber protein
Foto: Pixabay.com

Tren Entomophagy

Secara global, kebutuhan untuk mencari sumber protein alternatif selain daging menjadi concern penting. Hal ini membuat serangga dilirik sebagai alternatif protein. Sebenarnya, serangga telah menjadi bagian dari budaya kuliner di beberapa negara Asia dan Afrika. Sebanyak 3.071 kelompok etnis di 130 negara memanfaatkan serangga sebagai elemen penting dalam makanan. Serangga bisa dimakan pada berbagai tahap kehidupan termasuk telur, nimfa, dan dewasa, tergantung pada spesies dan metode pengolahannya. Di Indonesia sendiri, ulat sagu merupakan bagian menu harian bagi masyarakat Papua, terutama daerah pesisir.

Kandungan Gizi

Secara global, serangga yang paling banyak dikonsumsi adalah seperti kumbang (Coleoptera: 31%), ulat (Lepidoptera: 18%), lebah, tawon, dan semut (Hymenoptera: 14 %), belalang, belalang dan jangkrik (Orthoptera: 13%), jangkrik, wereng, wereng, serangga sisik, dan kutu sejati (Hemiptera: 10%), rayap (Isoptera: 3%), capung (Odonata: 3%), lalat (Diptera: 2%), dan lainnya (5%).

Kandungan kalori diperkirakan sekitar 293–762 kilokalori per 100 g bahan kering. Kandungan protein sekitar 7–48 g/100 g berat pada serangga segar. Serangga kaya akan lemak, terutama asam lemak tak jenuh ganda, omega-3 dan omega-6. Kandungan garam mineral juga ngga kalah loh, seperti mengandung zat besi, seng, kalium, magnesium, tembaga, selenium dan vitamin, terutama vitamin A, B1 (tiamin), B2 (riboflavin) dan B12 dan E.

entomophagy jadikan serangga alternnayif sumber protein
Foto: Pexels.com

Concern dan Peluang Entomophagy

Pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam menggunakan serangga sebagai bahan makanan seperti: kontaminasi mikrobiologis; bahaya toksikologi, seperti bahaya kimia dan antigizi; masalah alergenisitas terkait dengan tipe eksposur, termasuk injeksi, konsumsi, inhalasi, dan kontak kulit. Baik itu entomophagy atau makanan lain, sangat penting untuk memperhatikan aspek segi keamanan pangan dan nilai gizi, untuk mengevaluasi target konsumsi dan pemasarannya.

Aspek kandungan gizi bisa menjadi faktor untuk mempromosikan tren entomophagy. Berbagai penelitian menunjukkan serangga memiliki kandungan gizi yang bervariasi tergantung pada substrat pakan yang diberikan, spesies, tahap metamorfosis dan cara memasak. Serangga bisa menjadi solusi gizi yang affordable, karena kaya protein. Selain itu dapat berkontribusi pada ketahanan pangan dan berpotensi untuk membuka lapangan kerja di bidang peternakan serangga, maupun industri makanan.

Aspek Positif Serangga

Serangga adalah sumber protein yang baik dan bisa mengubah substrat dari sampah organik menjadi protein berkualitas tinggi. Serangga membutuhkan lebih sedikit air dan lebih sedikit tanah untuk dikembangbiakkan. Gas rumah kaca yang dihasilkan juga lebih sedikit daripada ternak konvensional, serta efisiensi konversi zat gizi yang tinggi. Selain itu, serangga juga bisa menjadi alternatif yang layak untuk pakan tradisional untuk peternakan.

Jadi, bagaiamana Sahabat Sehat? Tertarik untuk mengikuti tren entomophagy? Jangan lupa bagikan pendapat kamu di kolom komentar, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Entosense LLC. 2022. Enthomopagy Food security is a significant issue and you can help by adding one ancient food to your diet. https://www.edibleinsects.com/entomophagy/. Diakses 30 Januari 2022.

Galo, Monica. Novel Foods: Insects – Safety Issues in In: Ferranti, P., Berry, E., Anderson, J.R. (Eds.), Encyclopedia of Food Security and Sustainability. Page 294-299. Elsevier Concepts, Oxford.

Hlongwane ZT, Slotow R, Munyai TC. 2020. Nutritional Composition of Edible Insects Consumed in Africa: A Systematic Review. Nutrients. 11;12(9):2786. doi: 10.3390/nu12092786.

Jantzen da Silva Lucas A, Menegon de Oliveira L, da Rocha M, Prentice C. 2019. Edible insects: An alternative of nutritional, functional and bioactive compounds. Food Chem. 1;311:126022. doi: 10.1016/j.foodchem.2019.126022.

Lang, A. 2021. All You Need to Know About Eating Ants. https://www.healthline.com/nutrition/eating-ants#popular-dishes. Diakses 30 Januari 2022.

Raheem D, Raposo A, Oluwole OB, Nieuwland M, Saraiva A, Carrascosa C. 2019. Entomophagy: Nutritional, ecological, safety and legislation aspects. Food Res Int. ;126:108672. doi: 10.1016/j.foodres.2019.108672.

Ramos-Elorduy, J. 2009 Anthropo-entomophagy: Cultures, evolution and sustainability. Entomological Research. 39(5): 271-288. doi:10.1111/j.1748-5967.2009.00238.x. 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.