Indeks Glikemik dan Diet bagi Penderita Diabetes Mellitus

Halo, Teman Sehat! Jika kamu familiar dengan penyakit diabetes mellitus (DM), tentunya kamu akrab dengan kata indeks glikemik (IG). Kamu mungkin sering mendengar kalau penderita DM dianjurkan mengonsumsi makanan dengan IG rendah. Sebenarnya apa sih IG dan pengaruhnya pada gula darah?

Apakah indeks glikemik itu?

Indeks glikemik (IG) merupakan suatu faktor yang menentukan besarnya pengaruh fisiologis bahan pangan terhadap kadar glukosa dalam darah setelah dikonsumsi. Faktor IG erat kaitannya dengan kandungan karbohidrat dalam suatu bahan pangan. Jadi, istilah indeks glikemik digunakan hanya pada pangan sumber karbohidrat. Umumnya, bahan makanan dengan indeks glikemik rendah memiliki kecepatan meningkatkan glukosa darah lebih lambat dibandingkan dengan makanan dengan indeks glikemik tinggi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi indeks glikemik

Indeks glikemik dalam bahan pangan bersifat tidak tetap, angkanya bisa berubah karena dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya adalah :

  • Jenis karbohidrat yang terkandung. Fruktosa dan sukrosa memiliki perbedaan  IG.
  • Kadar amilosa dan amilopektin. Bahan pangan dengan kandungan amilosa tinggi memiliki IG lebih rendah.
  • Komposisi zat gizi. Adanya protein dan lemak dalam bahan pangan bisa menurunkan indeks glikemiknya.
  • Tingkat kematangan. Biasanya terjadi pada buah-buahan yang memiliki kandungan karbohidrat seperti pisang, semangka, dan apel.
  • Cara pengolahan. Semakin lama bahan pangan diolah maka IG nya akan semakin meningkat.

Kategori indeks glikemik dan contoh bahan makanannya

Menurut penelitian, nilai indeks glikemik dikelompokkan menjadi tiga kategori yaitu:

  • Indeks glikemik rendah : <55

Contoh bahan pangan : bekatul sereal, beras merah, mie berbahan beras dan sagu, jagung manis, pasta dan biscuit sorgum, wortel, brokoli, seledri, tomat, kol, apel, stroberi, pir, kiwi, pisang, jeruk, susu, keju, yogurt, susu almond dan kedelai.

  • Indeks glikemik sedang : 55-70

Contoh bahan pangan : kentang, talas, labu, buah bit, nanas, dan madu.

  • Indeks glikemik tinggi : >70

Contoh bahan pangan : Beras putih, tepung gandum, roti, oat instan, corn flakes, mie instan,  singkong, ubi jalar ungu, susu beras, susu oat, semangka, olahan kue dan biscuit seperti donat, kue beras, cupcakes, biscuit, wafel, dan gula pasir.

Diet makanan IG rendah dan diabetes mellitus

Pengaturan pola makan dengan memperhatikan faktor indeks glikemik menjadi salah satu alternatif diet untuk pencegahan atau terapi pada penderita DM. Menurut penelitian, menjalankan diet makanan IG rendah bisa membantu mengontrol stabilitas glukosa darah pada penderita diabetes mellitus tipe II.

Di lain sisi, diet yang terlalu mengutamakan konsumsi bahan pangan ber-indeks glikemik rendah akan menganggu pola gizi seimbang karena dapat mengabaikan beberapa aspek seperti banyaknya kalori, karbohidrat, dan lemak dalam makanan sehingga terjadi ketidakseimbangan diet dan berisiko meningkatkan berat badan karena biasanya bahan pangan tinggi kalori dan lemak ber-indeks glikemik rendah.

Menjalani diet makanan indeks glikemik rendah hanya menjadi salah satu referensi diet, bukan sebagai acuan utama pada diet diabetes mellitus. Harus diperhatikan, bahwa banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi memberikan efek yang lebih besar pada kenaikan glukosa darah dibandingkan dengan hanya mengacu pada indeks glikemiknya. Artinya, walaupun bahan pangan tersebut memiliki indeks glikemik rendah tapi mengandung karbohidrat yang besar akan lebih berbahaya dibandingkan dengan pangan dengan indeks glikemik tinggi namun kandungan karbohidratnya rendah.

Itulah penjelasan mengenai indeks glikemik, hubungannya dengan glukosa darah,  dan perannya dalam diet bagi penderita DM. Semoga bermanfaat ya, Teman Sehat!

Editor & Proofreader: Fhadilla Amelia, SGz

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.