Kenali 5 Zat Antigizi, Pengganggu Penyerapan Gizi

Zat antigizi adalah komponen dalam bahan pangan yang memungkinkan pengurangan atau bahkan menghambat penyerapan zat gizi dari pangan tersebut. Biasanya banyak ditemukan pada pangan nabati.

Nah, zat antigizi ini sebernarnya merupakan defense mechanism yang menjaga tumbuhan dari ancaman bakteri atau serangga. Berikut ini beberapa zat antimineral yang menghambat ketersediaan mineral buat dimetabolisme oleh tubuh. Check it out!

zat antigizi lektin dalam kacang
Foto: Pixabay.com

Lektin

Lektin akan menghambat penyerapan mineral, yaitu kalsium, besi, fosfor, dan zink. Lektin banyak terkandung pada kacang-kacangan dan gandum utuh. Tapi tenang aja Sahabat Sehat, perendaman dan pemasakan sampai matang bisa dilakukan untuk mengurangi kadarnya pada pangan.

Asam Fitat

Fitat dapat menghambat penyerapan mineral, yaitu magnesium, kalsium, dan zink. Perendaman, perebusan, dan fermentasi menjadi langkah yang bisa dilakukan untuk mengurangi kadar fitat ini.

Penelitian yang dilakukan pada biji petai dalam Jurnal Teknologi Pertanian, menunjukkan bahwa perebusan selama 8 menit menjadi proses pengolahan terbaik untuk menurunkan senyawa asam fitat hingga 75%, dibandingkan dengan pengukusan selama 10 menit atau di goreng selama 2 menit. Pengolahan kukus ataupun rebus juga dapat meningkatkan nilai cerna proteinnya, loh!

Glukosinolat

Banyak terkandung dalam sayuran hijau seperti sawi, kol, brokoli. Kandungan antigizi glukosinolat dapat menghambat penyerapan iodin yang berfungsi mencegah gondok (goiter) dan menjaga kelenjar tiroid bekerja dengan baik. Cara untuk mengurangi zat antigizi ini juga dengan memasak bahan pangan, terutama perebusan.

zat antigizi dalam teh
Foot: Pixabay.com

Oksalat

Antigizi yang satu ini juga banyak ditemukan pada sayur hijau. Oksalat akan menghambat penyerapan kalsium. Pengurangan antigizi ini dapat dilakukan dengan merebus atau mengukus sayuran. Selain ditemukan pada sayuran hijau, oksalat ini juga dapat ditemukan dalam teh. Jadi, sebaiknya ngga disarankan mengonsumsi teh bersamaan dengan pangan yang megandung kalsium.

Tanin

Zat antigizi ini menentang pasangan chick and tea nih, Sahabat Sehat! Alasannya, dapat menghambat penyerapan zat besi pada pangan sumber protein, contohnya daging ayam. Jadi, mengonsumsi pangan yang mengandung tanin dalam jumlah banyak dan sering dapat dikaitkan dengan risiko terjadinya anemia, loh.

Hasil penelitian pada ibu hamil yang dimuat dalam Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup, menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara frekuensi konsumsi teh dengan kejadian anemia. So, mengonsumsi zat antigizi yang berulang telah terbukti mengurangi bioavailabilitas zat besi.

Beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk menghidari penghambatan penyerapan zat gizi oleh tanin yakni, berilah jarak waktu minum teh atau kopi dengan waktu makan, menyeduh teh yang lebih encer, dan menambahkan konsumsi vitamin C untuk membantu meningkatkan penyerapan zat besi.

Nah, itu dia lima zat antigizi pada pangan yang berefek antimineral. Selain yang telah disebutkan di atas, masih ada juga loh zat lain yang berefek antivitamin dan antiprotein. Meskipun begitu, bukan berarti kamu harus menghindari bahan pangan yang mengandung antigizi, sebab udah ada langkah buat meminimalkan efeknya.

Di sisi lain, senyawa antigizi tersebut juga memiliki kemampuan sebagai antioksidan. So, perhatikan aja perpaduan jenis bahan pangan yang Sahabat Sehat konsumsi dan juga pengolahannya, ya!

Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP

Referensi

EdibleIQ.com. 2021. Lets talk about anti-nutrients. Diakses pada 20 Feb 2023 https://edibleiq.com/articles/lets-talk-about-anti-nutrients-infographic/

Andriyani A, Susilowati D. 2022. Hubungan frekuensi konsumsi teh dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III. Jurnal Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Hidup. 7(2): 98-103. http://e-journal.sari-mutiara.ac.id/index.php/Kesehatan_Masyarakat/article/view/3447/2400

Dewi NLKA, Prameswari PND, Cahyaningsih E, Megawati F, Agustini NPD, Juliadi D. 2022. Review: pemanfaatan tanaman sebagai fitoterapi pada diabetes mellitus. USADHA: Jurnal Integrasi Obat Tradisional. 2(1): 31-42. https://e-journal.unmas.ac.id/index.php/ushada/article/view/5562/4267

Maharani P, Santoso U, Rachma YA, Fitriani A, Supriyadi S. 2022. Efek pengolahan konvensional pda kandungan gizi dan anti gizi biji petai (Parkia speciosa Hassk.). Jurnal Teknologi Pertanian. 23(2): 151-164. https://jtp.ub.ac.id/index.php/jtp/article/view/1075/1098

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.