Pandemi Covid-19 menyebabkan permasalahan kesehatan yang serius, bukan hanya fisik melainkan juga terhadap kesehatan mental. Dalam beberapa bulan terakhir, telah banyak penelitian mengenai meningkatnya kecemasan dan depresi baik pada pasien psikiatri dan masyarakat umum. Ini tentu juga berhubungan dengan kondisi seseorang dengan Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Kira-kira, seperti apa ya dampaknya, Sahabat Sehat?

Obsessive-Compulsive Disorder (OCD)
Istilah OCD atau Obsessive-Compulsive Disorder merupakan salah satu jenis gangguan kecemasan yang menyebabkan orang yang mengalaminya banyak menghabiskan waktu untuk melakukan suatu hal secara berulang-ulang. Tentu kondisi ini menimbulkan stress dan bisa mengganggu kehidupan sehari-hari.
Suatu penelitian menujukkan bahwa manusia pada umumnya 84% memiliki rasa cemas atau pikiran mengganggu yang terus berulang-ulang. Bedanya, seseorang dengan OCD akan sulit menghentikan pikiran mengganggu tersebut hingga membuatnya melakukan kegiatan yang sama secara berulang-ulang. Misalnya seperti berulang kali mengecek pintu, saluran gas, mencuci tangan, atau menata sesuatu serapi mungkin hingga ngga boleh ada keselahan sedikitpun. Tapi, sebenarnya perilaku repetitif ini dilakukan untuk mencegah timbulnya ketegangan oleh pikiran obsesif dan mencegah timbulnya permasalahan.
Dampak buruk Covid-19 kondisi OCD
Kegiatan pencegahan penularan virus Covid-19 mengharuskan pemerintah membuat kebijakan ketat berupa karantina atau lock down, menjaga jarak sosial dan isolasi mandiri dari lingkungan. Tanpa sadar, kondisi ini bisa menyebabkan tekanan yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang dengan OCD.
Ada beberapa hal dari pandemi yang memperburuk kondisi OCD, misalnya imbauan mengenai kebiasaan mencuci tangan berulang kali akan memperparah kondisi kondisi seseorang dengan OCD yang melakukan sesuatu secara berulang dan berlebihan. Anjuran tentang hidup bersih dan higienis yang ketat, serta banyaknya muatan informasi terkait virus bisa membuat pasien semakin merasa takut dan cemas. Kondisi ini berpotensi membuat seseorang dengan OCD melakukan tindak pencegahan yang berlebihan untuk “dinormalisasikan”.

Penanganan OCD di rumah selama pandemi
Peran keluarga sangat penting dalam penanganan OCD. Keluarga disarankan membatasi seseorang yang mengalami OCD untuk mengakses berita atau membaca informasi yang ngga bisa dipertanggung jawabkan atau hoax. Kamu bisa melakukan kegiatan menyenangkan untuk melupakan pikiran yang mengganggu dan menurunkan tingkat kecemasan yang dialami. Meski ada keterbatasan dalam melakukan kegiatan di luar rumah, seseorang dengan OCD tetap perlu melakukan pemantauan kondisi psikologis secara berkala dengan profesional. Kamu bisa melakukan konsultasi secara online dan apabila diberikan obat, pastikan untuk tetap mengonsumsinya sesuai dengan anjuran dokter yang bertanggung jawab.
Seseorang dengan OCD memerlukan perhatian lebih ditengah pandemi seperti saat ini. Jika orang terdekat Sahabat Sehat mengalami kondisi ini, maka bantulah dengan selalu mengawasi perkembangannya. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP