Di negara jazirah Eropa dan Amerika, semarak natal selalu dibarengi dengan snack wajib berupa gingerbread. Camilan berbahan dasar jahe ini diasosiakan kuat dengan susana natal. Gingerbread sendiri hadir dalam berbagai bentuk, misalnya berbentuk rumah, bangunan, gingerbread men atau gingersnaps.
Sejarah Gingerbread
Gingerbread berasal dari kata Latin ‘zingiber’ yang berarti jahe yang diawetkan. Asal muasal gingerbread ngga terekam jelas dalam sejarah. Diduga gingerbread pertama kali dikenal pada abad ke-15 hingga ke-16 di Jerman. Biskuit disusun menyerupai rumah dengan hiasan rempah (eksotik di abad itu) dan frosting untuk meniru salju, menjadi kreasi paling diminati saat musim dingin.

Rempah merupakan ingredien mahal pada waktu itu dan hanya tersedia saat hari penting. Oleh karena itu, gingerbread menjadi camilan yang selalu ada saat natal. Secara berkesinambungan, kini bentuk gingerbread semakin variatif, tersedia dalam berbagai bentuk, digunakan sebagai dekorasi digantungan pohon natal dan paling iconic dalam bentuk rumah dihiasi berbagai permen dan cokelat. Menurut catatan sejarah awal abad ke-17, gingerbread dikenalkan oleh imigran Jerman di Amerika sebagai bagian acara pameran kue.
Gingerbread dalam Literatur dan Budaya Pop
Gingerbread secara intrinsik dikaitkan dengan dongeng Hansel dan Gretel karya Grimm Bersaudara pada 1812. Dalam cerita, kakak beradik tersebut tersesat di hutan. Mereka tiba di sebuah rumah yang terbuat dari roti jahe yang dilapisi frosting dan permen yang dihuni penyihir jahat. Dia berteman dengan mereka, membuat mereka gemuk dan mencoba memakannya. Untungnya, dengan kepandaiannya mereka bisa lolos dari si penyihir.
Selain Hansel dan Gretel, pada tahun 1875, sebuah artikel terkenal muncul di Majalah St. Nicholas berjudul The Gingerbread Boy. Dalam cerita pendek itu, kue jahe hidup dalam bentuk anak laki-laki dan suka membuat kekacauan. Setelah mengganggu seorang pensiunan, pemotong rumput, dan hewan-hewan, dia mengejek seekor rubah – dan akhirnya menemui takdirnya sebagai “makan malam“.
Hansel dan Gretel, serta The Gingerbread Boy menempatkan gingerbread dalam bagian budaya popular. Makanan ini juga menjadi bagian literatur klasik, dalam Love’s Labor Lost karya Shakespear, karakter Costard mengatakan “Jika aku punya satu penny saja di dunia, aku tentunya akan membeli gingerbread”.

Resep Gingerbread dan Manfaat Jahe
Resep gingerbread beragam dan hampir setiap keluarga memiliki resep tersendiri. Biasanya, ingredien yang digunakan adalah tepung terigu, jahe giling, kayu manis, mentega, gula merah, telur dan soda bikarbonat, serta rempah lain (sesuai selera). Kandungan kalori beragam, bergantung pada ukuran biskuit. Sebanyak 3 ons gingerbread mengandung 340 kalori, kemasan 1,4 ons mengandung 160 kalori. Biskuit padat kalori ini setidanyaknya mengandung 114 kalori setiap ons-nya.
Jahe merupakan bahan penting dalam gingerbread, selain memberikan rasa sedikit pedas dan menyegarkan, jahe juga kaya akan manfaat kesehatan. Jahe mengandung gingerol yang terbukti melancarkan pencernaan, mengurangi rasa mual dan membantu melawan flu dan demam. Gingerol memiliki efek anti inflamasi dan antioksidan.
Sebuah review pada jurnal Food and Function mengungkapkan asosiasi positif jahe dengan obesitas dan penurunan berat. Penelitian Bartels et al. juga telah membuktikan, pemberian jahe (500 mg dan 1 g selama 3-12 minggu) berefek positif untuk mengobati osteoarthritis dan mengurangi rasa sakit pada bagian lutut.
Nah, Sahabat Sehat sekarang lebih tahu kan dengan tradisi gingerbread dan manfaat jahe.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
