Fenomena Hikikomori, Ketika Pemuda Suka Menyendiri

Sahabat Sehat, pernahkah kamu merasa kesepian dan terisolasi dari lingkungan sosialmu? Penarikan diri dari lingkungan sosial dalam jangka waktu yang panjang ternyata memiliki istilahnya sendiri, yakni hikikomori. Bermula dari fenomena yang dijumpai pada pemuda Jepang, ternyata fenomena ini juga ditemukan di berbagai belahan dunia lainnya. Yuk, simak penjelasan berikut!

Apa itu hikikomori?

Berasal dari kata hiku (“menarik”) dan komoru (“mengasingkan”), hikikomori merupakan kondisi psiko-sosiologis yang ditandai dengan penarikan sosial yang berkepanjangan dan parah untuk jangka waktu setidaknya 6 bulan. Hikikomori lebih banyak dijumpai pada laki-laki dibandingkan perempuan.

Fenomena ini banyak dialami oleh remaja dan pemuda. Pasalnya, adanya gadget untuk mengakses media sosial, video games, dan berbagai aplikasi interaktif semakin mendukung mereka untuk mengurung diri dalam kamar. Dalam jangka panjang, rendahnya aktivitas seseorang akibat hikikomori dapat menimbulkan permasalahan kesehatan kronis dan permasalahan psikologis.

mengenal apa itu hikikomori
Foto: Freepik.com

Ciri-ciri dan jenis hikikomori

Pada umumnya, ciri seseorang yang mengalami hikikomori, antara lain sering menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, ngga berpartisipasi dalam aktivitas sosial seperti bersekolah atau bekerja, melakukan penarikan diri selama setidaknya 6 bulan, ngga memiliki gangguan psikosis atau retardasi mental sedang atau rendah (IQ < 55 – 50) dan biasanya ngga memiliki teman dekat.

Terdapat dua jenis hikikomori, yakni hikikomori tipe garis keras (hard core) dan tipe ringan (soft). Seseorang dengan hikikomori tipe garis keras cenderung ngga pernah meninggalkan ruangannya dan ngga pernah berbicara dengan orang lain, termasuk keluarganya. Sementara itu, seseorang dengan hikikomori tipe ringan terkadang masih bepergian dan berbicara dengan orang lain.

Faktor penyebab hikikomori

Terdapat beberapa hal yang diduga menjadi faktor penyebab hikikomori:

Ketergantungan tinggi pada orang tua atau keluarga yang terlalu protektif

Kedua hal tersebut bisa membuat seseorang memiliki kemandirian yang rendah dan ngga punya kesempatan untuk melakukan eksplorasi. Dampaknya, perkembangan psikososialnya bisa terhambat dan membuatnya memiliki kemampuan sosial yang rendah. Selain itu, berada dalam keluarga yang selalu menyediakan uang, makanan, dan tempat tinggal untuk seseorang yang sudah dewasa juga menimbulkan kecenderungan seseorang untuk terlalu bergantung.

Tekanan sosial yang tinggi

Adanya keharusan untuk mengikuti norma dan standar sosial yang tinggi bisa membuat seseorang membatasi pergaulan karena merasa minder. Menarik diri dari lingkungan demikian justru dirasa mempermudah perkembangan diri karena ngga merasa tertekan.

Adanya permasalahan keluarga

Kondisi rendahnya dukungan keluarga besar, broken home, kematian anggota keluarga, dan disfungsi dinamika keluarga dan pengasuhan bisa memicu penarikan diri dan hikikomori. Berada dalam keluarga yang jarang berbincang membuat seseorang ngga tahu cara berkomunikasi yang baik dan berempati. 

cara mengatasi seseorang dengan kondisi hikikomori
Foto: Freepik.com

Cara mengatasi hikikomori

Pemerintah Jepang menyarankan 4 tahap yang bisa dilakukan untuk mengatasi hikikomori, yaitu cobalah beri dukungan kepada keluarga serta upayakan untuk melakukan kontak awal dengan individu yang melakukan hikikomori supaya bisa dilakukan penilaian. Kamu juga bisa memberi dukungan kepada individu dengan hikikomori dan menyarankan untuk melakukan terapi berbasis kelompok. Selain itu, cobalah untuk mengajaknya untuk menjalankan kegiatan partisipasi sosial. 

Empat tahap penanganan hikikomori tersebut diharapkan bisa menghilangkan rasa kesepian dan menimbulkan rasa nyaman. Kedua hal tersebut kemudian diharapkan dapat meningkatkan interaksi sosial dengan orang yang mengalami kondisi ini.. 

Ngga hanya pada pemuda Jepang, perilaku menyendiri yang ngga sehat bisa terjadi pada siapa saja. Oleh karenanya, penting bagi Sahabat Sehat untuk mengetahui tentang hikikomori. Semoga informasi ini bermanfaat, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Ferrara, P., Franceschini, G., Corsello, G., Vural, M., Pettoello-Mantovani, M., dan Pop, T.L. 2020. The Hikikomori Phenomenon of Social Withdrawal: An Emerging Condition Involving Youth’s Mental Health and Social Participation. The Journal of Pediatrics, 225: 286-288. https://www.jpeds.com/article/S0022-3476(20)30843-X/fulltext

Kato, T.A., Kanba, S., dan Teo, A.R. 2018. Hikikomori: experience in Japan and international relevance. World Psychiatry, 17(1): 105-106. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5775123/

Li, T.M.H. dan Wong, P.W.C. 2015. Youth social withdrawal behavior (hikikomori): A systematic review of qualitative and quantitative studies. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry. https://journals.sagepub.com/doi/10.1177/0004867415581179

Pozza, A., Coluccia, A., Kato, T., Gaetani, M., dan Ferretti, F. 2019. The ‘Hikikomori’ syndrome: worldwide prevalence and co-occuring major psychiatric disorders: a systematic review and meta-analysis protocol. BMJ Open, 9(9): e025213. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6756420/

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published.