Makan Sendiri atau Makan Bareng, Apa Pengaruhnya terhadap Kesehatan?

Halo Teman Sehat! Makan ngga cuma menjadi aktivitas untuk mengisi perut dan melangsungkan kehidupan, makan juga menjadi bagian dari aktivitas sosial bahkan rekreasional. Nah, kamu termasuk yang lebih senang makan sendiri atau bareng teman/keluarga/pacar? Sebenarnya ada ngga sih pengaruh makan sendiri atau makan bareng terhadap kesehatan?

Sumber: pixabay.com

Kualitas makan

Penelitian tentang kualitas makan pada lansia yang dilakukan di Jepang menunjukkan bahwa lansia yang makan sendiri memiliki efek negatif terhadap kualitas makannya. Makan seorang diri membuat seseorang makan dengan tidak seimbang. Akan tetapi beberapa orang menganggap dengan sendirian membuat mereka lebih efisien dalam makan dan tren baru ini telah diadaptasi mengikuti perkembangan zaman yang cenderung individualis.

Makan bersama memiliki dampak positif terhadap berbagai kelompok umur. Pada populasi lansia, makan bersama terbukti meningkatkan kualitas diet mereka. Makan bersama dalam sebuah keluarga juga terbukti meningkatkan kebiasaan makan yang sehat, khususnya terhadap para pelajar. Faktanya, pemilihan makanan dalam sehari sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar dan makan sendiri atau bersama memiliki peran besar terhadap pemilihan makanan seseorang.

Sumber: pixabay.com

Ketika makan sendiri, orang cenderung memilih makanan yang sederhana dan cepat dalam penyajiannya. Dampak lainnya, orang yang makan sendiri mengalami kesulitan untuk makan dengan seimbang, khususnya untuk memenuhi zat gizi mikro (seperti vitamin dan mineral) karena terbatasnya konsumsi sayur dan buah. Sebuah penelitian di Korea juga menunjukkan hal serupa. Perubahan gaya hidup yang terjadi di Korea memunculkan kebiasaan makan sendiri. Ketika kualitas makannya dibandingkan, ternyata orang yang lebih banyak makan sendiri memiliki kualitas diet yang rendah dibandingkan yang tidak. Hal ini juga dirasakan pada kalangan ekonomi menengah ke atas, berpendidikan tinggi, dan memiliki pekerjaan yang prestisius juga mengalami masalah dalam kualitas dietnya.

Kesehatan mental

Sumber: pixabay.com

Penelitian yang dilakukan pada komunitas lansia di Jepang menunjukkan adanya hubungan antara makan sendiri dengan gejala depresi. “Tinggal bersama orang lain akan tetapi makan sendiri” merupakan salah satu faktor yang dapat memprediksi terjadinya depresi dan risikonya lebih tinggi dibandingkan dengan “tinggal sendiri”. Hal ini bisa disebabkan karena kurangnya komunikasi selama makan menyebabkan perasaan kesepian dan suasana hati yang murung. Penelitian panjang yang dilakukan di Thailand pada orang dewasa menunjukkan hasil yang serupa. Frekuensi makan sendiri yang tinggi berhubungan dengan perasaan ngga bahagia, dan sebaliknya makan bersama dan saling berbagi makanan (sharing meals) bisa meningkatkan kebahagiaan.

Nah, bisa dipahami ya Teman Sehat ternyata makan bersama cenderung membawa pengaruh positif dalam segi kualitas makanan yang dikonsumsi dan kesehatan mental dibandingkan dengan makan sendiri. Yang ngga kalah penting, Teman Sehat juga harus memperhatikan kelengkapan zat gizi makro maupun mikro, khususnya asupan sayur dan buah. Berhubung dimasa pandemi, harus lebih bijaksana juga ya jika sedang makan bersama!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Referensi
  1. Chae W, Ju YJ, Shin J, Jang S, Park E. Association between eating behaviour and diet quality : eating alone vs . eating with others. Nutr J. 2018;17(117):1–12.
  2. Kuroda A, Tanaka T, Dds HH, Ohara Y, Dds TK, Furuya H, et al. Eating Alone as Social Disengagement is Strongly Associated With Depressive Symptoms in Japanese Community-Dwelling Older Adults. J Am Med Dir Assoc [Internet]. 2015;16(7):578–85. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.jamda.2015.01.078
  3. Yiengprugsawan V, Banwell C, Takeda W. Health , Happiness and Eating Together : What Can a Large Thai Cohort Study Tell Us ? Glob J Health Sci. 2015;7(4):270–7.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.