Waspadai Racun Mematikan pada Ikan Buntal

Belum lama ini media sosial baru saja dihebohkan oleh berita pilu dari seorang warga Maluku yang kehilangan istri dan dua orang anaknya setelah mengonsumsi ikan buntal. Faktanya, ini bukanlah kasus kematian pertama akibat keracunan ikan buntal. Pada tahun 2019, kejadian serupa juga menewaskan dua orang warga Probolinggo.

Bukan hanya di Indonesia, kasus keracunan ini juga cukup sering terjadi di wiayah Asia seperti Jepang, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura. Bahkan, setidaknya ada 50 orang di Jepang yang meregang nyawa akibat keracunan ikan buntal setiap tahunnya.

bahaya konsumsi ikan buntal
Foto: Unsplash.com

Ikan buntal mengadung racun!

Beberapa bagian tubuh ikan yang bisa menggembung ketika merasa terancam ini ternyata memang mengandung racun, terutama pada bagian hati, telur, dan kulitnya. Lebih mengejutkan lagi, racun ini 1000 kali lebih mematikan dari sianida. Seseorang bisa kehilangan nyawa hanya dengan mengonsumsi 1,5 – 2 mg racun yang bernama tetrodotoksin (TTX) ini.

Biasanya, gejala keracunan akan muncul mulai dari 10 menit hingga 6 jam setelah racun masuk ke dalam tubuh. Kalau racun ini termakan, kamu akan mengalami beberapa gejala awal, seperti merasa lemas dan mati rasa pada beberapa bagian tubuh, mual dan kehilangan keseimbangan. Kemudian, kamu perlahan akan merasa sulit untuk berbicara, bergerak, dan bernapas. Gejala ini bisa saja berbeda dan menimbulkan komplikasi lain pada beberapa orang.

Berdasarkan dari kasus sebelumnya, orang-orang yang meninggal karena keracunan ikan buntal diakibatkan oleh henti napas. Ini karena tetrodotoksin akan menyerang sistem saraf dan mampu menyebabkan kelumpuhan sistem pernapasan.

Bukan cuma ada di ikan buntal

Ternyata, racun ini bukan hanya ada pada ikan ikan buntal. Beberapa hewan laut lainnya, seperti gurita cincin biru, siput bulan, katak, kepiting lumpur, kadal air, dan cacing pipih juga ditemukan mengandung racun tetrodotoksin. Jumlah racun yang ada pada masing-masing hewan tersebut bisa saja berbeda, tergantung dari jenis dan juga lokasi tempat hewan tersebut hidup.

sashimi ikan buntal
Foto: Unsplash.com

Tapi, apa masih boleh makan ikan buntal?

Bila ditanya boleh atau tidak, sebenarnya memang ikan buntal masih bisa dikonsumsi. Bahkan, ikan ini jadi menu yang cukup populer dan jadi andalan beberapa restoran Jepang, misalnya dengan diolah menjadi sashimi atau tecchiri. Banyak yang bilang ikan buntal punya rasa unik dan tekstur daging yang kenyal.

Hanya saja, ikan ini perlu diolah oleh tangan yang tepat. Ini karena, risiko keracunan akibat makan ikan buntal sangatlah tinggi. Racun pada ikan buntal ngga akan hilang begitu saja meskipun ikan tersebut sudah dibersihkan dan masak menggunakan suhu tinggi. Ditambah lagi tetrodotoksin ngga memiliki warna dan aroma khusus. Jadi, akan sangat sulit untuk memastikan ikan buntal yang sudah disiapkan itu aman atau tidak untuk dikonsumsi.

Kalau sudah begini, langkah paling bijak adalah dengan menghindari konsumsi ikan buntal. Tapi, misalnya Sahabat Sehat lagi pengen banget makan ikan buntal, biarkan mereka yang sudah expert saja deh yang mengolahnya.

Biasanya sih, restoran yang menyediakan menu ikan buntal wajib punya sertifikat khusus. Chef  yang memasak dan mengolah ikan ini juga harus terlatih dan punya surat izin. Umumnya, ikan buntal yang disajikan juga berasal dari hasil budidaya, bukan sembarang ikan yang langsung ditangkap dari alam liar. Bahkan, beberapa jenis ikan buntal yang digunakan dalam menu diperoleh khusus dari penangkaran dan telah memiliki label toxin free atau bebas racun.

Referensi

Liputan6. 2024. Ibu dan 2 Anaknya Tewas Usai Makan Telur Ikan Buntal, Benarkah Tidak Aman untuk Dikonsumsi? https://www.liputan6.com/lifestyle/read/5544879/ibu-dan-2-anaknya-tewas-usai-makan-telur-ikan-buntal-benarkah-tidak-aman-untuk-dikonsumsi

Kompas.com. 2019. Dua Warga di Probolinggo Meninggal usai Makan Ikan Buntal. https://regional.kompas.com/read/2019/02/08/20224311/dua-warga-di-probolinggo-meninggal-usai-makan-ikan-buntal. Diakses pada 8 Maret 2024.

Yang, CC. 2017. Tetrodotoxin. In: Brent, J., et al. Critical Care Toxicology. Springer, Cham. https://doi.org/10.1007/978-3-319-17900-1_39

Katikou P, Gokbulut C, Kosker AR, Campàs M, Ozogul F. 2022. An Updated Review of Tetrodotoxin and Its Peculiarities. Mar Drugs. 20(1):47. doi: 10.3390/md20010047. PMID: 35049902; PMCID: PMC8780202.

ScienceDirect. 2015. Tetraodontidae. https://www.sciencedirect.com/topics/pharmacology-toxicology-and-pharmaceutical-science/tetraodontidae. Diakses pada 8 Maret 2024.

Kotipoyina HR, Kong EL, Chen RJ, et al. Tetrodotoxin Toxicity. 2023. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2024 Jan. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK507714/

 

 

 

 

 

 

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.