Halo Sahabat Sehat! Apakah kamu mengenal gangguan kesehatan mental bernama distimia? Distimia ini memiliki gejala yang hampir mirip dengan depresi. Menurut National Institutes of Health, distimia diperkirakan dapat mempengaruhi 1,5% orang di Amerika dalam 1 tahun.
Apa itu Distimia?
Distimia atau dikenal Persistent Depressive Disorder (PDD) adalah gangguan depresi pada tingkat rendah dan sering terjadi pada perempuan. Distimia juga disebut sebagai gangguan mood kronik yang dapat berlangsung setidaknya 1 tahun pada anak dan remaja, juga 2 tahun untuk orang dewasa.

Ada dua istilah mengenai distimia, yaitu distimia late onset untuk seseorang yang mengalaminya setelah usia 21 tahun dan distimia onset dini, untuk sebutan bagi seseorang yang mengalaminya sebelum usia 21 tahun. Biasanya distimia onset dini ada kaitannya dengan penyerta gangguan kepribadiaan, sedangkan distimia late onset terjadi umumnya dikaitkan dengan adanya masalah kesehatan atau kehilangan orang terdekat pada usia lebih dari 50 tahun.
Tanda dan gejala mengalami Distimia
Gejala distimia sama seperti depresi berat, namun tidak terlalu instens dan tidak terlalu kompleks. Gejalanya yaitu suasana hati sedih, kurang bisa menikmati hal yang disenangi, memiliki nafsu makan yang rendah atau tinggi. Merasa rendah diri, insomnia atau hipersomnia, merasa kelelahan dan kurang berenergi. Kesulitan untuk berkonsentrasi, merasa rendah diri, putus asa dan memiliki pikiran berulang, rencana, maupun upaya tentang kematian atau bunuh diri.

Penyebab mengalami Distimia
Para ahli belum yakin akan penyebab utama dari distimia, namun tampaknya ada beberapa faktor yang terjadi, seperti genetik, biokimia, lingkungan, dan psikologis. Salah satunya stress yang diyakini dapat mengganggu suasana hati seseorang. Sistem yang tidak semestinya pada kerja otak atau jalur sel saraf yang berhubungan dengan amigdala (bagian otak yang mengatur suasana hati) dan bagian otak lain yang terlibat.
Seseorang yang mengidap penyakit kronis atau sedang dalam masa pengobatan juga berisiko mengalami kondisi ini. Selain itu, trauma, kehilangan orang yang dicintai, atau memiliki masalah hubungan sosial pun dapat memicu episode depresi. Nah, episode depresi ini selanjutnya dapat terjadi dengan atau tanpa pemicu yang jelas.
Jika Sahabat Sehat mengalami gejala yang disebutkan di atas, segeralah periksa ke tenaga profesional untuk mendapkan diagnosa dan penanganan yang tepat. Jangan sampai melakuakan self-diagnose, ya.
