Setiap orang mempunyai tipe kepribadiannya masing-masing. Dalam berinteraksi, perlu memahami sifat dan perilaku seseorang. Selain itu, tentu kamu juga perlu tahu kepribadian diri sendiri sebagai upaya evaluasi diri, termasuk evaluasi dari sikap yang tertutup, canggung, atau menghindar karena malu. Sahabat Sehat, hal ini berkaitan dengan avoidant personality disorder, ketika penderitanya merasa tidak percaya diri.

Apa itu avoidant personality disorder?
Avoidant personality disorder (AVPD) merupakan gangguan kepribadian yang penderitanya sering menghindari interaksi sosial. Seseorang dengan tipe kepribadian menghindar ini bersifat pemalu yang berlebihan, cemas, dan merasa takut berlebihan pada penolakan orang lain. Oleh karena itu, akan kesulitan untuk berkomunikasi dan menjalin hubungan dekat dengan orang lain.
Berbagai gejala atau tanda AVPD sering muncul di masa kanak-kanak dan semakin terlihat saat beranjak dewasa. Selain malu dan ketakutan yang berlebihan, seseorang yang mengalami AVPD menunjukkan gejala lain berkaitan dengan rasa percaya diri yang rendah, seperti enggan mencoba hal baru karena merasa tidak mampu menghadapi risikonya, mempunyai pola pikir pesimis, sering memandang negatif dirinya, sulit menentukan keputusan, mempunyai resiliensi diri yang rendah, dan menghindari pekerjaan ataupun aktivitas yang melibatkan interaksi dengan orang lain atau banyak orang. Di samping itu, penderita juga susah atau sama sekali tidak bisa percaya dengan orang lain.
Meskipun demikian, tidak semua gejala tersebut menandakan bahwa seseorang secara pasti mengalami gangguan kepribadian menghindar. Banyak orang juga mempunyai sifat pemalu dan menghindari keramaian, namun bukan karena gangguan tersebut.
Berbagai gejala di atas baru dapat dikatakan mengarah ke AVPD ketika sudah dialami oleh seseorang dalam jangka waktu lama dan membuatnya sulit beraktivitas, serta menjalin hubungan dengan orang lain. Selanjutnya, orang tersebut cenderung sulit mengubah perilakunya, sulit beradaptasi dan berinteraksi, cepat memutuskan hubungan, serta cenderung menarik diri dari lingkungan sosial.
Apa penyebabnya?
Mengetahui berbagai tanda avoidant personality disorder di atas, gangguan kepribadian ini memang serius dan bertolak belakang dengan kebutuhan manusia untuk berinteraksi dengan orang lain. Sebenarnya, apa penyebabnya? Belum diketahui secara pasti apa saja penyebab timbulnya gangguan kepribadian ini.
Akan tetapi, faktor genetik atau keturunan ikut berpengaruh. Selain itu, AVPD ini juga bisa terjadi karena penderitanya pernah mengalami kasus traumatis, seperti pelecehan fisik atau emosional, pola asuh tidak baik, dikhianati oleh orang yang disayangi, kurang kasih sayang orang tua, dan sebagainya.

Penanganan
Sama halnya seperti gangguan kepribadian lainnya, avoidant personality disorder bukan kondisi yang mudah ditangani. Hal tersebut karena seseorang yang mengalaminya mempunyai pola pikir dan perilaku menghindar yang sudah tertanam bertahun-tahun. Bahkan, ngga sedikit yang merasa tidak membutuhkan penanganan. Oleh karenanya, diperlukan pendekatan oleh psikolog atau psikiater dan dilakukan psikoterapi.
Psikoterapi yang bisa dilakukan adalah psikodinamik dan terapi perilaku kognitif. Dilansir dari laman SehatQ, psikodinamik adalah terapi bercerita yang membantu pasien lebih sadar dengan pikirannya dan memahami pengaruh pengalaman masa lalu pada perilakunya di masa sekarang, sehingga mampu memahami dan memecahkan konflik emosionalnya.
Terkait terapi perilaku kognitif, pasien dibimbing untuk mengubah pola pikir dan perilaku menjadi lebih positif, kemudian belajar berinteraksi dan menerima orang lain. Menurut penelitian Afriyenti tahun 2021, terapi perilaku kognitif memberikan perubahan pada pola pikir pasien yaitu menyadari ada pikiran negatif mengenai dirinya yang memengaruhi core belief, sehingga pasien menjadi lebih rasional dan membiasakan diri untuk menggunakan respon alternatif atas pikiran irasional yang muncul.
Dilansir dari laman Alodokter, penderita AVPD juga mendapat penanganan berupa obat-obatan, seperti antidepresan dan obat pereda kecemasan. Obat tersebut umumnya diberikan jika pasien sudah mengalami gangguan mental lainnya, seperti depresi dan gangguan kecemasan.
Itulah penjelasan seputar avoidant personality disorder. Jadi, upayakan mengenali gejala AVPD dan jika mengalaminya segera menjalani pemeriksaan ke psikolog atau psikiater untuk memastikan, mengetahui penyebabnya, dan memperoleh penanganan yang tepat.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
