
Sahabat Sehat, tahukah kamu kalau kematian ibu saat ini masih menjadi masalah di berbagai dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan data Sistem Registrasi Sampel (SRS) Litbangkes Kemenkes RI 2016, hipertensi dalam kehamilan yang salah satu jenisnya adalah preeklampsia menempati urutan pertama penyebab kematian di Indonesia.
Apa itu preeklampsia?
Preeklampsia adalah komplikasi yang bisa terjadi pada ibu hamil dimulai saat usia kehamilan di atas 20 minggu dan bisa menetap kurang lebih sampai dengan 2 bulan pasca persalinan. Komplikasi ini ditandai dengan tekanan darah yang mencapai angka 140/90 mmHg atau lebih pada 2 kali pengukuran yang berjarak 4-6 jam, dan adanya protein di dalam urine secara berlebihan.
Beberapa gejala yang bisa muncul pada ibu dengan preeklampsia adalah sakit kepala bagian depan, pandangan mata kabur, nyeri di ulu hati, sesak napas, mual dan muntah, pusing dan lemas, produksi urine menurun, berat badan naik secara tiba tiba, bengkak pada tangan, kaki, wajah, dan beberapa bagian tubuh lainnya. Jika kondisi ini ngga ditangani dengan baik, bisa memperbesar kemungkinan terjadinya kejang dan stroke pada ibu, pertumbuhan janin yang terganggu, prematuritas, lepasnya plasenta, bahkan kematian janin di dalam rahim.
Siapa aja yang berisiko?
Penyebab pasti preeklampsia hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Meskipun begitu, terdapat beberapa faktor risiko yang diduga memicu kejadian preeklamsia, yaitu hamil di usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 40 tahun; kehamilan bayi kembar, pertama, atau dari program bayi tabung (in vitro fertilization); jarak kehamilan terlalu dekat (kurang dari 2 tahun) atau terlalu jauh (lebih dari 10 tahun); dan obesitas. Selain itu, ibu dengan riwayat preeklampsia, keluarga dengan preeklampsia, atau riwayat hipertensi, diabetes, penyakit autoimun, penyakit ginjal, dan gangguan darah juga berisiko mengalaminya.

Cara mencegah preeklampsia
Ibu direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin, minimal 6 kali pemeriksaan selama kehamilan. Ini supaya perkembangan berat badan, tekanan darah, dan urin ibu dapat terpantau dengan baik. Didukung dengan pola makan sehat dengan menu seimbang dan menjaga berat badan sejak sebelum hamil atau ketika merencanakan kehamilan. Upaya pencegahan lainnya yang bisa Sahabat Sehat lakukan, yakni berolahraga rutin, menghindari rokok, dan menjauhi minuman beralkohol. Selain itu, mengontrol gula darah juga sangat penting bagi kamu yang menderita diabetes sebagai salah satu faktor risiko kejadian preeklampsia.
Dilansir dari laman Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, dr. Fauzan Achmad Maliki, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) mengatakan bahwa ibu hamil bisa menurunkan risiko preeklampsia dengan cara mengonsumsi suplemen kalsium dan mengonsumsi obat aspirin dosis rendah. Tapi, sebelum itu ada baiknya berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu.
Itulah pembahasan mengenai pencegahan preeklampsia. Ibu hamil perlu waspada dan tetap menjaga kesehatan diri dan janin supaya terhindar dari kondisi ini ya, Sahabat Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
