Sahabat Sehat, Penyakit Jantung Koroner (PJK) disebabkan oleh beberapa faktor risiko.
Selain dipengaruhi oleh pola makan dan gaya hidup, ternyata penyakit jantung koroner juga dapat dipengaruhi oleh pengelolaan stres yang tidak baik. Usia remaja hingga dewasa rentan mengalami gejala anxiety, stres, hingga depresi. Hal ini berkaitan dengan semakin tingginya tekanan dari studi, pekerjaan, atau bahkan dari lingkungan. Oleh karena itu, pada usia ini manajemen stres perlu diperhatikan.

Psychology Today dalam artikelnya yang bertajuk “Depressed Young People Are at Risk for Heart Disease” menyebutkan bahwa orang muda dengan gejala depresi, sekalipun tidak kelebihan berat badan, perlu waspada terhadap penyakit jantung koroner ini. Jika tidak menjadi perhatian sejak dini, stres dan depresi ini akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner di masa mendatang. Mengapa demikian?
Stres Tingkatkan Tekanan Darah dan Denyut Jantung
Saat merasakan stres, tubuh akan melepaskan hormon adrenalin. Hormon ini akan meningkatkan tekanan darah dan beban kerja jantung. Selain itu, stres akan meningkatkan denyut jantung sehingga jantung bekerja lebih keras. Selain itu, tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan penebalan otot jantung sehingga jantung akan kesulitan memompa darah. Aliran darah yang terganggu mengakibatkan otot jantung kekurangan oksigen dan nutrisi. Jika stres tidak ditangani dengan baik dan hal ini terus dibiarkan, lama-kelamaan akan mengakibatkan penurunan fungsi kerja otot jantung dan memicu menyakit jantung koroner.
Pelepasan Hormon Stres
Saat seseorang merasa stres, selain hormon adrenalin, tubuh juga akan menghasilkan hormon kortisol sebagai respon alami untuk melawan dan menghadapi sesuatu yang dianggap sebagai ancaman. Meskipun hormon kortisol bermanfaat bagi tubuh dengan menyediakan energi saat tubuh merasa dalam ancaman, hormon ini juga memiliki dampak buruk jika terus menerus disekresikan. Pasalnya, jika stres berlangsung lama dan hormon kortisol disekresikan secara berlebihan, hormon ini akan menyebabkan kerusakan jaringan pembuluh darah dan otot jantung sehingga memicu kejadian penyakit jantung koroner.
Uraian di atas menjelaskan bahwa sangat penting untuk dapat mengelola stres dengan baik ya, Sahabat Sehat! Lalu bagaimana, sih, cara mengelola stres yang baik?

Rutin Melakukan Olahraga
Jangan terlalu lama mengurung diri saat merasa stres. Cobalah untuk rutin melakukan
olahraga. Olahraga terbukti meningkatkan sekresi hormon dopamin atau yang dikenal juga sebagai “hormon bahagia” sehingga tingkat anxiety akan menurun dan meningkatkan perasaan bahagia. Selain itu, saat berolahraga tubuh juga akan menyekresikan hormon bahagia lain, yaitu serotonin dan endorfin yang membuat tubuh lebih rileks dan tenang.
Ubah Pikiran Menjadi Lebih Positif dengan Teknik Relaksasi
Saat sedang merasa stres, pikiran akan dipenuhi dengan hal-hal negatif. Oleh karena itu, pikiran negatif tersebut perlu diubah menjadi lebih positif dengan melakukan relaksasi, seperti yoga dan meditasi. Telah banyak penelitian yang membuktikan bahwa yoga mampu menjernihkan mental, menurunkan tingkat kecemasan, dan memperbaiki mood.
Selain kedua cara di atas, Sahabat Sehat juga bisa melakukan hobi yang disukai, melakukan me time, menerapkan pola hidup sehat, dan tentunya mendekatkan diri kepada Tuhan. Perubahan ke arah positif tentunya dilakukan secara bertahap. Akan tetapi tetap perlu konsisten ya, Sahabat Sehat agar manajemen stres menjadi lebih baik dan tidak memicu risiko terkena penyakit jantung koroner.
Ditulis Oleh:
Ayu Daraninggar Mayangwangi, S.Gz
S1 Gizi Masyarakat, FEMA, IPB University (2019-2023)
Profesi Dietisien, FEMA, IPB University (2024-sekarang)

