Efek Pandemi Terhadap Kondisi OCD

Pandemi Covid-19 menyebabkan permasalahan kesehatan yang serius, bukan hanya fisik melainkan juga terhadap kesehatan mental. Dalam beberapa bulan terakhir, telah banyak penelitian mengenai meningkatnya kecemasan dan depresi baik pada pasien psikiatri dan masyarakat umum. Ini tentu juga berhubungan dengan kondisi seseorang dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Kira-kira, seperti apa ya dampaknya, Sahabat Sehat?

Efek Pandemi Terhadap Kondisi OCD
Foto: Unsplash.com

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)

Istilah OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang menyebabkan orang yang mengalaminya banyak menghabiskan waktu untuk melakukan suatu hal secara berulang-ulang. Tentu kondisi ini menimbulkan stress dan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.

Suatu penelitian menujukkan bahwa manusia pada umumnya 84% memiliki rasa cemas atau pikiran mengganggu yang terus berulang-ulang. Bedanya, seseorang dengan OCD akan sulit menghentikan pikiran mengganggu tersebut hingga membuatnya melakukan kegiatan yang sama secara berulang-ulang. Misalnya seperti berulang kali mengecek pintu, saluran gas, mencuci tangan, atau menata sesuatu serapi mungkin hingga ngga boleh ada keselahan sedikitpun. Tapi, sebenarnya perilaku repetitif ini dilakukan untuk mencegah timbulnya ketegangan oleh pikiran obsesif dan mencegah timbulnya permasalahan.

Dampak buruk Covid-19 kondisi OCD

Kegiatan pencegahan penularan virus Covid-19 mengharuskan pemerintah membuat kebijakan ketat berupa karantina atau lock down, menjaga jarak sosial dan isolasi mandiri dari lingkungan. Tanpa sadar, kondisi ini bisa menyebabkan tekanan yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang dengan OCD.

Ada beberapa hal dari pandemi yang memperburuk kondisi OCD, misalnya imbauan mengenai kebiasaan mencuci tangan berulang kali akan memperparah kondisi kondisi seseorang dengan OCD yang melakukan sesuatu secara berulang dan berlebihan. Anjuran tentang hidup bersih dan higienis yang ketat, serta banyaknya muatan informasi terkait virus bisa membuat pasien semakin merasa takut dan cemas. Kondisi ini berpotensi membuat seseorang dengan OCD melakukan tindak pencegahan yang berlebihan untuk “dinormalisasikan”.

pandemi terhadap kondisi OCD
Foto: Unsplash.com

Penanganan OCD di rumah selama pandemi

Peran keluarga sangat penting dalam penanganan OCD. Keluarga disarankan membatasi seseorang yang mengalami OCD untuk mengakses berita atau membaca informasi yang ngga bisa dipertanggung jawabkan atau hoax. Kamu bisa melakukan kegiatan menyenangkan untuk melupakan pikiran yang mengganggu dan menurunkan tingkat kecemasan yang dialami. Meski ada keterbatasan dalam melakukan kegiatan di luar rumah, seseorang dengan OCD tetap perlu melakukan pemantauan kondisi psikologis secara berkala dengan profesional. Kamu bisa melakukan konsultasi secara online dan apabila diberikan obat, pastikan untuk tetap mengonsumsinya sesuai dengan anjuran  dokter yang bertanggung jawab.

Seseorang dengan OCD memerlukan perhatian lebih ditengah pandemi seperti saat ini. Jika orang terdekat Sahabat Sehat mengalami kondisi ini, maka bantulah dengan selalu mengawasi perkembangannya. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

The impact of the COVID-19 pandemic on patients with OCD: Effects of contamination symptoms and remission state before the quarantine in a preliminary naturalistic study https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0165178120311021 . Diakses pada tanggal 29 Januari 2022.

The other side of COVID-19: Impact on obsessive compulsive disorder (OCD) and hoarding. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7151248/pdf/main.pdf.  Diakses pada tanggal 29 Januari 2022.

Penerapan Metode Dempster Shafer Untuk Sistem Deteksi Gangguan Kecemasan Obsessive Compulsive Disorder Berbasis Web. https://www.ejurnal.stmik-budidarma.ac.id/index.php/mib/article/view/2533/1857 . Diakses pada tanggal 29 Januari 2022.

Exacerbation of obsessive compulsive disorder symptoms in children and adolescents during COVID-19 pandemic. https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0165178120319454. Diakses pada tanggal 29 Januari 2022.

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.