Halo Sahabat Sehat! Steroid merupakan salah satu golongan obat yang memiliki efek terapi sebagai anti peradangan. Sering disebut “obat dewa”, obat ini dikenal akan kemampuannya yang cepat dalam mengobati berbagai penyakit.
Apa itu steroid?
Tubuh memiliki kemampuan dalam menghasilkan hormon steroid secara alami. Fungsinya beragam, yaitu mengatur metabolisme karbohidrat, protein, lemak, mengelola cairan tubuh, terlibat dalam sistem pertahanan tubuh, hingga proses pembentukan tulang.

“Obat dewa” disini adalah steroid buatan, yang sering disebut sebagai singkatan dari kortikosteroid. Gunanya untuk meningkatkan hormon steroid dalam tubuh, juga berfungsi untuk menekan kerja sistem kekebalan tubuh secara berlebihan.
Jenis obat kortikosteroid yang banyak dijumpai di masyarakat adalah prednison, metilprednisolon, deksametason, hidrokortison, triamsinolon, dan lainnya. Oabt ini digunakan untuk mengatasi berbagai keluhan, mulai dari gatal, bengkak, flu, badan pegal, alergi, asma hingga autoimun.
Dampak penggunaan kortikosteroid berlebih
Cakupan penggunaan steroid buatan yang sering ditemui dalam dunia kedokteran menyebabkan obat ini ngga memiliki kesesuaian dengan indikasi, dosis, maupun lama pemberian. Potensi efek samping luas yang ngga diinginkan pun rentan terjadi, tentunya berdasarkan rasionalitas penggunaannya.
Pada dasarnya, khasiat kortikosteroid ditentukan oleh potensi jenis steroid yang digunakan. Derajat ringan, sedang hingga kuat akan berpengaruh terhadap efek samping yang muncul. Semakin ringan potensi steroid dan pendeknya durasi pemakaian, maka risiko efek sampingnya pun minimal.
Jenis steroid terbagi menjadi dua, yakni bekerja secara sistemik dan lokal. Penggunaan berlebihan kortikosteroid sistemik, baik melalui oral maupun penyuntikan, bisa menimbulkan efek berupa peningkatan tekanan darah, diabetes, maag atau tukak lambung, pendarahan pada saluran cerna, gangguan emosi, dan mudah terkena infeksi.
Sedangkan efek samping kortikosteroid lokal seperti salep, suntik, atau uap, bisa menimbulkan efek tergantung pada pemakaiannya. Misalnya, penggunaan salep berlebihan menyebabkan kulit menjadi menipis, berisiko tinggi infeksi kulit, dan penyembuhan luka bisa terhambat.
Penggunaan kortikosteroid lebih dari 2 minggu berisiko menimbulkan efek yang serius. Pada kasus yang berat, dampak negatifnya bisa muncul sindrom Cushing yang ditandai dengan pembengkakan pada area tubuh tertentu, penumpukan lemak di wajah, gangguan haid dan pertumbuhan rambut yang ngga sesuai tempatnya.

Cara aman menggunakan steroid
Efek samping yang berbahaya bisa muncul akibat ketidaksesuaian antara aturan yang dianjurkan dengan pemakaiannya. Langkah aman yang bisa dilakukan, yaitu gunakan spacer saat menggunakan kortikosteroid inhalasi untuk meminimalisir jamur pada mulut dan tenggorokan, hindari minum obat saat perut kosong, minimalkan olesan salep pada area lipatan tubuh, serta lakukan penyuntikan pada tempat yang berbeda.
Sahabat Sehat, kortikosteroid ngga dianjurkan untuk dikonsumsi secara bebas, ya. Artinya, obat ini harus digunakan sesuai petunjuk dokter dan ngga boleh dihentikan secara tiba-tiba. Hal ini akan menyebabkan terjadinya sindrom lain yang disebut sindrom Addison. Jadi, gunakanlah dengan bijak sesaui aturan penggunaannya.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
