Sahabat Sehat, tentunya pernah mendengar mengenai kasus keracunan makanan atau bahkan pernah mengalaminya. Sudah tahukah gejala dan tindakan pertolongan pada kasus keracunan makanan?
Penyebab Keracunan Makanan
Keracunan makanan, biasanya terjadi ketika patogen, baik berupa bakteri, virus, atau parasit mencemari makanan atau minuman yang dikonsumsi. Contoh bakteri patogen diantaranya Campylobacter, E. coli, norovirus, Salmonella, Shigella, Listeria, dan Vibrio. Patogen yang ada dalam makanan biasanya akan terbunuh saat proses pemasakan. Oleh karena itu, seringkali keracunan terjadi ketika seseorang mengonsumsi makanan mentah atau kurang matang.

Gejala Keracunan Makanan
Seseorang yang berusia di atas 65 tahun, lebih muda dari 5 tahun, memiliki sistem kekebalan yang lemah, atau sedang hamil biasanya lebih rentan terhadap keracunan makanan. Gejala keracunan yang seirng ditemukan berupa diare, kram perut, mual, muntah, nafsu makan menurun, sakit kepala, dan demam ringan. Gejala tersebut biasanya hilang dalam waktu sekitar seminggu.
Gejala dianggap parah dan berpotensi mengancam jiwa jika diare berlangsung lebih dari tiga hari, demam mencapai 38,9o C atau lebih tinggi, terdapat darah dalam urin, penglihatan berkunang, kesulitan berbicara atau dehidrasi parah. Gejala mulai terlihat dalam waktu 30 menit atau beberapa minggu setelah mengonsumsi makanan, tergantung pada apa yang menyebabkan infeksi.
Orang yang rentan mengalami keracunan, sebaiknya menghindari konsumsi makanan setengah matang atau mentah dari hewan (seperti daging sapi, babi, ayam, kalkun, telur, atau makanan laut), kecambah mentah atau setengah matang, susu dan jus yang ngga dipasteurisasi atau dipanaskan (mentah), keju lunak seperti jenis queso fresco atau keju susu mentah khas Meksiko, kecuali jika diberi label dibuat dengan susu pasteurisasi.
Pertolongan Pertama Keracunan Makanan
Jika mengalami kram perut, muntah, atau diare, cobalah untuk rehidrasi dengan minum air secara perlahan, karena minum cairan dengan cepat bisa menyebabkan muntah. Hindari menggunakan obat anti-diare atau obat anti-mual, kecuali atas saran pihak medis, terutama jika mengalami diare berdarah. Beberapa jenis obat memperlambat transit tinja atau menekan muntah bisa memperburuk efek keracunan makanan.

Hindari minum antibiotik kecuali diresepkan, karena selain berisiko menyebabkan resistensi ini juga bisa memperburuk gejala yang diderita. Jika saat buang air kecil, urin berwarna terang dan jernih, maka bisa diartikan kamu sudah mendapatkan cukup cairan. Jika tiba-tiba berhenti buang air kecil lebih dari beberapa jam, meskipun sudah cukup minum, maka segeralah mencari pertolongan medis.
Saat berada di ICU dan sudah merasa baik, coba tanyakan tentang tes tinja untuk mengidentifikasi patogen yang membuat kamu sakit. Dalam kasus keracunan makanan dari restoran, jika terindikasi memiliki patogen yang diidentifikasi secara proaktif, minta pihak rumah sakit menghubungi departemen kesehatan setempat, terkait paparan makanan dan perkiraan masa inkubasi patogen.
Tips Meminimalisir Keracunan
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), ada empat langkah untuk menekan terjadinya keracunan makanan, yakni membersihkan tangan, peralatan, dan permukaan tempat memasak; pisahkan daging mentah dan telur dari makanan lain; memasak daging dengan suhu yang tepat; dan masukkan left over ke kulkas dalam waktu dua jam setelah dimasak.
Semoga informasi ini bermanfaat ya, Sahabat Sehat!
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
