Umumnya, sosok ideal perempuan adalah bersikap manis, feminin, hangat, ceria, dan penyanyang. Kriteria tersebut sangat melekat di masyarakat umum dan dijadikan pedoman untuk mengukur kepribadian seorang perempuan. Sifat baik tersebut banyak ditanamkan orang tua dalam pola pengasuhan.
Hal ini kemudian bisa berkembang menjadi sikap selalu ingin menyenangkan orang lain, tumbuh menjadi sosok yang sesuai persepsi masyarakat, dan berusaha menjadi sosok sempurna. Ternyata, upaya tersebut mengarah pada good girl syndrome dan tentu saja mengurangi kebahagiaan karena diri sendiri tidak bebas.

Apa Ciri Good Girl Syndrome?
Seorang perempuan yang baik digambarkan dengan beberapa kriteria, meliputi penyayang, hangat, ceria, lemah lembut, sopan, dan setia. Perempuan lebih diterima dan dinilai baik saat mereka bisa menjadi sosok tersebut. Persepsi ini menjadi suatu hal yang membebani dan menimbulkan tekanan. Pemikiran harus menjadi sosok perempuan baik ini menjadi akar dari timbulnya good girl syndrome. Kondisi ini mirip seperti people pleaser, namun bedanya adalah lebih mengarah pada karakter perempuan.
Berbagai kriteria perempuan baik tersebut menjadi dasar ciri good girl syndrome. Pertama, selalu mengatakan “ya” agar orang lain merasa senang. Kedua, tidak mau mengganggu atau merepotkan orang lain. Berikutnya, selalu memperhatikan penilaian buruk orang lain dan memaksa diri untuk selalu berprestasi.
Ciri berikutnya adalah cenderung menghindari konflik, sehingga tidak berani mengkritik atau memperbaiki hal yang salah. Selebihnya, cirinya adalah lebih suka memberi dibandingkan menerima hingga rela mengorbankan diri demi kesenangan orang lain.

Bahaya Good Girl Syndrome
Berdasarkan berbagai ciri di atas, dilansir dari laman SehatQ, ada berbagai bahaya dari seorang perempuan yang mengalami good girl syndrome. Pertama, tidak berani berkata “tidak” karena memilih menjadi seseorang yang selalu terlihat bersikap baik, menyenangkan orang lain, dan memenuhi ekspektasi orang lain. Hal ini justru membuatnya kewalahan karena kehabisan energi serta waktu. Kedua, dibelenggu ketakutan karena kekhawatiran tidak memenuhi persepsi yang tertanam sejak dulu untuk menjadi perempuan yang lemah lembut dan sopan.
Ketiga, menjadi sosok yang lemah karena tidak berani menyuarakan pendapat. Hal ini didasari oleh pilihan ingin bersikap sopan dan menghargai. Jika terus berlanjut, maka bisa menjebaknya dalam kebiasaan tidak tega dan sulit menolak hal yang tidak disukai. Keempat, rentan dimanipulasi dan dimanfaatkan karena tidak berani berkata “tidak”. Kelima, menjadi terlalu naif karena menilai semua orang itu baik dan berkarakter sama.
Cara Mengatasi Good Girl Syndrome
Tidak ada kata terlambat untuk terbebas dari kondisi ini. Sahabat Sehat bisa berproses dengan melakukan beberapa hal. Tips sederhana yang dapat dilakukan di tahap awal adalah berani berkata “tidak” untuk sesuatu yang tidak disukai, membuat tidak nyaman, dan merugikan. Berikutnya, kurangilah rasa bersalah dan tidak tega pada semua hal. Mulailah mencintai diri sendiri dan menjalankan hidup berdasarkan pilihan sendiri.
Tahap berikutnya adalah menanamkan prinsip yang dimiliki dan mantapkan keteguhan hati. Jika ada orang lain yang tidak menghargaimu, maka bersikaplah tegas dan jangan diam saja. Bangunlah rasa percaya diri untuk mengetahui kelebihanmu dibandingkan kekurangan, sehingga terpacu untuk menghargai diri. Terakhir, tanamkan pola pikir bahwa perempuan yang baik itu tidak harus memenuhi ekspektasi semua orang, bukan kewajibanmu untuk membahagiakan orang lain dengan mengorbankan kebebasan diri sendiri.
Di era sekarang ini memang banyak tekanan sosial yang menimbulkan berbagai gangguan, termasuk good girl syndrome. Berbagai cara di atas bisa kamu terapkan untuk menjadi perempuan baik, namun tetap bahagia. Mencintai diri sendiri dengan tetap bersikap sesuai norma dan tidak mengambil hak orang lain adalah sosok good girl yang sebenarnya.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
