Yuk, Kurangi Jejak Karbon dengan Konsumsi Pangan Lokal!

Halo Teman Sehat! Tahukah kamu bahwa ternyata kandungan gizi pada ikan kembung lebih tinggi dari ikan salmon? Garam laut lokal sama kandungan mineralnya, bahkan lebih tinggi yodiumnya dibanding garam Himalaya? Nah, ternyata banyak sekali loh sumber pangan lokal kita yang lebih unggul dari makanan impor yang sedang nge-trend di kalangan masyarakat.

Makanan yang siang santap di meja makan, ternyata harus melewati serangkain proses panjang terlebih dahulu. Pada makanan impor, semakin panjang rantainya maka semakin besar hitungan jejak karbonnya, kontribusinya pun juga semakin besar terhadap pemanasan global. Wah, gimana bisa seperti itu ya? Coba kita simak ulasan berikut.

Jejak karbon dalam sepiring makanan

Teman Sehat, jejak karbon atau carbon footprint yaitu aktivitas manusia yang menghasilkan gas emisi rumah kaca yang dinyatakan dalam karbondioksida ekuivalen. Nah, terkait dengan makanan, jejak karbon ini dihasilkan sejak mulai proses ekstraksi bahan baku, produksi, pengolahan, dan distribusi makanan hingga sampai di piring kita. FYI, 26% pemanasan global ternyata disebabkan oleh proses pengolahan makanan loh! Dari angka ini, penyumbang emisi terbesar adalah produk hewani, disusul produk pertanian, penggunaan lahan, dan proses distribusi makanan.

Pentingnya konsumsi pangan lokal dan musiman

Nah, salah satu kunci penting untuk mengurangi emisi yang disebabkan oleh pengolahan makanan adalah dengan konsumsi pangan lokal. Coba kita perkirakan ya, apabila kita ingin mengkonsumsi ikan yang didapat dari impor, jejak karbon yang dihasilkan mulai dari proses produksi, distribusi, berpindah dari pemasok industri impor, hingga ada di supermarket. Kemudian, kita memasak ikan tersebut di rumah hingga siap untuk disantap, prosesnya sangat panjang dibanding kita membeli dari tetangga yang melakukan budidaya ikan di rumahnya bukan?

Selain itu, ada faktor lain seperti faktor ekonomi, kemandirian pangan, dan keamanan pangan ini sendiri. Teman Sehat pernah mendengar kabar beberapa makanan impor yang ditarik dari peredaran karena ada cemaran bakteri di dalamnya? Nah, resiko ini dapat dikurangi dengan mulai konsumsi pangan lokal dan musiman atau yang mudah dicari untuk memperpendek rantai proses produksi dan distribusi.

Hati-hati dengan bahan makanan yang sedang trend

Ternyata dibalik sesuatu yang sedang trend dikonsumsi masyarakat, ada cerita di balik produksi yang dipaksa memenuhi permintaan pasar yang meningkat tajam loh! Hal ini belum tentu sustainable dan ramah terhadap lingkungan. Sebagai contoh, Quinoa yang merupakan superfood dari pegunungan Andes yang ramai dikonsumsi ternyata menyebabkan penduduk asli kesusahan mendapatkannya. Realitanya, kandungan gizinya pun tidak lebih tinggi dari Sorghum yang dapat kita peroleh secara lokal. Kemudian, Chia seed dengan permintaan pasar yang melambung, menyebabkan petani asli di daratan Meksiko berusaha memproduksi sebanyak-banyaknya hingga tidak memedulikan rotasi tanaman, menggunakan pestisida, dan merusak kualitas tanah.

Nah bagaimana Teman Sehat? Ternyata konsumsi pangan lokal bukan sekadar musabab kita terhadap Indonesia yang kaya sumber dayanya, tapi juga ada misi kemandirian pangan yang menguntungkan masyarakat dan lingkungan kita. Untuk memulai hidup sehat juga ngga sulit, diet clean eating pun tidak perlu mahal, yuk kita terapkan sedikit demi sedikit mulai dari sekarang!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Share

ayo berlangganan linisehat

Dapatkan rujukan dan infografis kesehatan yang fresh, fun dan youthful langsung ke email anda

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *