Terapkan 5-2-1-0 untuk Cegah Anak Obesitas!

Halo, Teman Sehat! Pandemi Covid-19 belum terlihat akan berakhir dalam waktu dekat dan mungkin kamu yang sudah mulai merasa jenuh dengan rutinitas yang banyak dihabiskan di rumah, ya?

Nah, ini juga bisa berpengaruh pada perkembangan si kecil yang selalu beraktivitas dari rumah dan berpotensi bikin mereka jadi kurang gerak. Padahal efek dan risiko dari kurangnya aktivitas fisik bisa membuat berat badan dan indeks massa tubuh jadi naik yang berujung pada terjadinya obesitas loh, Teman Sehat. Jadi gimana, ya cara mengatasinya? Simak ulasan berikut yuk.

Foto: Freepik.com

Obesitas pada Anak

Teman Sehat, biasanya obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan asupan energi dari makanan dan energi yang dikeluarkan. Kurangnya pengeluaran energi ini juga bisa disebabkan aktivitas fisik yang kurang, ngga maksimalnya pemecahan komponen makanan tertentu dan rendahnya metabolisme tubuh. Kelebihan energi inilah yang akan disimpan dalam bentuk lemak oleh tubuh.

Nah, WHO menyebutkan bahwa anak dikategorikan risiko gizi lebih jika kurva berat badan menurut tinggi badan berada pada +2 dari simpang baku. Selain itu, anak disebut obesitas jika kurva indeks massa tubuh +3 pada anak usia di bawah 5 tahun dan +2 pada anak sama dengan atau di atas 5 tahun.

Nah, secara fisik biasanya anak obesitas akan menunjukkan ciri pipi tembam, dagu rangkap dengan leher yang tampak pendek, perut membuncit dan berlipat, payudara membesar, kedua tungkai umumnya berbentuk x, paha dalam saling menempel dan pada anak-laki-laki penis tampak kecil dan terbenam. Selain itu, seringkali anak tidur mengorok dan ngga nyenyak sebab sering terbangun pada malam hari, serta berkurangnya konsentrasi belajar di sekolah.

Cegah Obesitas sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

Nah, beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah obesitas diantaranya yaitu, pemberian ASI eksklusif dilanjutkan dengan MPASI secara responsif untuk mengajarkan anak mengenali rasa lapar dan kenyang. Penerapan pola hidup sehat sejak 1000 HPK juga akan membentuk kebiasaan sehat hingga dewasa, baik secara komposisi gizi seimbang maupun cara pemberiannya. Misalnya seperti menjadikan makan sebagai aktivitas yang netral, ngga sambil bermain, berlarian atau menonton televisi, serta bukan menjadikan makan sebagai sarana menghibur atau memuaskan diri bahkan rasa sedih dan tertekan.

Foto: Freepik.com

4 Tips Cegah Obesitas pada Anak

Kamu tentu sudah sering mendengar pengaruh jangka panjang dari obesitas, yakni menurunnya harapan hidup akibat diabetes, hipertensi, jantung, stroke, dan penyakit lainnya. Selain itu, potensi munculnya masalah hormonal dan psikososial saat memasuki fase anak dan remaja.

Nah, kamu bisa praktekkan tips 5-2-1-0 untuk cegah obesitas pada anak, yakni:
5 – Konsumsi 5 porsi buah dan sayur setiap hari sesuai anjuran WHO
2 – Duduk maksimal hanya 2 jam, untuk screen time saat sekolah online, selingi dengan aktivitas fisik ringan selama 10-15 menit setiap jam
1 – Lakukan olahraga ringan-sedang 1 jam setiap hari
0 – Hindari/batasi gula atau 0 gula dan 0 gula tambahan

Teman Sehat, sebenarnya pandemi ini bukan alasan untuk malas bergerak. Rutinitas boleh saja berulang, tetapi aktivitas fisik bisa divariasikan sesuai kemampuan dan kesempatan. Yuk bergerak, salam sehat!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti STP

Referensi

Fransiska, Farah. 2016. Sekilas tentang Obesitas pada Buah Hati. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/sekilas-tentang-obesitas-pada-buah-hati

Julia, Madarina. 2014. Obesitas pada Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia. https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/obesitas-pada-anak

Sahoo, K., et al. 2015. Childhood obesity: causes and consequences. J Family Med Prim Care. 2015 Apr-Jun; 4(2): 187–192. doi: 10.4103/2249-4863.154628. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4408699/

Smith, Justin D., et al. 2020. Prevention and Management of Childhood Obesity and its Psychological and Health Comorbidities. Annu Rev Clin Psychol. 2020 May 7; 16: 351–378. Published online 2020 Feb 25. doi: 10.1146/annurev-clinpsy-100219-060201. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC7259820/

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.