Sahabat Sehat, apakah kamu pernah mendengar tentang plant-based diet? Pangan berbasis nabati, belakangan ini mulai kembali menarik minat masyarakat. Selain diyakini memiliki manfaat yang baik untuk tubuh, ternyata ada banyak faktor lain yang membuat masyarakat ingin beralih ke tren diet ini.
Sumber Protein di Masa Mendatang

Protein merupakan zat gizi makro yang memiliki peran penting bagi tubuh. Daging biasanya menjadi salah satu sumber protein yang paling banyak diminati. Pesatnya pertumbuhan populasi penduduk membuat permintaan akan pasokan daging terus meningkat. Akibatnya, diperkirakan jumlah kebutuhan dan produksi daging beberapa tahun kedepan menjadi ngga seimbang.
Dalam Webinar PERGIZI PANGAN Seri 61 yang bertemakan “Future Protein Foods and Healthy Balance Diets: Where Are We Going?”, Science and Technology Specialist dari The Good Food Institute Asia Pacific, Dean Powell PhD, menyampaikan bahwa ada tiga solusi untuk mengatasi permasalahan ini.
Dean Powell menjelaskan, “Kita bisa menggunakan “plant-based meat” yang terbuat dari sumber protein nabati untuk menggantikan daging. Memanfaatkan proses fermentasi untuk menghasilkan bahan baku protein, sekaligus meningkatkan rasa. Atau bisa juga dengan menggunakan cultivated meat, daging yang diproduksi melalui teknologi kultur sel.”
Meskipun begitu, penerapan ketiganya untuk skala besar membutuhkan kajian lebih lanjut, terkait adanya kendala seperti terbatasnya infratruktur dan SDM, serta penerapan regulasi yang berlaku.
Tempe atau Tahu?
Di Indonesia sendiri, tempe dan tahu menjadi sumber protein nabati yang paling banyak digemari. Berdasarkan penelitian pada hewan coba yang telah dilakukan, Dr Atik Kridawati MKes, Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat, Universitas Respati Indonesia menyampaikan perbandingan gizi tempe dan tahu, serta pengaruhnya terhadap peningkatan kemampuan kognitif, khususnya bagi perempuan lanjut usia.
“Tempe memiliki kandungan zat gizi dan isoflavon yang lebih tinggi dari tahu. Tempe juga kemungkinan memiliki peran positif bagi kenaikan fungsi kognitif, kenaikan serum estrogen dan menutunkan beta amyloid pada tikus perempuan yang diovariektom. Jadi tempe juga bisa menjadi alternatif bagi perempuan yang menopause.” jelas Dr Atik.
Plant-Based Diet apa yang paling baik?

Ada banyak alasan yang mendasari manusia untuk menerapkan plant-based diet. Mulai dari segi religius, perannya bagi kesehatan, isu-isu terkait lingkungan, hingga berkaitan dengan animal walfare.
“Sebenarnya nenek moyang kita sudah menerapkan plant-based diet. Hanya saja berbeda dari berapa persen porsi plant (pangan nabati) dan non-plant (pangan non-nabati), serta variasi, jumlah dan cara mengonsumsinya.” ujar Prof Dr Hardinsyah MS, Guru Besar IPB University sekaligus Presiden Federation of Asian Nutrition Societies.
“Menurut hasil penilaian berdasarkan empat kriteria yang dipublikasikan media di Amerika, tiga jenis diet yang terbaik, yaitu Mediteranian Diet, DASH Diet dan Flextarian Diet. Diet yang dianggap paling ngga baik, adalah Diet Keto yang masuk ke peringkat 29 dari 30, sedangkan diet vegan berada di peringkat 15 dari total 30 jenis diet. Penilaian ini dilihat dari empat kriteria, yakni sesuai dengan konsep gizi yang baik, aman diterapkan dalam jangka waktu panjang, berhasil memberikan manfaat dan memiliki bukti yang kuat.”
“Apapun dietnya kalau berlebihan tetap ngga baik. Prinsip gizi yang utama adalah beragam, seimbang antara kandungan zat gizi mikro dan makro serta, eating in moderation.” jelas Prof Hardin.
Jadi, apapun pilihan diet yang Sahabat Sehat terapkan, jangan lupakan prinsip gizi tersebut, ya. Jangan lupa juga, nantikan Webinar Seri PERGIZI PANGAN selanjutnya dengan topik menarik lainnya.
