Sahabat Sehat, kamu tentunya sering mendengar istilah doping dalam dunia olahraga. Seringkali isu doping dikaitkan dengan performa atlet yang di luar kewajaran dan juga diikuti dengan anulir kemenangan atau dikeluarkan dari kompetisi. Sebenarnya, apa itu doping dan kenapa penggunaannya sangat tabu.

Apa itu doping?
Doping menjadi masalah global yang membayangi berbagai event olahraga di seluruh dunia. Banyak federasi olahraga internasional yang dipimpin oleh International Olympic Committee (OOC), berusaha menghentikan penyebaran masalah doping, selama setengah abad terakhir. Konvensi Anti-doping Dewan Eropa mendefinisikan doping sebagai penggunaan zat atau metode doping oleh atlet. Dimana zat atau metode tersebut dilarang dan masuk daftar zat yang tidak memenuhi syarat, yang diatur oleh Anti–doping Agency.
Penggunaan doping memiliki risiko kesehatan bagi pemakainya. Bila seorang atlet terdeteksi menggunakan doping, maka atlet itu akan menjalani investigasi dan diberi sanksi. Lebih lanjut, atlet (atau program atletik) melakukan tindakan eksplisit untuk menghindari deteksi, maka memperburuk pelanggaran etika dengan penipuan dan kecurangan.
Prevalensi Penggunaan Doping
Lebih dari 30% atlet yang berpartisipasi dalam Kejuaraan Dunia Atletik 2011 mengaku menggunakan zat terlarang selama berkarir. Menurut penelitian World Anti-Doping Agency (WADA), sebenarnya ada 44% atlet yang menggunakan doping. Namun demikian, hanya 0,5% dari atlet yang diuji yang tertangkap. Seluruh tim atletik dan lapangan Rusia dilarang mengikuti Olimpiade 2016, karena Rusia terbukti mensponsori dan menyetujui program doping bagi atlet mereka.
Jenis Doping
Tergantung legislasi suatu negara, produk doping bisa dibeli di apotek/toko suplemen, atau paling umum di pasar gelap. Menurut Anti–doping Agency, zat atau metode peningkatan kinerja dapat diklasifikasikan sebagai doping, bila memenuhi setidaknya dua dari tiga kriteria, yakni meningkatkan kinerja, menimbulkan ancaman bagi kesehatan atlet, atau melanggar semangat fairplay olahraga.

Penggunaan obat-obatan untuk meningkatkan kinerja dianggap tidak etis dan mencenderai prinsip fairplay. Cara lain untuk meningkatkan performa seperti transfusi darah juga termasuk dalam kategori doping. Beberapa zat terlarang digunakan yang diterbitkan oleh IAAF, yaitu:
Agen androgenik
Contohnya steroid anabolik. Doping ini memungkinkan atlet untuk berlatih lebih keras, pulih lebih cepat dan membentuk lebih banyak otot. Efek samping dapat menyebabkan kerusakan ginjal dan peningkatan agresi.
Stimulan
Jenis ini digunakan untuk mengatasi efek kelelahan dengan meningkatkan detak jantung dan aliran darah. Dapat menyebabkan kecanduan, dalam kasus yang ekstrim, menyebabkan gagal jantung.
Diuretik dan masking agents
Digunakan untuk menghilangkan cairan dari tubuh, dapat menyembunyikan penggunaan obat lain. Dalam olahraga seperti tinju dan pacuan kuda, membantu pesaing “meningkatkan berat badan”.
Analgesik narkotik dan cannabinoid
Nah, kalau yang ini digunakan untuk menutupi rasa sakit yang disebabkan oleh cedera atau kelelahan. Namun, dalam praktiknya dapat memperburuk cedera.
Hormon peptida
Contohnya seperti EPO (erythropoietin) yang mampu meningkatkan curah, kekuatan dan jumlah sel darah merah dan memberi atlet lebih banyak energi – dan HGH (hormon pertumbuhan manusia), untuk membangun otot.
Sahabat Sehat, sekarang kamu tahu kan kenapa doping itu illegal bagi atlet. Tentunya, kamu menginginkan semua pertandingan itu fairplay dan juga atlet berlaga sehat dan jujur.
Editor & Proofreader: Zafira Raharjanti, STP
