Banyak yang bilang kalau perempuan itu biasanya cenderung lebih emosional dibandingkan laki-laki. Hal ini juga yang mendasari banyak orang berpikiran kalau perempuan lebih rawan mengalami gangguan mental. Kira-kira benar tidak ya pemikiran ini? Sahabat Sehat, bahas sama-sama yuk sambil melihat beberapa hasil penelitian yang sudah pernah dilakukan!

Perempuan dan risikonya terhadap gangguan mental
Mengenai gangguan mental sendiri, memang faktanya ada perbedaan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan lebih mungkin untuk didiagnosa mengalami gangguan mental internal, seperti gangguan kecemasan gangguan tidur, depresi dan PTSD. Sementara laki-laki lebih mungkin untuk mengalami gangguan kekerasan, gangguan antisosial, atau penyalahgunaan zat berbahaya.
Perempuan yang memiliki gangguan kecemasan akan lebih cenderung untuk memendam perasaannya, sehingga menyebabkan dirinya jadi menutup diri, kesepian, dan depresi. Lain halnya dengan laki-laki yang lebih cenderung untuk mengekspresikan perasaannya, sehingga lebih mudah mengarah pada tindakan yang agresif dan impulsif.
Sementara untuk penyakit gangguan psikiatrik, seperti schizophrenia dan gangguan bipolar, memiliki kemungkinan yang sama untuk diidap oleh laki-laki maupun perempuan. Perbedaan yang mungkin muncul karena perbedaan gender adalah pada usia ketika gejala mulai muncul, jenis gejala, dan respon pada pengobatan.
Faktanya, pada laki-laki gejala schizophrenia lebih sering muncul 5-8 tahun lebih cepat dibandingkan pada perempuan. Sedangkan untuk gejalanya, perempuan lebih banyak mengalami halusinasi dan laki-laki lebih banyak mengalami masalah dengan motivasi. Laki-laki juga lebih memiliki kesulitan dalam hal ingatan dan konsentrasi dibandingkan perempuan.
Kenapa lebih banyak dialami perempuan?
Berdasarkan studi yang dilakukan oleh Psikolog Klinis dari Universitas Oxford, Prof Daniel Freeman, ditemukan bahwa perempuan memiliki kemungkinan mengalami gangguan mental 40% lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Perbedaan ini disinyalir disebabkan karena perempuan lebih sering untuk merenung dan berpikir, sehingga lebih fokus untuk terus mengulang masalah dan emosi negatif dibandingkan mencari pemecahan masalahnya. Ditambah lagi, perempuan juga cenderung memandang dirinya dengan sudut pandang yang lebih negatif dibandingkan laki-laki, ini bisa menjadi faktor yang rawan dari berbagai permasalahan kesehatan mental.

Selain faktor di atas, ada juga beberapa faktor lainnya yang bisa terlibat, seperti faktor biologis, sosial, lingkungan sekitar, ataupun faktor psikologis lainnya.
Penanganannya
Melihat perbedaan pada kemungkinan mengalami gangguan mental antara perempuan dan laki-laki, tentu saja penanganannya juga akan berbeda nih Sahabat Sehat. Data yang didapatkan dari beberapa penelitian ini menjadi dasar munculnya dorongan untuk membedakan fokus pencegahan dan pengobatan gangguan mental sesuai gender.
Pada perempuan, pengobatan mungkin bisa difokuskan pada kemampuan kognitif. Bisa juga dengan mengatasi masalah untuk mencegah pemikiran kembali yang terlalu dalam dan bisa mengarah pada perkembangan depresi dan gangguan kecemasan. Sementara pada laki-laki, pengobatan bisa difokusnya untuk merubah perilaku yang cenderung impulsif dan agresif menjadi perilaku yang tidak membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
Kemampuan untuk menjalankan kehidupan secara normal juga bisa menjadi poin penting dalam pengobatan gangguan mental, mulai dari kemampuan berbelanja, mengatur keuangan, bekerja, dan sebagainya. Semua kemampuan ini bisa dimiliki secara berbeda-beda oleh laki-laki dan perempuan.
Nah Sahabat Sehat, apapun gendermu, pahamilah bahwa kesehatan mental itu sangatlah penting. Jika kamu merasa masalahmu sudah terlalu berat, tidak ada salahnya untuk meminta bantuan orang lain untuk meringankannya. Salam Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
