Bukan Gemuk, Inilah Cara Wujudkan Anak Sehat!

Sahabat Sehat, ngga sedikit yang berpendapat bahwa anak sehat itu harus memiliki tubuh gemuk. Oleh karenanya, orang tua berlomba-lomba supaya anaknya terlihat gemuk dengan memberi makan sebanyak-banyaknya. Tapi, kondisi bandan yang gemuk itu sangat berisiko bagi kesehatan si anak kelak. Yuk, simak penjelasan berikut ini!

penuhi kebutuhan gizi anak
Foto: Freepik.com

Anak Sehat Bukan Berarti Gemuk

Masih ada orang tua yang takut jika anaknya tidak gemuk. Anggapan bahwa telah gagal merawat sang buah hati bisa saja muncul ketika anak memiliki tubuh yang ngga terlihat gemuk. Padahal itu ngga benar, loh! Justru orang tua perlu waspada jika anak mengalami kenaikan berat badan yang berlebih (gemuk).

Anak sehat adalah anak yang memiliki berat badan normal sesuai ketentuan standar antropometri, mengalami kenaikan berat badan setiap bulan sesuai ketentuan, serta terlihat ceria dan lincah. Sahabat Sehat, selalu bawa anak ke posyandu secara rutin untuk melihat tumbuh dan kembangannya. Jika berat badannya ngga naik secara berturut-turut, sebaiknya konsultasikanlah dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan anak.

Makanan yang Tepat untuk Anak

Nah, untuk mendukung tumbuh dan kembangannya, anak perlu diberikan makanan yang tepat sesuai umurnya. Nafsu makan anak perlu diperhatikan karena kelak bisa berakibat fatal pada kekebalan tubuhnya. Berikut ini hal yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan pada anak.

Berikan makanan bergizi seimbang

Gizi seimbang lengkap memenuhi kebutuhan karbohidrat, protein, lemak vitamin, mineral dan cairan pada anak. Sejak dini, anak harus diperkenalkan dengan makanan gizi seimbang. Selain itu, biasakan untuk menerapkan pola hidup sehat dan bersih kepada anak.

Porsi makanan sesuai dengan kebutuhan gizi anak

Kebutuhan gizi ini juga mempertimbangan umur dan berat anak. Kebutuhan gizi yang sesuai akan menghindari anak mengalami kekurangan maupun kelebihan. Jika kekurangan, anak akan mengalami kurang gizi, sedangkan jika berlebih anak berisiko mengalami obesitas.

Berikan makanan yang bervariasi dan sehat

Anak mudah mengalami kebosanan saat makan. Oleh karena itu, orang tua perlu mencoba menyiasatinya dengan memberikan makanan yang bervariasi, baik dari segi bentuk maupun warna namun tetap bergizi seimbang. Selain itu, disarankan untuk menggunakan makanan berbahan lokal daerah tersebut. Berikanlah makanan bersamaan dengan makanan keluarga, supaya anak terbiasa dengan bahan makanan yang ada di rumah.

anak sehat
Foto: Pexels.com

Perlukah Suplemen untuk Anak?

Selain mendapatkan makanan bergizi seimbang, sebagian orang tua memberikan anak suplemen. Sebelum diberikan, kamu sebaiknya memperhatikan beberapa hal, seperti suplemen penambah nafsu makan bisa diberikan pada anak yang mengalami berat badan kurang (underweight) dan mengalami penurunan nafsu makan.

Anak yang mengalami kekurangan hemoglobin (Hb) dalam darah dan seng dengan ciri seperti mengalami pucat dan gampang lelah bisa diberikan suplemen zat gizi yang mengalami defisiensi. Meski begitu, tetap perlu diberikan makanan bergizi seimbang terutama diberikan makanan tinggi protein dan tinggi zat besi.

Anak yang mengalami sakit dan mengalami kekurangan zat gizi tertentu namun ngga bisa diberikan melalui makanan oral, bisa digantikan melalui suplemen. Namun tetap perlu diingat, bahwa pemberian suplemen harus dikonsultasikan terlebih dahulu kepada dokter dan ahli gizi ya.

Nah, Sahabat Sehat itulah penjelasan terkait menjaga kesehatan anak. Jadi, anak sehat itu bukan berarti harus gemuk, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

Sutopo, Djoko. 2019. Funcitonal Food. Jakarta : PT Elex Media Komputindo

Novitasari dkk. Pemberian Makanan Sehat Penunjang Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia 5-6 Tahun Di Tk Islam Mutiara Bunda. https://jurnal.untan.ac.id/index.php/jpdpb/article/view/9051/8995.

Aulina dkk. 2019. Peningkatan Kesehatan Anak Usia Dini dengan Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di TK Kecamatan Candi Sidoarjo. Journal UM Surabaya : Vol 3 No 1 http://journal.um-surabaya.ac.id/index.php/Axiologiya/article/view/1480

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.