
Foto: Pexels.com
Sahabat Sehat, pernahkah kamu patah hati? Jika pernah, apa yang kamu rasakan saat itu? Terlintas kah benak kamu bahwa ketika patah hati, tubuh juga akan memberikan respon signifikan atas perasaan tersebut. Faktanya, sensasi yang serasa membuat patah aral itu bukan sekedar imajinasi, loh!
Sindrom Patah Hati
Dilansir dari website Johns Hopkins Medicine, sindrom patah hati secara ilmiah dikenal sebagai stress kardiomiopati. Kondisi ini terjadi ketika jantung mengalami “stress akut mendadak”, yang berpotensi melemahkan otot jantung dalam tempo waktu singkat. Penyebab utama stres kardiopati adalah stress emosional atau fisik. Stres emosional seperti kesedihan, ketakutan, dan bahkan kemarahan ekstrem. Stresor fisik termasuk demam tinggi, stroke, kejang, hipotensi, pendarahan hebat, dan kesulitan bernapas.
Gejala Sindrom Patah Hati
Gejala sindrom patah hati memiliki kemiripan gejala serangan jantung, termasuk nyeri pada dada, sesak napas, keringat berlebih, dan pusing. Gejala ini bisa terjadi segera setelah beberapa menit atau berjam-jam setelah peristiwa yang membuat stres secara emosional atau fisik. Berbeda dengan serangan jantung yang disebabkan oleh penyumbatan dan pembekuan darah pada arteri koroner, sindrom patah hati disebabkan oleh sel-sel jantung yang dikejutkan oleh adrenalin dan hormon stress lainnya. Adrenalin dan hormon stres inilah yang menyebabkan pelemahan otot jantung mendadak.
Stres dan Pelemahan Otot Jantung
Stres memicu tubuh merilis hormon dan protein seperti adrenalin dan noradrenalin yang dimaksudkan untuk membantu mengatasi stres. Otot jantung bisa kewalahan dalam menghadapi adrenalin yang tiba-tiba diproduksi dalam jumlah besar sebagai respons terhadap stres.
Adrenalin yang berlebihan dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah kecil yang memasok darah ke jantung. Adrenalin dalam jumlah besar berikatan dengan sel jantung dan menyebabkan kalsium masuk ke dalam sel. Asupan kalsium berlebih bisa mengganggu kontraksi otot jantung. Efek adrenalin pada jantung selama mengalami sindrom patah hati bersifat sementara dan sepenuhnya reversibel — jantung biasanya pulih sepenuhnya dalam beberapa hari atau minggu.

Bahayanya pada Kelompok Berisiko
Sindrom patah hati bisa mengancam jiwa. Dalam beberapa kasus, dapat menyebabkan kelemahan otot jantung yang parah yang mengakibatkan gagal jantung kongestif, hipotensi, detak jantung tidak normal. Perempuan paruh baya lebih berisiko mengalami sindrom patah hati, tapi hingga saat ini belum fiketahui secara pasti alasannya. Dokter menduga itu mungkin karena kadar estrogen yang lebih rendah. Faktor risiko lain yang mendorong sindrom patah hati termasuk riwayat kecemasan, depresi atau penyakit neurologis.
Perempuan paruh baya yang memiliki pernikahan ngga harmonis juga rentan terhadap penyakit jantung. Studi National Social Life, Health and Aging Project menyebutkan kualitas perkawinan memiliki efek yang lebih besar pada kesehatan jantung perempuan daripada laki-laki. Hal ini bisa disebabkan karena perempuan cenderung menginternalisasi perasaan negatif sehingga meningkatkan perasaan tertekan dan memicu masalah kardiovaskular. Studi ini melibatkan 1.200 pria dan wanita yang sudah menikah dengan rentang usia 57-85 tahun.
Bagaimana menanganinya?
Pada fase awal, kardiologis meresepkan obat standar untuk pelemahan otot jantung, tergantung pada beberapa faktor termasuk detak jantung dan tekanan darah. Dokter mungkin menyarankan program rehabilitasi jantung. Menghindari situasi stres dan intervensi untuk mengurangi stres seperti biofeedback, meditasi, yoga, rehabilitasi fisik dan olahraga akan sangat membantu untuk beberapa pasien dengan sindrom patah hati.
Sahabat Sehat, sindrom patah hati bukan sekedar imajinasi. Sangat normal kamu merasa seolah dunia berakhir ketika mengalaminya, tapi jangan sampai berlarut. Segera cari teman untuk berbagi dan lakukan berbagai aktivitas menyenangkan untuk mengatasinya. You can through it.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
